Eid Mubarak (1): The Happiness of Mass Exodus

Jika ramadhan adalah kepompong, maka kini saatnya terbang berkarya, menebar keindahan pada dunia.

Sebelumnya saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, hari raya bagi umat muslim di seluruh dunia. ternyata sudah 1433 tahun sejak Nabi Muhammad Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Sudah cukup lama sekali.

Selalu saja mengundang dilema, antara sedih meninggalkan bulan penuh keutamaan, Ramadhan, dan bahagia karena tiba hari kemenangan, 1 syawal, Hari Raya Idul Fitri atau yang oleh masyarakat kita juga disebut sebagai lebaran.

4 tahun belakangan ini saya juga baru merasakan apa yang namanya mudik. Ya, sejak saya merantau ke Bandung dalam rangka menuntut ilmu disana (hhe. asik bahasanya), sudah 4 kali juga saya bersama 11-12 juta orang lainnya mudik lebaran (angka ini saya dapat dari berita di TV) pulang ke kampung halaman, dengan biaya yang hampir 2x lipat dari tarif normal, berdesakan dijalan, demi bisa sholat ied di rumah, bersama keluarga tercinta.

Yang menarik adalah ketika semua orang yang merantau pulang ke daerah asal, momen sesaat yang berarti. Menceritakan apa saja yang sudah diperbuat di tanah rantau. Terkadang juga Show of power, kalo saya suka bilang. Ada kebanggaan ketika bisa menunjukkan sedikit prestasi dunia yang berhasil dikumpulkan. hha. Menarik .. (jangan lupa harus diiringi dengan ketaqwaan yang meningkat pula :))

Kalo di daerah saya, di kecamatan Mayang kabupaten Jember, semakin kesini semakin banyak pemuda yang sudah lulus kuliah ataupun selepas SMA pergi merantau ke kota besar, paling banyak Surabaya dan Jakarta. Meninggalkan rumah orang tua untuk meniti karir di tanah rantau, tak jarang juga sekaligus berkeluarga disana.

Om dulu, habis kuliah di Unej langsung aja pergi ke Jakarta, waktu itu tahun 88. Modal berani aja dulu, pelan-pelan mulai lah hasil kerja keras om keliatan, hingga bisa sampai di posisi sekarang ini.

Ujar salah seorang kerabat, yang beliau sekarang sudah memegang posisi penting di salah satu perusahaan swasta di sana.

Konsekuensi dari itu, adalah jarang pulang. Orang tua yang sudah membesarkan anak dengan susah payah, harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ada waktunya harus berpisah dengan anak yang telah dibesarkannya. Terbayang bagaimana bahagianya orang tua ketika bertemu kembali dengan anak-anaknya yang sudah jarang pulang, melepas rindu. Dan pada momen lebaran, hal ini terjadi pada banyak keluarga. Kebahagian kumulatif dari para orang tua yang bertemu kembali dengan anaknya itu menjadi pemandangan menarik bagi saya selama lebaran, selalu.

Kalau kau tau kawan, rindu orang tua pada anak itu jauh lebih besar dari rindu anak kepada orang tua. Percaya itu.

Jember, 29 Agustus 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: