ACEH, Allah mengundang lebih cepat.

Ingatan ini melayang kembali pada bulan November 2011 lalu ketika seorang teman yang sedang berkunjung ke Bandung, mengundang untuk “ganti” berkunjung ke daerah asalnya, Aceh. Jujur, saat itu tidak terpikirkan sama sekali kapan dan bagaimana cara untuk sampai ke sana. Yang saya lakukan saat itu hanya menulis note dengan judul “Ane tunggu di Aceh ya Dil ..”. Semacam doa mungkin. Tiga bulan setelah note itu ditulis, bersama seseorang yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri, Trio Satria Putra,tanpa disangka akhirnya saya benar-benar bisa terbang ke provinsi di ujung paling barat Indonesia itu.

Ternyata Allah mengundang lebih cepat.

Aceh. Sebuah daerah di ujung paling barat Indonesia yang mewarisi berbagai situs sejarah dan menyimpan banyak episode historis. Mulai dari berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, Samudera Pasai, perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda, konflik Aceh, sampai dengan bencana tsunami terbesar yang tercatat dalam sejarah umat manusia. Banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi yang menunjukkan peristiwa bersejarah tersebut. Diantaranya adalah Masjid Baiturrahman, Museum Aceh Besar, dan Museum Tsunami Aceh. Selain dari momen-momen bersejarah tersebut, pesona lain dari Aceh adalah memiliki wisata pantai yang sangat indah, mulai dari pantai Ulee Lhue di Banda Aceh, pantai Lampuuk di Lhoknga Aceh besar dan juga pantai Sabang di Pulau Weh. Ada juga Tugu 0 kilometer di Sabang.

Hal menarik lainnya, seperti yang kita ketahui, bahwa Aceh merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang sejak dahulu menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Saat pertama menginjakkan kaki di tanah Aceh, tepatnya di Bandara Sultan Iskandar Muda, saya dikejutkan dengan bentuk bangunan bandara yang unik. Atapnya berbentuk kubah seperti masjid. Dan ternyata tidak hanya itu, banyak gedung di BandaAceh memiliki bentuk atap yang menyerupai kubah selain juga banyak yang berbentuk seperti rumah adat Aceh.  Di sepanjang jalan tampak beberapa baligho dari  dinas syariat Islam Aceh yang berisi hadist atapun ayat al quran. Papan reklame punhampir tidak ada yang menampilkan wanita dengan aurat yang terbuka.Ternyata usut punya usut peraturan pemerintah di Aceh melarang pemasangan iklan yang menampilkan aurat.  Pun ada yang harus wanita sebagai modelnya, maka dikondisikan dengan aturan yang ada yaitu memakai jilbab. Hampir seluruh masyarakatnya pun memakai jilbab sebagai busana muslimah bagi wanita.

Kata Assalamualaikum sering sekali terdengar sebagai ucapan salamdimana lebih populer dari ucapan selamat pagi/siang/sore. Dan yang paling terasa, masjid-masjid di tengah kota hampir selalu penuh oleh jamaah di setiap waktu shalat fardhu, khususnya di Masjid Baiturrahman yang juga menjadi  icon kota Banda Aceh. Bahkan saya sempat menemukan ada pengemis tua buta di halaman Masjid Baiturrahman yang selalu bershalawat, berdzikir hamdalah ketika ada yang memberi sedekah. Ya. Islam sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Aceh. Walaupun masih perlu banyak perbaikan untuk  penerapan syariat yang sempurna.

Sungguh pemandangan yang syahdu.

Kembali pada peristiwa besar di 2004 silam, jumlah korban jiwa saat itu mencapai kurang lebih250.000 jiwa, jumlah yang sangat besar. Tidak terhitung pula kerugian materi dan kerusakan fisik yang ditimbulkan. Dan peristiwa itu sangatlah baik dikenang oleh masyarakat Aceh dengan mendirikan monumen-monumen;Monumen PLTD Apung,  Monumen Aceh Thanks the World jugaMuseum Tsunami Aceh yangmenunjukkan bahwa di daerah ini pernah terjadi peristiwa besar. Ada juga beberapa tempatpemakaman massal korban tsunami, yang berupa satu lahan terbuka yang diberi pagardan beberapa diantaranya diberi nama “makam syuhada” yang artinya tempat orang-orang yang meninggal ‘syahid’ di jalan Allah.Tidak diketahui siapa dan berapa tepatnya jumlah orang yang dikubur disana.

Namun selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa.

Trauma itu pasti ada. Terlepas dari banyak kejanggalan yang terjadi pada tsunami Aceh;  mayat yang menghitam seperti terbakar, bunyi ledakan sebelum tsunami maupun ada negara yang cepat sekali mengirimkan bantuan, bahkan lebih cepat dari pemerintah Indonesia. Namun banyak pula hikmah yang dapat diambil dibalik peristiwa tersebut. Semenjak kejadian itu, masyarakat Aceh semakin terbuka ke dunia luar,  memposisikan sebagai daerah tujuan wisatayang menawarkan keindahan pesona budaya dan alamserta peristiwa sejarah yang pernah terjadi, dengan membuka kesempatan bagiorang luar untuk melihat lebih dekat seperti apa daerah yang berjuluk serambi mekkah itu. Bahkan, konflik yang sudah terjadi selama 30 tahun di Aceh pun akhirnya menyepakati kata damai.

Kita tidak tahu ini anugerah atau musibah, kita hanya bisa berbaik sangka kepada Allah.

Dan satu hal, orang aceh itu ramah-ramah dan baik sekali perlakuannya terhadap tamu. Setidaknya itu yang kami rasakan dari empat pemuda melayu Aceh yang selama tiga hari menemani kami berkeliling: Taufik Muhammad Isa, Tuanku Insan Munawar, Syahril Furqany dan Iskandar Muda. Mereka benar-benar menjadi tour guide yang baik. Mereka menemani kami mengerjakan penelitian proyek di dinas pariwisata provinsi, museum provinsi dan situs indra purwa. Sholat subuh di Masjid Baiturrahman yang menjadi simbol religi dan perjuangan rakyat Aceh. Shalat maghrib di Masjid Rahmatullah di daerah Lhoknga yang tetap berdiri tegak walaupun di terjang tsunami. Berkunjung ke Museum Tsunami Aceh, Monumen PLTD Apung, Aceh Thanks the World juga monumen pesawat RI 001 di lapangan Blang Padang. Makan jagung di pantai Ulee Lhue, belanja di Pante Perak, mengitari megahnya Universitas Syah Kuala, menikmati pemandangan di Gunung Geurutee, bermain di air terjun Lhoong dan menunggu sunset di pantai Lampuuk Lhoknga. Sepanjang perjalanan menggunakan motor (red: mobil) tak luput diceritakannya segala hal tentang Aceh. Kami pun dibawa berkunjung ke kedai kopi, untuk minum kopi Aceh yang terkenal itu dan berlama-lama disana, suatu hal yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh.

 

pemulia jamee adat geutanyoe, memuliakan tamu adat kita” kata mereka, para pemuda melayu itu.

Banda Aceh, 21 Februari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: