Eid Mubarak (2): Birrul Walidain, Do It !

Kepinginan orang tua itu ga macem macem kok, cuma pengen liat anaknya berhasil.

Melanjutkan dari tulisan saya Eid Mubarak (1): The Happiness of Mass Exodus, yang bercerita mengenai mudik, rindu orang tua, dan kebahagiaannya. Berikut ini saya ingin membahas, satu fenomena yang menjadi dilema bagi sebagian orang.

Kita tau bahwa tujuan merantau adalah meninggalkan zona nyaman, menemukan hal-hal baru, memperluas wawasan, menambah relasi dan tentunya meraih sukses disana. Kita juga tau bahwa konsekuensi dari itu orang tua ditinggal di rumah. Walaupun ketika salah seorang anak sudah berkeluarga, akhirnya juga pisah rumah dengan orang tua. Padahal semakin hari kondisi mereka semakin lemah, seiring usia yang bertambah lanjut. Tidak sedikit orang tua yang menghabiskan masa senjanya dengan hanya berdua di rumah, di kampung halamannya, jauh dari baktinya anak, jauh dari suara keceriaan cucu-cucunya.

Seseorang yang baru saja ibunya tutup umur mengatakan pada saya,
pokoknya selama orang tua masih ada, manfaatkan waktu bersama mereka dengan sebaik-baiknya, bahagiakan, penuhi kebutuhannya, selalu ada di sisinya saat dibutuhkan. Karena ketika mereka sudah dipanggil, sudah terlalu terlambat untuk menyesali.

Itulah dilemanya. Sebenarnya masalah intinya bukanlah jarak fisik dengan orang tua, tapi jarak hati kita dengan orang tua. Ada anak yang dia terpisah jauh dari orang tua, tapi orang tuanya selalu merasakan kehadirannya. Ada pula anak yang satu kota dengan orang tua, namun jarang menjenguk beliau yang sendirian di rumah. Bahkan, tidak hadir disaat-saat terakhirnya beliau.

Saya mengetahui seorang ulama, yang kesibukan beliau sangatlah padat. Memiliki jadwal ceramah dari satu kota ke kota lainnya, lintas propinsi bahkan negara. Namun suatu saat, entah kenapa jadwal memandu umrohnya yang biasanya tujuh hari dipercepat menjadi lima hari. Dan dua hari yang dipercepat itu sengaja dibuat tidak ada jadwal ceramah oleh manajemennya, dengan pertimbangan agar ulama tersebut memiliki waktu untuk beristirahat. Ternyata di hari liburnya beliau, ayahandanya jatuh sakit hingga masuk ICU, dan beliau ada di sisinya ketika nyawa ayahandanya dipanggil oleh yang kuasa. Beliau ikut memandikan, memimpin shalat jenazah, menggotong dan menurunkan jasadnya ke liang lahat. Rupanya Allah sudah mengatur agar beliau berada di sisi ayahandanya di saat saat terakhirnya. Dan hal itu tidak terjadi begitu saja kawan, ternyata ulama tersebut sering berdoa agar diberi kesempataan berada di saat saat terakhir ayahandanya. Doa itu terkabul, aih, indah sekali.

Semoga kita termasuk anak yang berbakti pada orang tua, membuat bangga beliau, menemani di saat tuanya, dan bisa mengantar saat beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, serta menjadi jalan amal yang tidak pernah terputus baginya, sebagai anak sholeh yang selalu mendoakan. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: