Monthly Archives: April, 2012

Message From Nick Vujicic

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I was born different
But that doesn’t stop me from living my live
And I’m happy

I love soccer so much and I dont play as well as others, of course
But you know in the world cup, there is so much anticipation and excitement
That ‘stirs up’ in all of us and everybody cheers for this success of their own team.
And you know in all games there is losing and winning,
People who moan over, you know, their team not winning and then people who get so excited when they win
Everybody loves to win but we shall not linger on the difference between winning and losing
At teh world cup, most of the fans around the world will experience the loss of their team.

But is losing failing?
At age 8, I wanted to end my life.
I told my mom I wanted to commit suicide and then, age 10, I actually tried
I felt like no hope to live.
I felt like I was so different to everybody else, and there was definitely no future or hope for me.
If I gave up, thinking that that was the end
I would have missed out on so much more.

Life is life.
There are a lots of successes but also lots of failures and it repeats itself again and again.
Should we really despair every time we go through, you know, a failure?
You are saying ‘oh, now I am a failure for the rest of my life
You see, the stairs right in front of me are a huge barrier and one step at a time is what I have to do
If I never try, I’ll never achieve anything.

If I fall down, what do I do?
I’m gonna try again and again because the moment I give up is the moment that I’ll fail.
It is so important that we don’t despair with the results
That we sometimes don’t anticipate whether it is in the soccer game or life.
So embrace the path your team has taken and believe that they will try again with resilience.
Then you will feel the happiness in life again to be able to enjoy the world cup as a true festival as it is, a celebration.

Failure is not important. How you overcome it is.
Feel the life
Feel the game

(Nick James Vujicic)

*ini teks dari dialog Nick di salah satu iklan worldcup 2010. inspiring banget. bagaimana tidak? ditengah keterbatasannya dia tidak minder, bisa bersyukur, dan bangkit, bahkan menginspirasi orang lain. senyumnya sepenuh hati.

Orang minder itu karena dia lebih sibuk melihat kekurangan versi dia daripada berjuta nikmat, kelebihan yang ada pada dirinya.

Advertisements

Yang Kadang Terlupa

 

 

 

 

 

 

 

ada kalanya,
orang asing seperti keluarga sendiri
sedangkan,
keluarga sendiri serasa orang asing.

janganlah sampai seperti itu.. 

Notes about Gamus: Entry Point

Merantaulah, kau akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan,

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang,

Aku melihat air menjadi rusak, karena diam tertahan,

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang,

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa,

Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran,

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam,

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang,

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang,

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

(Imam Syafii)

Ingatan ini kembali ke pertengahan tahun 2008 ketika awal saya masuk kuliah, Continue reading →

Obsesi Tujuh Abad: Muhammad Al Fatih

Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada seorang sultan muda, baru berusia 23 tahun usianya. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya.

Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukan berdiri. “Saudara-saudaraku di jalan Allah, amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya.

Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak baligh, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorangpun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!”

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. hening sekali, tak satupun bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan Al Quran lebih dari sebulan, silakan duduk!”

Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.

“Yang pernah kehilangan hafalan Al Quran nya, silakan duduk!”

Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tak terikut menjadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak baligh, silakan duduk!”

Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegub kencang, dan tubuh menggetarkan.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul bidh, silakan duduk!”

kali ini semua terduduk lemas.

Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang sultan sendiri. Namanya MUHAMMAD AL FATIH. Dan obsesi tujuh abad itu adalah KONSTANTINOPEL

Sejak kecil, ia berada dalam bimbingan Syaikh Aaq Syamsuddin. Mufti di istana Sultan Murad itu sering membacakan untuk Al Fatih sebuah hadist dari Rasulullah saw dari ‘Abdullah ibn ‘Amru ibn Al ‘Ash. Suatu ketika, shahabat Rasulullah yang zuhud, putra penakluk Mesir itu pernah ditanya, “Mana yang lebih dulu dibebaskan, Konstantinopel ataukah Roma?” Syukurlah ‘Abdullah pernah mencatat, bahwa Rasulullah ketika ditanyai pertanyaan yang sama menjawab, Kota Heraclius lebih dahulu. Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.”

Hadist ini begitu menggelorakan Al Fatih kecil, mengusainya, dan membeningkan dirinya untuk menjadi ’sebaik-baik panglima’, atau setidak-tidaknya menjadi anggota ’sebaik-baik pasukan’. Ia menjauhi kehidupan mewah istana, berguru kepada para ulama, beribadah dengan khusyu’-nya.

Ya Allah, jadikan aku sebaik-baik pemimpin, atau sebaik-baik prajurit!”, pintanya dalam doa. Tiap pagi, dari puncak perbukitan di Bursa, dia memandang ke seberang utara Laut Marmara, ke arah Konstantinopel.

Konstantinopel. Visi besar yang bening itu menguasai Al Fatih. Membuatnya mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak dinyana manusia. Seperti ketika dengan kayu gelondongan yang dilumuri lemak sapi, diseberangkannya kapal-kapal perang memasuki perairan Konstantinopel lewat darat karena sebelumnya sulit ditembus dari perairan.

Di jalan cinta para pejuang inilah kita membutuhkan visi yang bening untuk mengokohkan jiwa dan merambatkan cita.

Sumber: ‘Jalan Cinta Para Pejuang’ karya Salim A. Fillah halaman 142-144

Semakin Mengenal Negeri Ini

Semakin aku mengenal negeri ini

semakin banyak persoalan, banyak ketidakidealan yang aku temukan

mulai dari yang dilakukan oleh golongan elit sampai dengan masyarakat kelas bawah

Rumit, kompleks.

Namun tetap saja

aku tidak menemukan alasan untuk acuh terhadap negeri ini

ataupun malah bergabung dalam barisan orang-orang yang berbuat kerusakan

Ada kalanya harus meninggalkan semua kemudahan dan kesenangan yang ada

dan berjibaku di jalan yang aku tahu tidak akan mudah

walaupun tidak tahu secara pasti bagaimana dan harus dari mana memulainya

Pun tahu bahwa persoalannya tidak bisa diselesaikan

tetap saja aku harus melakukan sesuatu ..

Karena sungguh merugi

manusia yang dalam hidupnya  tidak membuat dunia ini menjadi lebih baik ..

Dan katakanlah “Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Quran Surah At Taubah (9) ayat 105 

Medan, 26 Februari 2012

ACEH, Allah mengundang lebih cepat.

Ingatan ini melayang kembali pada bulan November 2011 lalu ketika seorang teman yang sedang berkunjung ke Bandung, mengundang untuk “ganti” berkunjung ke daerah asalnya, Aceh. Jujur, saat itu tidak terpikirkan sama sekali kapan dan bagaimana cara untuk sampai ke sana. Yang saya lakukan saat itu hanya menulis note dengan judul “Ane tunggu di Aceh ya Dil ..”. Semacam doa mungkin. Tiga bulan setelah note itu ditulis, bersama seseorang yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri, Trio Satria Putra,tanpa disangka akhirnya saya benar-benar bisa terbang ke provinsi di ujung paling barat Indonesia itu.

Ternyata Allah mengundang lebih cepat.

Aceh. Sebuah daerah di ujung paling barat Indonesia yang mewarisi berbagai situs sejarah dan menyimpan banyak episode historis. Mulai dari berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, Samudera Pasai, perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda, konflik Aceh, sampai dengan bencana tsunami terbesar yang tercatat dalam sejarah umat manusia. Banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi yang menunjukkan peristiwa bersejarah tersebut. Diantaranya adalah Masjid Baiturrahman, Museum Aceh Besar, dan Museum Tsunami Aceh. Selain dari momen-momen bersejarah tersebut, pesona lain dari Aceh adalah memiliki wisata pantai yang sangat indah, mulai dari pantai Ulee Lhue di Banda Aceh, pantai Lampuuk di Lhoknga Aceh besar dan juga pantai Sabang di Pulau Weh. Ada juga Tugu 0 kilometer di Sabang.

Hal menarik lainnya, seperti yang kita ketahui, bahwa Aceh merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang sejak dahulu menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Saat pertama menginjakkan kaki di tanah Aceh, tepatnya di Bandara Sultan Iskandar Muda, saya dikejutkan dengan bentuk bangunan bandara yang unik. Atapnya berbentuk kubah seperti masjid. Dan ternyata tidak hanya itu, banyak gedung di BandaAceh memiliki bentuk atap yang menyerupai kubah selain juga banyak yang berbentuk seperti rumah adat Aceh.  Di sepanjang jalan tampak beberapa baligho dari  dinas syariat Islam Aceh yang berisi hadist atapun ayat al quran. Papan reklame punhampir tidak ada yang menampilkan wanita dengan aurat yang terbuka.Ternyata usut punya usut peraturan pemerintah di Aceh melarang pemasangan iklan yang menampilkan aurat.  Pun ada yang harus wanita sebagai modelnya, maka dikondisikan dengan aturan yang ada yaitu memakai jilbab. Hampir seluruh masyarakatnya pun memakai jilbab sebagai busana muslimah bagi wanita.

Kata Assalamualaikum sering sekali terdengar sebagai ucapan salamdimana lebih populer dari ucapan selamat pagi/siang/sore. Dan yang paling terasa, masjid-masjid di tengah kota hampir selalu penuh oleh jamaah di setiap waktu shalat fardhu, khususnya di Masjid Baiturrahman yang juga menjadi  icon kota Banda Aceh. Bahkan saya sempat menemukan ada pengemis tua buta di halaman Masjid Baiturrahman yang selalu bershalawat, berdzikir hamdalah ketika ada yang memberi sedekah. Ya. Islam sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Aceh. Walaupun masih perlu banyak perbaikan untuk  penerapan syariat yang sempurna.

Sungguh pemandangan yang syahdu.

Kembali pada peristiwa besar di 2004 silam, jumlah korban jiwa saat itu mencapai kurang lebih250.000 jiwa, jumlah yang sangat besar. Tidak terhitung pula kerugian materi dan kerusakan fisik yang ditimbulkan. Dan peristiwa itu sangatlah baik dikenang oleh masyarakat Aceh dengan mendirikan monumen-monumen;Monumen PLTD Apung,  Monumen Aceh Thanks the World jugaMuseum Tsunami Aceh yangmenunjukkan bahwa di daerah ini pernah terjadi peristiwa besar. Ada juga beberapa tempatpemakaman massal korban tsunami, yang berupa satu lahan terbuka yang diberi pagardan beberapa diantaranya diberi nama “makam syuhada” yang artinya tempat orang-orang yang meninggal ‘syahid’ di jalan Allah.Tidak diketahui siapa dan berapa tepatnya jumlah orang yang dikubur disana.

Namun selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa.

Trauma itu pasti ada. Terlepas dari banyak kejanggalan yang terjadi pada tsunami Aceh;  mayat yang menghitam seperti terbakar, bunyi ledakan sebelum tsunami maupun ada negara yang cepat sekali mengirimkan bantuan, bahkan lebih cepat dari pemerintah Indonesia. Namun banyak pula hikmah yang dapat diambil dibalik peristiwa tersebut. Semenjak kejadian itu, masyarakat Aceh semakin terbuka ke dunia luar,  memposisikan sebagai daerah tujuan wisatayang menawarkan keindahan pesona budaya dan alamserta peristiwa sejarah yang pernah terjadi, dengan membuka kesempatan bagiorang luar untuk melihat lebih dekat seperti apa daerah yang berjuluk serambi mekkah itu. Bahkan, konflik yang sudah terjadi selama 30 tahun di Aceh pun akhirnya menyepakati kata damai.

Kita tidak tahu ini anugerah atau musibah, kita hanya bisa berbaik sangka kepada Allah.

Dan satu hal, orang aceh itu ramah-ramah dan baik sekali perlakuannya terhadap tamu. Setidaknya itu yang kami rasakan dari empat pemuda melayu Aceh yang selama tiga hari menemani kami berkeliling: Taufik Muhammad Isa, Tuanku Insan Munawar, Syahril Furqany dan Iskandar Muda. Mereka benar-benar menjadi tour guide yang baik. Mereka menemani kami mengerjakan penelitian proyek di dinas pariwisata provinsi, museum provinsi dan situs indra purwa. Sholat subuh di Masjid Baiturrahman yang menjadi simbol religi dan perjuangan rakyat Aceh. Shalat maghrib di Masjid Rahmatullah di daerah Lhoknga yang tetap berdiri tegak walaupun di terjang tsunami. Berkunjung ke Museum Tsunami Aceh, Monumen PLTD Apung, Aceh Thanks the World juga monumen pesawat RI 001 di lapangan Blang Padang. Makan jagung di pantai Ulee Lhue, belanja di Pante Perak, mengitari megahnya Universitas Syah Kuala, menikmati pemandangan di Gunung Geurutee, bermain di air terjun Lhoong dan menunggu sunset di pantai Lampuuk Lhoknga. Sepanjang perjalanan menggunakan motor (red: mobil) tak luput diceritakannya segala hal tentang Aceh. Kami pun dibawa berkunjung ke kedai kopi, untuk minum kopi Aceh yang terkenal itu dan berlama-lama disana, suatu hal yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh.

 

pemulia jamee adat geutanyoe, memuliakan tamu adat kita” kata mereka, para pemuda melayu itu.

Banda Aceh, 21 Februari 2012

Tak Terlukiskan

Bagi mahasiswa yang merantau jauh dari tanah kelahiran, saat-saat libur panjang merupakan saat yang sangat dinanti. H-7 sebelum libur pun biasanya sudah tercium itu bau rumah, apalagi bagi mahasiswa baru. Sering kali muncul istilah, “Udah ga konsen kuliah ini, pikiranku udah keburu di kampung halaman”.

Aku termasuk salah seorang yang merantau untuk menuntut ilmu. Bandung. Sebuah kota yang cukup jauh dari tempat asalku, Jember. Butuhkan waktu kurang lebih sehari semalam untuk menuju kesana melalui jalur darat, baik menggunakan bis ataupun kereta api.  Saat-saat pulang kampung benar-benar menjadi saat yang dinanti. Biasanya aku pulang tiga kali dalam setahun. Libur tahun ajaran baru, libur idul fitri dan libur semster-tahun baru. Ternyata orang-orang di rumah pun, ayah, mama, kakek, nenek, adik-adikku juga rindu kepulangan anak tercintanya ini (hhe). Namun seiring berjalannya waktu, intensitas pulang semakin berkurang, seperti di tingkat 4 ini, pulang hanya ketika Idul Fitri. Karena libur sisanya dipakai untuk magang dan menyelesaikan skripsi disamping juga karena cenderung mulai merasa betah di Bandung.

Kali ini adalah saat paling lama aku tidak pulang ke jember, kurang lebih  sudah tujuh bulan. Di keluargaku, yang tidak terbiasa dengan budaya merantau, tujuh bulan itu adalah saat yang cukup lama. Sudah beberapa kali mama menelepon menanyakan kapan pulang. Kangen. Kepulangan kali ini aku memilih naik bis. Sepanjang perjalanan memori-memori  selama 3,5 tahun di Bandung mengalir begitu saja. Ya. Kepulangan kali ini sedikit berbeda karena ini juga sebagai detik-detik melepas status mahasiswa.

Ketika pulang, aku paling suka saat-saat dimana ayah, mama, adik dan nenek sudah menunggu di depan rumah menyambut kedatanganku. Jadi merasa begitu spesial. Mungkin itu salah satu bentuk ekspresi kebahagiaan ketika bertemu anak yang sudah lama ga pulang. So sweet kalo kata anak muda jaman sekarang. Hhe.

Pertanyaan yang keluar pun hampir sama setiap waktu pulang:

Mama: “kok tambah kurus kamu dil, sering lupa makan tah disana?”

Nenek: “berangkat jam berapa dari bandung? Sudah makan belum??”

Ayah: “apa kabar?” Pernah juga “sudah jadi menteri Indonesia kamu” sembari tertawa.

Adek: “mana mas oleh-olehnya?”

Aku perhatikan, dalam setiap kepulanganku, perlahan tapi pasti aku melihat raut wajah yang mulai menua dari kakek dan nenek, begitu pula orang tuaku. Tubuh yang mulai termakan usia. Dan kali inilah yang paling terasa, setelah tujuh bulan tidak bertemu, perubahan itu tampak semakin jelas. Satu hal lagi yang kuperhatikan, bahwa selama aku kuliah mereka hidup dengan sederhana. Ngirit disana-sini, tampaknya sebagai imbas dari harus membiayai pendidikan anaknya yang tidak sedikit. Rasa bersalah juga muncul ketika ingat, di rantau gampang sekali menghamburkan uang untuk hal-hal yang kurang penting padahal rupiah itu didapatkan dengan susah payah bahkan mungkin harus berhutang dan menjual barang-barang di rumah. Rasa penyesalan itupun timbul, kenapa selama ini hanya perhatian sisa yang diberikan pada keluarga, setelah waktu kuliah dan organisasi. Sering kali mama menelpon, menanyakan “Kok lama ga ada kabar. Sibuk apa sekarang?”

Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan ketika tiba di rumah, selepas mandi dan makan, adalah kami berkumpul di ruang tamu. Semacam sesi presentasi hal-hal apa saja yang sudah aku lakukan selama di Bandung. Orang tuaku menyiapkan telinga selebar-lebarnya untuk mendengar ceritaku. Campuran antara ekpresi bangga dan tidak mengerti ketika aku bercerita tentang organisasi yang kuikuti semasa kuliah: GAMUS, KARISMA, FIM. Tertawa ketika mengetahui bisnis yang kurintis belum menjanjikan keuntungan, karena masih pailit. Namun ekspresi kebahagiaan yang paling nampak adalah cerita mengenai skripsiku yang sudah selesai, menunggu sidang, wisuda bulan mei yang menjadi kesempatan untuk berkunjung pertama kalinya ke Bandung, dan rencana menjadi tenaga outsource di RnDC Telkom sembari menunggu wisuda.

Ketika aku minder dengan kawan yang sudah punya bisnis dan penghasilan sendiri. Ketika aku iri melihat prestasi teman teman yang sudah berkiprah di kancah nasional dan internasional. Ketika aku ingin seperti orang lain yang sudah berbuat banyak untuk bangsa dan umat ini. Ketika aku merasa belum berbuat apa-apa, ternyata mereka tidak peduli dengan itu. Yang mereka pedulikan adalah apa saja yang sudah aku lakukan, prestasi yang masih sedikit itu, tapi orang tuaku sangat mengapresiasi hal itu. Sungguh. Perhatian itu, apresiasi itu menjadi sangat berarti. Berarti untuk kembali membesarkan jiwa ini.

Ternyata orang tuaku hanya ingin melihat anaknya menjadi orang yang baik, sholeh dan bisa hidup mandiri. Membuat bangga keluarga. Mengembalikan kejayaan keluarga besar. Hanya itu. Tapi untuk hal itu, aku masih harus berjuang keras mewujudkannya. Belum lagi tentang mimpiku untuk membuat bangsa dan umat ini lebih baik. Hm. Tampaknya masih banyak sekali yang harus dikerjakan. Bahwa semua yang kulakukan masih belum apa-apa. Aku menjadi semakin percaya dengan kalimat itu, “Kewajiban yang harus kita lakukan lebih banyak dari waktu yang tersedia”.

Sekarang ketika baru lima hari di rumah, ada panggilan untuk membantu proyek di luar pulau. Aku tahu, rasa kangen orang tua belum semuanya tersalurkan. Aku juga masih ingin berada lebih lama lagi di rumah. Apalagi pagi ini juga sepupuku baru lahir, pasti keluarga pada ngumpul. Namun orang tuaku, yang dikatakan orang tuaku sangat menenangkan hati “ Udah kamu ambil aja tawarannya. Buat nambah pengalamanmu. Mumpung masih muda juga.. yang di rumah gapapa kok”

“Ya Allah .. Aku sangat bersyukur karena kau telah memberikan orang tua yang luar biasa.. yang tulus mencintai dan berkorban demi anak-anaknya Bagaimana cara untuk aku bisa membalas semua kebaikan mereka ya Rabb? Sesungguhnya Hanya Engkaulah Yang Maha Sempurna dalam memberi balasan ..

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku.. dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sewaktu kecil

Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaarobbayaani saghiira ..”

Juanda Airport, 18 Februari 2012

Tentang Skripsi: Berjuang Berjibaku

Bandung, 1 Februari 2012

 

Huft..

Teringat kembali perjuangan penyusunan skripsi ini. Berjibaku selama tiga bulan sebelum akhirnya sampai pada saat ini. Tidak terhitung sudah berapa kali mata ini menahan kantuk semalaman karena mengejar target bimbingan. Cukup banyak juga rupiah yang keluar karena harus bolak-balik revisi dan print ulang. Dan banyak juga hak-hak keluarga, teman, binaan, organisasi, yang akhirnya harus ‘mengalah’ demi target selesainya skripsi ini. Bahkan, sempat juga mengalami stres dan jatuh sakit.

Namun disisi lain, tidak terhitung pula berapa kali saya jadi sering bolak-balik ke perpustakaan, membaca banyak buku, menambah banyak ilmu. Hampir setiap hari. Sering kali dari pagi sampai sore. Sampai ada istilah “ngantor” di perpustakaan. Tidak terhitung pula berapa kali saya belajar.Bukan sebatas belajar akademik, tapi juga pembelajaran sikap, pembelajaran hidup. Belajar untuk mengalahkan rasa malas yang seringkali datang. Belajar bekerja di bawah tekanan, tekanan yang timbul karena ketidakmengertian mengenai hal yang diteliti. Belajar untuk menunggu dan sabar ketika menentukan jadwal bimbingan. Belajar untuk bisa berargumen dan tetap tegar ketika bertemu dosen penguji. Belajar untuk berlari mengejar target progres waktu yang telah disusun. Juga belajar mempertanggungjawabkan apa yang telah ditulis di setiap halaman.

Dan akhirnya waktu yang dinanti itu telah tiba. Pagi itu pembimbing menandatangani lembar persetujuan dan kartu bimbingan skripsi menandakan berkas skripsi saya sudah bisa dimasukkan ke sekretariat dan mendaftar untuk sidang skripsi.

428704_2429384427109_942431294_n

Seperti yang dikatakan Imam Syafii,
“Manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang”

Manisnya,senangnya akan terasa setelah melewati lelahnya berjuang ..

Selangkah lagi menuju sidang skripsi, selangkah lagi untuk melepas status ajaib ini, ‘mahasiswa’

Bismillah..