Pahlawan Tidak Menungggu

teruntuk anak-anak yang beranjak dewasa

N: Doraemon, bagaimana ini? jika kita tidak cepat bertindak maka robot-robot itu akan tiba di bumi dan menguasai bumi     kita ..

D: Baik. Rencananya adalah, kita arahkan mereka ke dunia cermin yang merupakan tiruan bumi. Kita kalahkan mereka di sana. Tidak akan ada yang terluka, karena memang tidak ada orang di sana.

Cuplikan dialog diatas diambil dari film kartun petualangan nobita dan pasukan robot. Dikisahkan doraemon, nobita dan kawan kawan harus berjuang untuk menyelamatkan bumi dari serangan pasukan robot. Itu adalah salah satu contoh dari sekian banyak tontonan kita semasa kecil, yang sebagian besar mengisahkan bagaimana tokoh utamanya, biasanya anak kecil, berjuang, menjadi pahlawan, melawan orang-orang jahat, menyelamatkan bumi, dan membawa dunia ke kehidupan yang lebih baik.Bahkan kerap dijumpai, anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi tokoh utama dalam film atau kartun yang ditontonnya.

Sungguh indah, masa kecil yang dipenuhi mimpi-mimpi besar dan jiwa kepahlawanan.

Kemudian di tahap kehidupan selanjutnya, ketika kita beranjak dewasa. Sebagian besar memilih untuk hidup biasa-biasa saja. Sesuai dengan alur yang ada di masyarakat. Setelah SMA, lanjut kuliah, cari kerja, menikah, memenuhi kebutuhan hidup dan membahagiakan keluarga. Tampak tidak ada yang salah sepertinya.

Tapi jika mau dipertanyakan kembali, kemana mimpi mimpi besar itu pergi?

Kemana jiwa kepahlawanan itu pergi?

Kenapa yang sekarang ada hanya kepentingan pribadi saja?

Mendapat pekerjaan yang bagus, tunjangan tinggi, membeli mobil mewah, rumah mewah, dan liburan ke luar negeri. Bahkan terkadang, demi tercapainya semua itu ada hak-hak orang lain yang dirampas.

Sedikit sekali, waktu dalam kehidupan kita yang didedikasikan untuk kepentingan orang banyak. Mungkin usia boleh bertambah, tapi tanpa disadari mimpi dan jiwa kepahlawanan masa kecil itu semakin berkurang.

Mungkin kita lupa bahwa di suatu periode kehidupan bangsa ini, ada orang-orang yang bersedia bekerja, berjuang tanpa pamrih bahkan merelakan jiwa dan raganya demi rakyat yang dicintainya. Demi tegaknya ideologi mereka. Demi tegaknya keyakinan mereka. Tidak rela mereka melihat penderitaan rakyat yang ditindas oleh penjajah.  Hati mereka diliputi kerinduan yang mendalam terhadap sebuah bangsa yang merdeka. Mereka adalah pahlawan bangsa. Para pahlawan bangsa, seperti yang selalu di kenalkan kepada setiap anak yang duduk di bangku sekolah dasar.

Tampaknya kita sedikit beruntung. Pahlawan di masa kini tidak perlu mengorbankan raganya. Setidaknya seperti itu kondisi di negara kita, dimana keadaannya aman dan tidak dalam kondisi perang. Tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa kemiskinan, eksploitasi alam bahkan penjarahan sumber daya alam sedang terjadi di negeri kita.

Apakah kita akan berdiam diri saja? Tidak.

Kita harus berbuat, harus bekerja keras, meningkatkan kapasitas diri kita supaya suatu saat nanti mampu berhadapan dan mengalahkan musuh besar tersebut. Mungkin sebuah korporasi raksasa atau bahkan negara adikuasa.

Lalu apakah kita akan menunggu “suatu saat nanti” untuk menjadi pahlawan?? Tidak.

Ingatkah kawan, dalam film dan kartun masa kecil kita, tokoh utamanya tidak menunggu sampai dewasa  ataupun menyerahkan urusan menyelamatkan dunia pada orang dewasa. Tapi mereka, melakukannya saat itu juga, pun masih anak-anak. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Mereka tetap berjuang dengan apa yang bisa mereka lakukan.

Tidak setiap orang bisa mendapat gelar pahlawan. Tapi semua orang bisa menjadi pahlawan. Tentunya kita tidak membicarakan pahlawan dalam definisi kamus besar bahasa Indonesia;orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Pahlawan yang dimaksud adalah orang-orang yang melakukan hal-hal yang membawa manfaat bagi orang lain, bagi bangsa, bagi ummat dalam skala yang berbeda-beda tentunya sesuai dengan kemampuan. Dan semua orang bisa menjadi pahlawan.

Seorang pelajar, bisa menjadi pahlawan dengan membina anak-anak kurang mampu untuk belajar baca tulis, seorang mahasiswa bisa menjadi pahlawan dengan bermanfaat bagi masyarakat sekitar atau bahkan memenangkan lomba esai internasional, seorang presiden bisa menjadi pahlawan dengan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan menjaga kedaulatan bangsa.

Bayangkan kawan, jika setiap orang melakukan demikian, jika 241 juta orang Indonesia melakukan kebaikan-kebaikan yang membawa manfaat bagi orang lain, maka bangsa ini akan cepat menjadi bangsa besar.

Mari kawan ..

Kita bangun lagi mimpi-mimpi dan jiwa kepahlawanan yang dulu pernah hadir dalam diri kita. Karena semua bisa menjadi pahlawan. Tidak perlu menunggu menjad pengusaha ternama ataupun seseorang yang berkuasa. Tapi jadilah pahlawan dari sekarang juga dan dari hal yang kecil yang bisa dilakukan ..

Karena pahlawan tidak menunggu ..

Bandung, 10 November 2011

Afdilla Gheivary

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: