Tak Terlukiskan

Bagi mahasiswa yang merantau jauh dari tanah kelahiran, saat-saat libur panjang merupakan saat yang sangat dinanti. H-7 sebelum libur pun biasanya sudah tercium itu bau rumah, apalagi bagi mahasiswa baru. Sering kali muncul istilah, “Udah ga konsen kuliah ini, pikiranku udah keburu di kampung halaman”.

Aku termasuk salah seorang yang merantau untuk menuntut ilmu. Bandung. Sebuah kota yang cukup jauh dari tempat asalku, Jember. Butuhkan waktu kurang lebih sehari semalam untuk menuju kesana melalui jalur darat, baik menggunakan bis ataupun kereta api.  Saat-saat pulang kampung benar-benar menjadi saat yang dinanti. Biasanya aku pulang tiga kali dalam setahun. Libur tahun ajaran baru, libur idul fitri dan libur semster-tahun baru. Ternyata orang-orang di rumah pun, ayah, mama, kakek, nenek, adik-adikku juga rindu kepulangan anak tercintanya ini (hhe). Namun seiring berjalannya waktu, intensitas pulang semakin berkurang, seperti di tingkat 4 ini, pulang hanya ketika Idul Fitri. Karena libur sisanya dipakai untuk magang dan menyelesaikan skripsi disamping juga karena cenderung mulai merasa betah di Bandung.

Kali ini adalah saat paling lama aku tidak pulang ke jember, kurang lebih  sudah tujuh bulan. Di keluargaku, yang tidak terbiasa dengan budaya merantau, tujuh bulan itu adalah saat yang cukup lama. Sudah beberapa kali mama menelepon menanyakan kapan pulang. Kangen. Kepulangan kali ini aku memilih naik bis. Sepanjang perjalanan memori-memori  selama 3,5 tahun di Bandung mengalir begitu saja. Ya. Kepulangan kali ini sedikit berbeda karena ini juga sebagai detik-detik melepas status mahasiswa.

Ketika pulang, aku paling suka saat-saat dimana ayah, mama, adik dan nenek sudah menunggu di depan rumah menyambut kedatanganku. Jadi merasa begitu spesial. Mungkin itu salah satu bentuk ekspresi kebahagiaan ketika bertemu anak yang sudah lama ga pulang. So sweet kalo kata anak muda jaman sekarang. Hhe.

Pertanyaan yang keluar pun hampir sama setiap waktu pulang:

Mama: “kok tambah kurus kamu dil, sering lupa makan tah disana?”

Nenek: “berangkat jam berapa dari bandung? Sudah makan belum??”

Ayah: “apa kabar?” Pernah juga “sudah jadi menteri Indonesia kamu” sembari tertawa.

Adek: “mana mas oleh-olehnya?”

Aku perhatikan, dalam setiap kepulanganku, perlahan tapi pasti aku melihat raut wajah yang mulai menua dari kakek dan nenek, begitu pula orang tuaku. Tubuh yang mulai termakan usia. Dan kali inilah yang paling terasa, setelah tujuh bulan tidak bertemu, perubahan itu tampak semakin jelas. Satu hal lagi yang kuperhatikan, bahwa selama aku kuliah mereka hidup dengan sederhana. Ngirit disana-sini, tampaknya sebagai imbas dari harus membiayai pendidikan anaknya yang tidak sedikit. Rasa bersalah juga muncul ketika ingat, di rantau gampang sekali menghamburkan uang untuk hal-hal yang kurang penting padahal rupiah itu didapatkan dengan susah payah bahkan mungkin harus berhutang dan menjual barang-barang di rumah. Rasa penyesalan itupun timbul, kenapa selama ini hanya perhatian sisa yang diberikan pada keluarga, setelah waktu kuliah dan organisasi. Sering kali mama menelpon, menanyakan “Kok lama ga ada kabar. Sibuk apa sekarang?”

Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan ketika tiba di rumah, selepas mandi dan makan, adalah kami berkumpul di ruang tamu. Semacam sesi presentasi hal-hal apa saja yang sudah aku lakukan selama di Bandung. Orang tuaku menyiapkan telinga selebar-lebarnya untuk mendengar ceritaku. Campuran antara ekpresi bangga dan tidak mengerti ketika aku bercerita tentang organisasi yang kuikuti semasa kuliah: GAMUS, KARISMA, FIM. Tertawa ketika mengetahui bisnis yang kurintis belum menjanjikan keuntungan, karena masih pailit. Namun ekspresi kebahagiaan yang paling nampak adalah cerita mengenai skripsiku yang sudah selesai, menunggu sidang, wisuda bulan mei yang menjadi kesempatan untuk berkunjung pertama kalinya ke Bandung, dan rencana menjadi tenaga outsource di RnDC Telkom sembari menunggu wisuda.

Ketika aku minder dengan kawan yang sudah punya bisnis dan penghasilan sendiri. Ketika aku iri melihat prestasi teman teman yang sudah berkiprah di kancah nasional dan internasional. Ketika aku ingin seperti orang lain yang sudah berbuat banyak untuk bangsa dan umat ini. Ketika aku merasa belum berbuat apa-apa, ternyata mereka tidak peduli dengan itu. Yang mereka pedulikan adalah apa saja yang sudah aku lakukan, prestasi yang masih sedikit itu, tapi orang tuaku sangat mengapresiasi hal itu. Sungguh. Perhatian itu, apresiasi itu menjadi sangat berarti. Berarti untuk kembali membesarkan jiwa ini.

Ternyata orang tuaku hanya ingin melihat anaknya menjadi orang yang baik, sholeh dan bisa hidup mandiri. Membuat bangga keluarga. Mengembalikan kejayaan keluarga besar. Hanya itu. Tapi untuk hal itu, aku masih harus berjuang keras mewujudkannya. Belum lagi tentang mimpiku untuk membuat bangsa dan umat ini lebih baik. Hm. Tampaknya masih banyak sekali yang harus dikerjakan. Bahwa semua yang kulakukan masih belum apa-apa. Aku menjadi semakin percaya dengan kalimat itu, “Kewajiban yang harus kita lakukan lebih banyak dari waktu yang tersedia”.

Sekarang ketika baru lima hari di rumah, ada panggilan untuk membantu proyek di luar pulau. Aku tahu, rasa kangen orang tua belum semuanya tersalurkan. Aku juga masih ingin berada lebih lama lagi di rumah. Apalagi pagi ini juga sepupuku baru lahir, pasti keluarga pada ngumpul. Namun orang tuaku, yang dikatakan orang tuaku sangat menenangkan hati “ Udah kamu ambil aja tawarannya. Buat nambah pengalamanmu. Mumpung masih muda juga.. yang di rumah gapapa kok”

“Ya Allah .. Aku sangat bersyukur karena kau telah memberikan orang tua yang luar biasa.. yang tulus mencintai dan berkorban demi anak-anaknya Bagaimana cara untuk aku bisa membalas semua kebaikan mereka ya Rabb? Sesungguhnya Hanya Engkaulah Yang Maha Sempurna dalam memberi balasan ..

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku.. dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sewaktu kecil

Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaarobbayaani saghiira ..”

Juanda Airport, 18 Februari 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: