Monthly Archives: March, 2012

Musyawarah Kerja Karisma ITB periode 31.2

Alhamdulillah ..

Dua pekan ini merupakan saat-saat penting bagi Keluarga Remaja Islam Salman (KARISMA) ITB. Pekan lalu kita telah melaksanakan Sidang Istimewa, dimana seorang anggota  LPMPP turun karena alasan kesehatan dan Majelis Permusyawaratan Pembina (MPP) kemudian mengangkat anggotai LPMPP yang baru, dengan harapan dapat memberikan warna baru dan peningkatan kinerja LPMPP.

Setelah seminggu berselang, Continue reading →

Advertisements

Entrepreneurship Project – Walkabout

Hoorrrreeee … !!!

Hari ini rabu, jam 08.50 saya mengumpulkan berkas ujian akhir semester (UAS) dengan tersenyum. UAS di semester 7 ini ditutup dengan mata kuliah entrepreneurship II. Kenapa tersenyum, karena yakin sekali pas mengerjakan. Bisa semua. Dan memang ga banyak yang perlu disiapkan mengenai matkul yang satu ini. karena ga ada teori yang perlu dihapal, atau rumus yang harus dikuasai. Hanya menuliskan, menceritakan bagaimana keberjalanan tugas besar matkul ini, yaitu praktik bisnis yang dikenal dengan nama Entrepreneurship Project (E-Project) Walkabout.

Pada E-Project ini, tim kami bernama YUNO dengan anggota Bayu, Enggar, Kikyo, saya, terakhir Adi sebagai ketua tim. Awalnya memang kami teman sepermainan dan mencobanya seperti apa jika berbisnis bersama. Bisnis yang kami geluti yaitu kentang spiral, kentang yang diulir sedemikian rupa hingga berbentuk spiral, digoreng, ditusuk sate, dan diberi bumbu beraneka rasa serta  saos-mayonaise. Mimpi dari YUNO, menjadi franchisor produk olahan kentang terkemuka di Indonesia.

Perencanaan dan perhitungan matang sudah dilakukan, dengan modal yang cukup besar (untuk ukuran kami) untuk start up, kami memulai menjalankan bisnis ini dengan semangat 45. Optimis penuh!. Memang lelah ketika harus mencari kentang ke pasar, mengolahnya sampai malam, dan harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan stand. Namun ada kepuasan tersendiri ketika ada pembeli yang datang, mencoba kentangnya, dan tersenyum puas. Oh ya, nama kentangnya adalah “kentang cenat cenut”. Sedikit banyak terinspirasi dengan happeningnya boyband di tanah air. Hhe.

Cerita Walkabout pun berlanjut. Di tengah keberjalanannya, anggota tim mulai punya kesibukan masing-masing. Outsource, laporan magang, skripsi adalah hal-hal yang saat itu rentan sekali memicu konflik. Pernah sekali waktu menyiapkan stand seorang diri, padahal harusnya dikerjakan minimal dua orang. Di lain waktu ketua timnya membeli 20 kg kentang di pasar yang jaraknya satu jam, dan membawanya naek motor seorang diri. Dan masih banyak lagi perjuangan, pengorbanan yang dilakukan, yang tidak bisa disebutkan satu-satu. Dalam hati, oh jadi gini rasanya berbisnis.

Hingga akhirnya sampai pada batas waktu dari tugas Walkabout, yaitu bulan Desember. Sedangkan modal belum kembali seutuhnya. Ini menjadi ujian tersendiri bagi kami. Dan ketika presentasi dengan tim Walkabout lainnya, ternyata bisa dihitung tim yang arus kasnya minus, salah satunya kelompok kami. Dan sekarang, bisnis kami sedang break sementara sampai waktu yang sudah ditentukan bersama, dalam rangka menyelesaikan amanah sebagai mahasiswa (asik bahasanya), fokus menyelesaikan skripsi, hingga nantinya kami bertemu lagi untuk membicarakan kelanjutan dari bisnis ini.

Selama perjalanan Walkabout , dari konflik-konflik dan perdebatan yang  dilalui, membawa kami lebih mengenal karakter masing-masing. Dimana mau susah atau senang, sudah kami lalui bersama. Dan ketika mengerjakan UAS tadi, ada bagian soal dimana harus menceritakan kondisi tim selamaWalkabout ini. Senyum-senyum sendiri membayangkan apa kiranya yang ditulis teman lainnya.

Dan seandainya tadi ada soal pertanyaan tentang “bagaimana pendapat anda mengenai efektifitas matkul entrepreneurship II ?”

Dengan yakin akan saya jawab:
Matkul ini sangat baik untuk tetap dipertahankan. Karena lewat matkul ini, mahasiswa tidak hanya mengetahui mengenai teori entrepreneurship. Lebih dari itu, mahasiswa bisa mempraktekan teori itu secara real di kehidupan nyata. Bagaimana menerapkan fungsi manajemen (planning, organizing, actuating, controlling), bagaimana memberkani added value pada produk, bagaimana strategimarketing yang paling sesuai, bagaimana menciptakan system, bagaimana melakukan negoisasi dengan supplier, bagaimana mengatasi konflik dan merubahnya menjadi kekuatan, dan masih banyak lagi manfaat positif yang didapat. Lebih jauh lagi, boleh jadi lewat perantara mata kuliah ini, perlahan bisa merubah kecenderungan sarjana yang mencari kerja menjadi sarjana yang menciptakan pekerjaan, lewat kemampuan entrepreneurshipnya. Boleh jadi, perlahan masalah pengangguran terdidik bisa diselesaikan.

Dan mungkin banyak juga, orang-orang yang menemukan arti persahabatan lewat mata kuliah ini .. 😀

BRAVO ENTREPRENEURSHIP !!! \(^o^)/

foto di stand bazar

foto kentang cenat cenut

rekan tim YUNO:
Adi Susanto
Bayu Ariestya Ramadhan
Enggar Pratiwi
Rizky Oktavia Aftriandy

Gegerkalong, 18 Januari 2012
Afdilla Gheivary

Di sini di tempat ini ..

Di sini di tempat ini,
Lima waktu dalam sehari selalu saja orang-orang dengan syahdunya bergegas menunaikan sholat

Di sini di tempat ini,
Orang-orang mengambil langkah kecli untuk menghadap Rabb di waktu dhuhanya

Disini di tempat ini,
Pemuda-pemuda belajar dan mengajarkan Al-Quran di waktu asharnya

Disini di tempat ini,
Puluhan pemuda berbondong-bondong di tiap tengah dan akhir semester, belajar bersama, menapak cita-cita

Disini di tempat ini,
Pemuda-pemuda duduk melingkar berbagi ilmu, berbagi cerita

Disini di tempat ini,
Pemuda-pemuda membaca Al-Quran di awal berkumpulnya, berbicara mengenai dakwah yang dicintainya, dan doa kifaratul majelis menjadi akhirnya

Di sini di tempat ini
Pemuda-pemuda jauh berangkat dari tempat tinggalnya, sengaja datang untuk mengumandangkan adzan, bertilawah di antara waktu sholatnya

Di sini di tempat ini,
Hati mereka terlanjur terpaut, diliputi kerinduan setiap waktunya, untuk selalu berada di sini di tempat ini ..

“Allahu Rabbi, masukanlah kami dalam golongan pemuda-pemuda yang hatinya terpaut pada rumahMu yang Engkau janjikan pada mereka, untuk mendapat naungan pada hari tiada naungan selain naunganMu. Jadikanlah langkah ini ringan menuju rumahMu, dan resahkan hati kami, jika melihat rumahMu mulai sunyi dari orang-orang yang bertasbih kepadaMu, serta ingatkanlah kami jika hati ini mulai berpaling dari rumahMu.”

Masjid Al-Murosalah, Telkom Learning Center
1 Januari 2012

Hikmah di sudut jalan

Di pagi hari yang cerah itu  aku sedang berjalan- berjalan untuk mencari sedikit udara segar. Ketika sampai di suatu sudut jalan, terlihat ada pemandangan yang menarik, yang mengusik rasa penasaran di hati ini. Tampak dua orang yang sudah sepuh,  sedang sibuk menyiapkan sesuatu.  Mungkin usianya sudah kepala enam atau bahkan lebih.

Perlahan aku dekati mereka. Oh, bapak itu ternyata sedang sibuk menaruh adonan di tungku kayu, dan mengangkat adonan yang sudah matang menjadi serabi. Sedangkan ibu yang disampingnya, tampak merapikan layout dari lapak mereka. Ya. Ternyata mereka suami istri penjual serabi.

Lalu aku hampiri mereka. Sembari kucoba serabi buatan bapak itu, serabi oncom, aku pun memulai percakapan:

“Bapak sama ibu’, sudah lama jualan di sini?”

Sambil tersenyum bapak itu menjawab, “Sudah lama sep,”

Kemudian bapak itu menengadahkan pandangan ke langit, tampak sedang mengingat sesuatu, kemudian berkata“Bapak jualan serabi ini dari tahun ’ 80an.”

“Wah, sudah lama banget ya Pak.. berarti kurang lebih sudah 30 tahun.” jawabku terheran-heran.

Muhun sep, sejak lapangan ini dulunya masih ditanami enceng  gondok  (sambil menunjuk ke arah lapangan basket di seberang jalan), perumahan KPAD ini dulunya juga masih sawah sep ..” ujar ibu’ sambil tersenyum.

Kumaha enak serabinya? Itu ibu’ juga buat peyek udang di toples kaleng, mangga di coba sep..” lanjut ibu’ sembari menunjuk ke arah toples.

muhun bu’ “

Kemudian aku ambil peyek yang ibu’ tawarkan tadi, peyek udang. Rasanya enak, udangnya banyak.

Batinku, bapak-ibu ini sudah puluhan tahun berjualan, tapi kondisi usahanya dan ekonomi mereka masih saja kayak gini. Sederhana.

Aku tatap kembali mereka, bapak yang kembali menuangkan adonan dan ibu menata serabi yang telah matang. Tampak mereka menikmati sekali pekerjaannya. Kembali aku bertanya,

“ Punteun Pak, dari jualan serabi ini apa cukup buat beli kebutuhan bapak-ibu sehari-hari, sama kebutuhan anak-anak juga?” tanyaku.

“Cukup ko sep. Kalo bapak mah, berapapun dapetnya bapak syukuri.  Alhamdulillah juga bapak sama ibu masih sehat, masih bisa jualan sampe sekarang. Anak-anak juga bisa sekolah dan nurut sama orang tua. Itu udah lebih dari cukup.” jawab bapak sambil tersenyum.

Ibu’ juga tersenyum dan mengangguk-angguk mengiyakan jawaban bapak.

“Oh gitu ya pak” aku pun ikut tersenyum.

Aku terenyuh dengan jawaban bapak tadi. Kembali tersadarkan, bahwa kebahagiaan itu tidak selalu diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Mungkin bukan juga jabatan, atau status sosial .. Tapi kebahagiaan itu ada di hati, hati yang selalu bersyukur. Seperti yang dilakukan oleh bapak ini. Yang dengan rasa syukurnya, hal apapun jadi indah, akan menjadi bahagia.

“Jadi berapa bu’? tadi serabinya dua sama peyeknya dua.”

“Jadi tilu rebu sep.”

Lalu setelah selesai membayar aku pamitan

“Hatur nuhun Pak hatur nuhun Bu’ .. saya pulang dulu ”

Sami-sami, mangga sep..” jawab bapak-ibu’ bersamaan.

“Terima kasih bapak dan ibu penjual serabi. Yang sudah jadi jalan hikmah. Yang kembali mengingatkan bahwa bahagia itu ada di hati, hati yang selalu bersyukur”. Gumamku dalam hati. 🙂

 Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian.
(Nabi Muhammad SAW)

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.”
(
 QS. Ibrahim : 7)