Notes about Gamus: Be Master of Ceremony

Tidak semua orang memiliki kemampuan komunikasi yang baik di depan orang banyak, bahkan bagi sebagian orang, sekedar keberanian pun tidak dimiliki.

Saya orang yang pendiam.  Kata orang phlegmatis. Nyaman berbicara dengan orang yang sudah saya kenal dekat, namun memilih diam seribu bahasa ketika berada di suatu forum dengan banyak orang . Saya termasuk orang yang memiliki masalah komunikasi, khususnya ketika harus berbicara di depan orang banyak. Gemetar, takut, speechless, itulah beberapa hal yang saya rasakan ketika harus berbicara di depan umum. Kelemahan itu saya sadari, dan saya memiliki keinginan untuk bisa keluar dari masalah tersebut. Tampaknya Allah sudah punya rencana untuk itu.

Maret 2009.
Suatu hari ada sms masuk ke hape saya.
Assalamualaikum. Ini dengan afdil ya? Saya Eel gamus 2007, panitia bedah karakter. Apa bisa jadi MC untuk tanggal 9 April?

Degh. Seperti mendapat petir di siang bolong. Saya pikir ini sms salah kirim, tapi itu disebut nama saya, ga mungkin salah. Trus gimana ceritanya saya yang diminta jadi MC? Kayaknya dia ga tau saya orangnya seperti apa. Saya tidak punya pengalaman sama sekali, bahkan lebih dari itu, saya takut. Gampang saja bagi saya untuk menolak, banyak terpikir pilihan alasan. Tapi saya tidak langsung menjawab. Untuk lebih meyakinkan saya tanyakan lagi mengenai seperti apa acaranya, lokasinya dimana.
Kemudian saya jadi tahu bahwa acara itu terbuka untuk umum dengan target 200an peserta, menghadirkan pembicara dari Semarang, Habiburrahman El Shirazy (kang Abik), dengan moderator Agus Al Muhajir, dan penampilan dari nasyid asal bandung, Edcoustic. Tahu itu, semakin down saya.

“ambil aja kesempatannya, ini momen bagus untuk berubah dil”

Kalimat itu terbesit di pikiran saya, entah darimana datangnya.
Akhirnya, saya ambil kesempatan itu.

Singkat cerita sore sebelum hari H, saya datang ke lokasi untuk briefing, yang sedikit melegakan adalah saya tidak sendiri untuk jadi MC. Saya di tandem dengan seorang yang belum saya kenal.  Yang kemudian saya tau namanya Ibrahim Imaduddin Islam, Gamus 2007, yang sudah punya banyak jam terbang di dunia per MC-an. Panggilannya kang baim/ibam, seseorang yang dikemudian hari banyak berinteraksi dengan saya, lebih dari sekedar partner MC. 🙂

saya masih ingat pertanyaan pertamanya,
kamu sudah pernah nge-MC? Belum kang. Hm. Ya udah, nanti biar saya yang mulai dialognya kamu tinggal jawab dan nambahin aja.

“Siap!” jawabku.

Saat itu juga pertama kalinya saya berkenalan dengan Adi Susanto dan Didik Aditya Methana, panitia bedah karakter, sahabat yang nantinya saya banyak belajar darinya.

Dan hari yang dinanti pun tiba, saya dan kang ibam sudah janjian untuk memakai baju koko warna putih. Perasaan itu, gugup, ketika peserta mulai berdatangan, semakin gugup ketika kang agus dan kang Abik datang. Klimaksnya ketika naik ke panggung dan semua mata mata menatap ke arah kami. Itu rasanya gugup, takut, bingung campur aduk jadi satu. Teks-teks yang sudah saya hapal dari beberapa waktu sebelumnya pun menguap begitu saja. Speechless. Untungnya ada kang ibam yang membantu saya keluar dari masa masa kritis itu. unforgetable moment lah. Dan akhirnya kami bisa melalui semua itu dengan lancar. Dalam kesempatan itu, kang abig membedah karakter-karakter yang ada pada novelnya, Ketika Cinta Bertasbih: Azzam, Furqon, Anna. Waktu itu saya belum membaca bukunya, dan saya ingat sekali, waktu itu ada sahabat saya yang ngefans banget sama beliau, Jevie, dia bahagia banget ketika bisa foto bareng kang Abik.

Dari situ juga saya mulai familiar dengan lagu nasyid, khususnya edcoustic. Setelah acara itu saya langsung cari lagunya: sebiru hari ini, muhasabah cinta, menjadi diriku, yang hingga sekarang masih sering saya dengarkan.

Terakhir, kepanitian ini adalah salah satu kepanitian terbaik yang pernah saya tahu, walaupun saya hanya membantu pas hari H sebagai MC. Purwanto sebagai ketua panitia (Gamus 2007), Nila Sartika Ahmadi (Gamus 2007) sebagai koordinator acara, serta panitia lainnya berhasil menjadi tim yang solid, dan dari situ juga saya belajar mengenai “ukhuwah” dan “ruh” dalam kepanitiaan.

duo MC: Afdil-Ibam

foto bareng panitia dengan kang abik (Jevie tepat disebelahnya)

 foto bareng panitia dengan edcoustic

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: