Suka Duka di Sidang Umum (Karisma ITB)

Gedung Kayu, 5 Juli 2012

Malam ini saya sedang berada di sekre Karisma, seorang diri,  sedang mempersiapkan bahan untuk Sidang Umum (SU) 32, SU ketiga saya di Karisma, dan mungkin yang terakhir. Di laptop yang terlihat hanya deretan huruf yang berbaris,  tapi di kepala saya, dereta memori selama kurang lebih 2 tahun di organisasi ini melintas begitu saja silih berganti tanpa bisa saya bendung.  Berikut perasaan yang menyertainya, bahagia, sedih, sendu, tawa, bercampur jadi satu.

Ciparay, 4 Juli 2010

Hari itu adalah hari terakhir di SU 30. Saya sebagai GF, Miftah (Mujahid Firmadhotillah) dan rekan rekan lainnya, bertugas sebagai panitia SU. Bertempat di Ciparay, selama 3 hari saya bersama sekitar 50an pembina aktif Karisma, yang sebagian besar masih asing bagi saya (saat itu baru kenal Ibam, Kamil, Kasmita, kang onnay), membahas hal-hal yang tidak saya mengerti sepenuhnya, dan hampir selalu sampai larut malam. Sungguh melelahkan.

Sempat terpikir dalam benak saya, kenapa bisa organisasi ini sampai segininya ketika Sidang Umum. Saya yang waktu itu juga aktif di 2 organisasi kampus, Keluarga Muslim (Gamus) dan BEM Pusat IM Telkom tidak pernah mengalami pengalaman seperti itu. Banyak sekali yang dibahas, sampai sedetil detilnya.

Yang menarik perhatian saya adalah usaha untuk melibatkan seluruh orang yang ada disana untuk ikut bermusyawarah. Masih ingat sekali, waktu itu hari sudah larut malam namun sidang tetap berlangsung, saya yang duduk di kursi belakang terserang kantuk yang sangat. Dan akhirnya tertidur. Kemudian saya terkagetkan oleh seruan teman di sebelah yang menepuk-nepuk pundak saya, berusaha membangunkan. Dengan masih menahan kantuk saya bangun. lebih kaget lagi karena saat itu semua mata tertuju pada saya. hening. Kemudian kang ikhfa sebagai pemimpin sidang membuka suara

“Jadi gimana dil? Gimana pandanganmu tentang rosikh sebagai calon ketua umum?

Ee, maaf kang saya tertidur, kang rosikh saya ga terlalu kenal. Tapi yang saya tau dia orangnya ramah ke semua orang.”

sidang pun berlanjut,dan saya tidak lagi mengantuk setelah insiden itu. Malu, sekaligus salut dengan kepeduliannya padahal status saya adalah anggota baru di Karisma yang belum tau banyak hal tapi sudah diminta pendapatnya dalam musyawarah.

Walaupun tidak mengerti, namun saya bisa merasakan suasana sidang yang panas, penuh dengan pemikiran kritis, dan pendapat pendapat yang terkadang dipaksakan hingga sampai berdebat. Belakangan saya tau bahwa semua yang diutarakan tersebut memiliki satu tujuan, membawa Karisma pada kondisi yang lebih baik. Setelah melalui proses yang panjang dan pembahasan mendalam, akhirnya terpilihlah Rosikh Falah sebagai Ketum, Ibrahim Imaduddin sebagai Ketua LP2K, dan Feiza Alfi sebagai ketua LPMPP. Uniknya, diakhir sidang suasana berubah menjadi haru, dimulai dari pemutaran video penutupan periode 29 oleh kang Onnay (yang dia ga tidur demi ngerjakan itu video), hingga tangis tak dapat dibendung lagi saat pembacaan doa rabithah termasuk saya yang ikut menitikkan air mata, dan akhirnya ditutup dengan pembagian sertifikat kepada pengurus inti. Penuh haru, penuh makna.

Cilengkrang, 3 Juli 2011

Adalah hari terakhir dari rangkaian acara Sidang Umum Karisma ke 31. Yang menjadi SU kedua bagi saya. Berbeda dari pengalaman SU tahun sebelumnya, berbekal pengetahuan dan pengalaman selama setahun di Karisma (kaderisasi dan Lingkar sahabat) saya mulai bisa speak up terhadap isu isu yang diangkat. GF Nafis (Nafadzu Fahmal Islam) yang menjadi panitia, memilih tempat di cilengkrang sebagai tempat SU. Tepatnya di sebuah masjid milik alumni Karisma, mas Widi.

Dari awal saya sudah menangkap isu isu untuk menolak LPJ dari lembaga tinggi Karisma, saya pikir itu hanya isu belaka. Sidang pertama sendiri, yakni sidang quorum tidak bisa selesai di hari pertama (1 Juli 2011) karena jumlah quorum tidak terpenuhi, hingga akhirnya baru dilaksanakan di hari kedua. Sidang LPJ berjalan sangat alot, isu penolakan LPJ akhirnya berkembang menjadi opini umum saat itu, memanfaatkan celah dari tidak adanya standar baku untuk menerima atau menolak LPJ, orang-orang yang berdalih menginginkan sebuah momentum untuk Karisma lebih baik itu gencar menyuarakan opininya yang ternyata diamini oleh sebagian besar peserta sidang. (kenapa saya bilang berdalih, karena nyatanya orang orang tersebut tidak terlibat langsung dan menjadi pemain di kepengurusan selanjutnya, periode 31)

LPJ akan diterima jika KPI terpenuhi 100 %, katanya.

Saya dengan terang-terangan menolak. Ya. Jelas sekali, bagaimana bisa ada kepengurusan yang mencapai 100%  semua target-targetnya. Mustahil. Bahkan tidak mentoleransi semisal satu aspek saja yang tidak terpenuhi, tetap LPJ ditolak. Namun tampaknya saya belum cukup fasih dalam menyampaikan opini. Serasa sendiri mempertahankan bahwa LPJ tidak seharusnya ditolak.

Bahkan sampai saya harus dipanggil untuk konsolidasi ke depan oleh pimpinan sidang, ingat sekali waktu itu saya maju berdua dengan Aji Imam Muflih, yang nantinya menjadi ketua umum periode 31.

dil, jadi apa kamu masih bertahan dengan pendapatmu soal penolakan LPJ, semua sudah setuju kalo LPJ LPMPP ditolak, tinggal kamu sama aji aja yang ga sependapat” ujar teh syahri

“Bagaimana saya sependapat teh, parameter ini ga rasional, mana bisa semuanya harus 100% baru bisa diterima”

“Tapi sidangnya memutuskan seperti itu, mau gimana lagi ?”

Saya terdiam sejenak. Hingga dengan berat hati mengiyakan. Dengan berat hati. Terbayang bagaimana perjuangan selama setahun harus berakhir seperti ini.

Ya. Pertama kali dalam sejarah Karisma, di SU 31, bahwa LPJ Ketum, LPMPP, dn LP2K ditolak secara bersama-sama. Keputusan yang sangat berat untuk semua, terlebih bagi ketua dari lembaga tinggi tersebut. Saat dibacakan keputusan itu, kang rosikh dan feiza diam tertunduk. Sedangkan kang ibam tak kuasa menahan air mata.

“terlambat, sudah terlalu terlambat ketika kalian memberitahukan kesalahan saya sekarang. Sudah ga ada lagi waktu untuk memperbaiki.” ujarnya sambil terisak.

Anehnya, orang-orang yang paling gencar menyuarakan agar LPJ ditolak, mereka juga yang paling keras menangisnya.

Ketika kabar itu sampai pada alumni, alumni pun akhirnya ikut membuka suara, mempertanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi?  Karena itu adalah peristiwa yang unik, sangat unik. Namun nyatanya terjadi. Cukup memberikan shock therapy dan menjadi pembelajaran berharga untuk periode berikutnya.
Aji Imam Muflih sebagai ketua umum terpilih, Kasmita sebagai ketua LPMPP, dan Eva Fatimah sebagai ketua LP2K  yang kemudian harus memimpin Karisma bangkit dari trauma tersebut.

Gedung Kayu, 5 Juli 2012

Masih di sekre Karisma, jam sudah menunjukkan pukul 21.00. tulisan ini saya buat di saat saya sedang mengerjakan tugas BP.
untuk SU besok, SU 32 saya menjadi bagian dari Badan Pekerja SU, badan yang dibentuk untuk mempersiapkan Garis Besar Program Karisma, dengan Tomi Miftah sebagai ketuanya.

tidak tau pasti bagaimana keberjalanan SU besok, akankah berakhir indah atau tidak.

Yang pasti dalam menilai hasil dan pencapaian harus juga dilihat bagaimana prosesnya. Yang pasti, bagi saya SU bukan hanya LPJ diterima atau ditolak, tapi SU adalah suatu pembelajaran. Bagaimana kita saling mengingatkan akan kekurangan, mengapresiasi keberhasilan, dan menyusun rencana perbaikan untuk kedepannya.

Juga momen terpilihnya pemimpin baru yang akan membawa organisasi ini ke arah yang lebih baik.

Sekre Karisma, Gedung Kayu Masjid Salman ITB, 5 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: