Notes about Gamus: Entry Point

Merantaulah, kau akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan,

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang,

Aku melihat air menjadi rusak, karena diam tertahan,

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang,

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa,

Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran,

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam,

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang,

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang,

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

(Imam Syafii)

Ingatan ini kembali ke pertengahan tahun 2008 ketika awal saya masuk kuliah, di kampus pilihan pertama yang saya inginkan, Institut Manajemen Telkom, dengan jurusan Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika (MBTI), harapannya bisa menjadi seorang manajer hebat setelah selesai menyelesaikan studi (aamiin). Menyandang sebagai status anak rantau dari sebuah kecamatan kecil di ujung timur Pulau Jawa, Mayang, yang berada di kabupaten Jember, saya memiliki tekad untuk bersungguh-sungguh dalam kuliah. Lulus 3.5 tahun dengan status cum laude, itu yang menjadi mimpi saya. Sebagai seseorang yang berkarakter phlegmatis, saya termasuk orang yang punya kemauan baja. Bagaimanapun akademik harus terbaik. Di kelas duduk di bangku terdepan, menyimak dan mencatat dengan cermat, selesai kelas pergi ke perpustakaan untuk mencari buku referensi, kemudian pulang ke kosan untuk kembali mengulang materi yang telah didapat di kelas. Selain itu saya orang yang butuh waktu lama untuk masuk ke lingkungan yang baru. Sulit bergaul. Apalagi harus beradaptasi dengan gaya komunikasi “elo-gue” yang sangat canggung untuk diucapkan. Jadilah waktu itu termasuk mahasiswa KuPu- KuPu (Kuliah Pulang Kuliah Pulang). Hehehe.

Namun belakangan saya baru menyadari bahwa orientasi  KuPu KuPu saya itu terlalu sempit. Terlalu kecil. Kesadaran itu perlahan-lahan muncul sejak saya tergabung dalam organisasi dakwah kampus yang bernama GAMUS (Keluarga Muslim) Institut Manajemen Telkom. Awalnya saya hanya sebatas datang ke beberapa acara yang diselenggarakan GAMUS untuk mahahasiswa baru, yakni MABIR (Malam Bina Ruhani)  dan BUBUR AYAM TOMAT (Buka Bareng Anak Yatim + Nonton Nikmat), dengan beralaskan karpet, pembatas daerah laki-laki perempuan di tengah ruangan, dekorasi ruangan yang sederhana, kakak-kakak berbaju koko yang berlalu lalang, dan bersama beberapa mahasiswa baru lainnya kami mendengar tausyah dari beberapa ustad. Sebuah acara yang sungguh berkesan yang belum pernah saya ikuti acara seperti ini di daerah asal saya. Dari sana saya mulai mengenal istilah “ikhwan, akhwat, hijab, nasyid, ukhuwah, dakwah”. Dan di penghujung 2008 saya juga mengikuti acara GAMUS lainnya yang bernama SAIFUL FITRI. Ini bukan nama mas mas dan mbak mbak loh yaa. Hehe. Kepanjangannya itu Silaturahim After Idul Fitri dimana acara silaturahimnya dikemas dalam bentuk outbound di daerah Parompong, Lembang. Seru banget pokoknya.

Yap, GAMUS. Sebuah organisasi yang nantinya membawa perubahan terhadap orientasi selama masa perkuliahan saya, mengenai hal-hal apa saja yang akan dilakukan semasa kuliah. Bahwa kuliah itu tidak hanya sebatas persoalan akademik, namun juga bagaimana pengembangan diri, memiliki softskill, kemampuan komunikasi, memiliki kontribusi dan manfaat bagi sesama. Serta yang paling penting, bagaimana menghabiskan masa muda dalam ketaatan kepada-Nya.

Tanpa saya sadari, lewat organisasi ini nantinya saya menemukan sesuatu yang nilainya lebih besar dari sekedar nilai akademik: ilmu, persahabatan dan kekeluargaan dengan banyak cerita dan pembelajaran selama keberjalanannya ..

Suasana saat BUBUR TOMAT

Momem olah raga pagi di acara MABIR

Momen kebun teh di acara SAIFUL FITRI

Bandung, 7 April 2012

Advertisements

3 responses

  1. tulisan ini yg bikin sy ga jadi mundur dr gamus.. 😀

    1. hm. mulai ngerti sekarang. jadi seseorang yang tiwi pernah ceritain itu himsa ..
      mungkin lebih tepatnya, Allah pengen km tetep di gamus, sarananya lewat ini. 🙂

      1. hm.. teh tiwi ngomong apa ya? -,-”

        di manapun, semoga bermanfaat kang. amiin 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: