Hikmah di sudut jalan

Di pagi hari yang cerah itu  aku sedang berjalan- berjalan untuk mencari sedikit udara segar. Ketika sampai di suatu sudut jalan, terlihat ada pemandangan yang menarik, yang mengusik rasa penasaran di hati ini. Tampak dua orang yang sudah sepuh,  sedang sibuk menyiapkan sesuatu.  Mungkin usianya sudah kepala enam atau bahkan lebih.

Perlahan aku dekati mereka. Oh, bapak itu ternyata sedang sibuk menaruh adonan di tungku kayu, dan mengangkat adonan yang sudah matang menjadi serabi. Sedangkan ibu yang disampingnya, tampak merapikan layout dari lapak mereka. Ya. Ternyata mereka suami istri penjual serabi.

Lalu aku hampiri mereka. Sembari kucoba serabi buatan bapak itu, serabi oncom, aku pun memulai percakapan:

“Bapak sama ibu’, sudah lama jualan di sini?”

Sambil tersenyum bapak itu menjawab, “Sudah lama sep,”

Kemudian bapak itu menengadahkan pandangan ke langit, tampak sedang mengingat sesuatu, kemudian berkata“Bapak jualan serabi ini dari tahun ’ 80an.”

“Wah, sudah lama banget ya Pak.. berarti kurang lebih sudah 30 tahun.” jawabku terheran-heran.

Muhun sep, sejak lapangan ini dulunya masih ditanami enceng  gondok  (sambil menunjuk ke arah lapangan basket di seberang jalan), perumahan KPAD ini dulunya juga masih sawah sep ..” ujar ibu’ sambil tersenyum.

Kumaha enak serabinya? Itu ibu’ juga buat peyek udang di toples kaleng, mangga di coba sep..” lanjut ibu’ sembari menunjuk ke arah toples.

muhun bu’ “

Kemudian aku ambil peyek yang ibu’ tawarkan tadi, peyek udang. Rasanya enak, udangnya banyak.

Batinku, bapak-ibu ini sudah puluhan tahun berjualan, tapi kondisi usahanya dan ekonomi mereka masih saja kayak gini. Sederhana.

Aku tatap kembali mereka, bapak yang kembali menuangkan adonan dan ibu menata serabi yang telah matang. Tampak mereka menikmati sekali pekerjaannya. Kembali aku bertanya,

“ Punteun Pak, dari jualan serabi ini apa cukup buat beli kebutuhan bapak-ibu sehari-hari, sama kebutuhan anak-anak juga?” tanyaku.

“Cukup ko sep. Kalo bapak mah, berapapun dapetnya bapak syukuri.  Alhamdulillah juga bapak sama ibu masih sehat, masih bisa jualan sampe sekarang. Anak-anak juga bisa sekolah dan nurut sama orang tua. Itu udah lebih dari cukup.” jawab bapak sambil tersenyum.

Ibu’ juga tersenyum dan mengangguk-angguk mengiyakan jawaban bapak.

“Oh gitu ya pak” aku pun ikut tersenyum.

Aku terenyuh dengan jawaban bapak tadi. Kembali tersadarkan, bahwa kebahagiaan itu tidak selalu diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Mungkin bukan juga jabatan, atau status sosial .. Tapi kebahagiaan itu ada di hati, hati yang selalu bersyukur. Seperti yang dilakukan oleh bapak ini. Yang dengan rasa syukurnya, hal apapun jadi indah, akan menjadi bahagia.

“Jadi berapa bu’? tadi serabinya dua sama peyeknya dua.”

“Jadi tilu rebu sep.”

Lalu setelah selesai membayar aku pamitan

“Hatur nuhun Pak hatur nuhun Bu’ .. saya pulang dulu ”

Sami-sami, mangga sep..” jawab bapak-ibu’ bersamaan.

“Terima kasih bapak dan ibu penjual serabi. Yang sudah jadi jalan hikmah. Yang kembali mengingatkan bahwa bahagia itu ada di hati, hati yang selalu bersyukur”. Gumamku dalam hati. 🙂

 Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian.
(Nabi Muhammad SAW)

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.”
(
 QS. Ibrahim : 7)

Advertisements

One response

  1. bahagia itu sederhana 🙂
    keep posting, bro 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: