Eid Mubarak (3): The Great History That Give Me a Big Lesson

Biasanya bila sudah lama tidak jumpa, hal pertama yang akan ditanya adalah bagaimana kabarnya. Salah satu momen untuk bertemu dengan sanak keluarga adalah saat lebaran, ketika semua orang sedang semangat-semangatnya untuk saling menyambung silaturahim. Seperti di postingan Eid Mubarak saya sebelumnya, bahwa ada waktu dimana masing-masing anggota keluarga menceritakan apa yang sudah dilakukan. Di keluarga saya tidak perlu sebenarnya menjadi seseorang yang ‘wah’ di dunia akademik, atau jalan-jalan keliling Indonesia maupun luar negeri, atau aktif di kegiatan berskala nasional maupun internasional, tidak perlu. Karena yang menjadi standar hanya satu hal, yakni bisa mandiri, punya penghasilan, dan bisa membantu anggota keluarga yang lain, itu saja. Tapi tidak demikian dengan saya, saya punya mimpi untuk lebih dari sekedar bisa hidup mandiri, lebih dari itu, saya punya mimpi untuk nilai kemanfaatan yang lebih besar. Hal ini bukanlah tanpa alasan, ada sejarah panjang, yang membuat saya harus seperti itu.

**

Syahdan ada seorang pemuda tekun dan pekerja keras yang tinggal di Kecamatan Mayang Kabupaten Jember, sebuah desa kecil di ujung timur pulau Jawa. Berawal dari usahanya menjual tembakau di emperan jalan. Seiring waktu yang berjalan, berkat ketekunannya akhirnya dia berhasil mencapai kondisi yang lebih baik, bahkan sangat baik dari segi finansial. Usahanya jauh berkembang sampai dengan skala nasional, juga mencakup lintas negara. Usahanya juga terdeferensiasi dari yang hanya berdagang  tembakau menjadi bertani padi, berdagang daging dan juga konveksi. Memiliki beberapa toko, beberapa gudang tembakau, puluhan bahkan ratusan hektar sawah, sampai-sampai dia tidak lagi boleh membeli sawah atas namanya karena hampir semua sawah di daerah itu miliknya. Dia menjadi orang yang disegani di daerahnya, menariknya bukan karena hartanya ataupun kerajaan bisnisnya, tapi karena kedermawanannya. Dia hanya memiliki seorang anak laki-laki, tunggal. Namun dia memiliki belasan anak angkat. Tiap anak yang diangkat diberikannya rumah dan sawah. Singkat cerita hidupnya sudah sempurna, segala keinginannya terpenuhi. Bahkan konon, dia suka membagi-bagikan beras dari hasil usahanya ke warga sekitar, namun lumbung beras yang terletak di belakang rumahnya selalu terlihat penuh. Selain itu, saat jarang ada yang memiliki mobil apalagi mobil mewah. Namun tercatat saat itu hanya ada dua orang di Jawa Timur yang memiliki mobil mewah berupa Mercedes dua pintu, yakni Gubernur Jawa Timur dan laki-laki tadi.

Yang menarik adalah, harta dunia yang dia kumpulkan tidak untuk dinikmati sendiri. Dengan kepemimpinan bisnisnya, dia ikut menggerakkan perekonomian sekitar, dia menjadi jalan bagi banyak orang untuk memperoleh penghidupan, pekerjanya ribuan. Belum lagi sedekah dan hadiah yang sering dia berikan kepada warga di desa tersebut, seperti membiayai sekolah, membagikan beras, wakaf barang untuk masjid, bahkan pemakaman di desa tersebut adalah tanah wakafnya yang sampai saat ini, 37 tahun setelah dia wafat, masih dimanfaatkan oleh warga di desa tersebut. Tiap masa panen, sebelum dijual selalu dipisahkan terlebih dahulu bagian yang harus dizakatkan dari hasil bumi tersebut, yang menjadi salah satu rahasia suksesnya. Nama dari laki-laki tersebut adalah Hasan, dimana namanya dikenal oleh banyak orang mulai dari buruh di desa, para relasi bisnisnya di Jember bahkan pejabat di Jawa Timur.

Itulah sekelumit kisah tentang ayah dari kakek saya. Saya biasa memanggilnya Mbah Hasan. Kakek saya sendiri bernama Yahya, yang cucunya memanggil beliau “jiddih” sedangkan istri beliau kami panggil “babah”. Setelah Mbah Hasan wafat, Mbah Yahya yang kemudian meneruskan kerajaan bisnis yang sudah Mbah Hasan bangun. Namun dalam kepemimpinannya, bisnis yang dijalankan mengalami banyak kemunduran. Kapitalisasi bisnisnya perlahan mulai menurun. Aset yang dimiliki tidak berkembang, bahkan sebagian besar harus dijual. Menurut saya hal ini bukan disebabkan karena kepemimpinan atau manajemen bisnisnya yang buruk. Karena menurut beberapa relasi beliau yang bercerita pada saya, Mbah Yahya itu sosok yang luar biasa, jiwa pemimpinnya tidak kalah dengan Mbah Hasan, pun juga kepopulerannya. Namun saya perhatikan, faktor diluar diri beliaulah yang membuat bisnisnya menurun, bahkan akhirnya hancur, mulai dari dikhianati oleh orang kepercayaannya, sampai dengan faktor lingkungan keluarga yang mana saat itu berperilaku hidup mewah, sangat mewah bahkan. Hingga akhirnya, kerajaan bisnis dengan harta konon orang bilang tidak akan habis sampai tujuh turunan, itupun collapse. Kemudian Mbah Yahya wafat, waktu itu saya berumur 6 tahun, dengan meninggalkan beberapa aset yang diwariskan kepada ayah saya dan dua saudaranya seperti rumah, tanah, sawah dan gudang.

Guru saya berkata bahwa bila yang diwariskan oleh orang tua kepada anak itu berupa harta, tanpa bekal kemampuan yang cukup untuk mengelolanya, sebanyak apapun itu nantinya pasti akan habis. Saya mengamini hal itu. Karena memang di keluarga saya juga terjadi seperti itu. Perlahan, aset yang ditinggalkan pun mulai dijual. Pilihan yang berat dan sangat disayangkan, mengingat perjuangan untuk mendapatkannya. Bahkan sampai relasi Mbah Yahya yang masih hidup, yang seorang Chinese, pernah bertanya pada saya

Rumahnya kamu yang disana itu gimana kabarnya? Abanya (kakek) dulu butuh perjuangan keras untuk dapetin rumah itu. jangan sampe dijual ..

Ndak kok, yang itu ga akan dijual. Rencananya rumah yang itu dibuat untuk tempat kumpul-kumpul keluarga besar nantinya.

Jawab saya, yang itu mengulang dari jawaban ayah saya ketika ditanya oleh seorang relasi yang lain. Di satu sisi saya kagum luar biasa pada ayah saya, dengan kondisi yang sekarang sedang sulit pun, tetap memiliki idealisme untuk mempertahankan peninggalan dari kakek. Bukan sekedar sebatas kenangan, tapi sebagai bukti hasil perjuangan, yang memacu motivasi generasi dibawahnya untuk selalu bekerja keras dan melakukan yang terbaik. Dan itu berhasil.

**

Suatu hari saya pernah bertanya pada ibu saya, kenapa banyak sekali orang yang mengenal saya di daerah saya, padahal saya tidak mengenal mereka. Jawaban dari ibu adalah, karena saya cucu pertama dari anak pertama seorang tokoh yang cukup dikenal, yang saat kecil saya sering dibawa jalan-jalan oleh beliau. Belakangan saya baru tahu bahwa orang yang mengenal saya itu kebanyakan pernah dibantu oleh kakek saya.

Sudah cukup sering saya mendengar testimoni seperti ini,

Mbahnya kamu itu le .. orangnya kaya luar biasa, tapi dermawan .. jarang ada orang kayak gitu

Juga harapan,

Dulu pas bu lek kecil, bu lek banyak dibantu sama mbahnya kamu, dulu semua anak di mayang ini ikut mobilnya mbahnya kamu buat pergi sekolah ke jember, waktu itu belum ada yang punya mobil. Smoga kamu ngembaliin masa jayanya mbahnya kamu Semoga kamu jadi orang sukses ya dil, ..

Dalam beberapa kesempatan saya bangga, bahwa dalam garis keturunan keluarga saya ada orang yang menjadi tokoh yang membawa keluarga saya mencapai masa jayanya. Namun di sisi lain ada beban sejarah yang saya tanggung, untuk mengembalikan masa jaya itu, ketika banyak orang berharap besar pada saya. Saya menyadari sepenuhnya, bahwa kesuksesan itu adalah milik Mbah Hasan, juga Mbah Yahya. Ya kesuksesan itu milik beliau. Bukan milik anak-anaknya, bukan milik cucu-cucunya, bukan milik saya. Saya berusaha untuk tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, tapi menjadikan hal itu sebagai api motivasi untuk kembali mengulang sejarah kesuksesan itu, kesuksesan milik saya, dengan prestasi-prestasi dan karya-karya saya.

Dalam satu kesempatan eyang saya yang di Pasuruan,  berkata

Kamu itu dil, kalo di rumah eyang di Pasuruan sering banget kita omongin. Kamu eyang jadiin contoh, biar cucunya eyang yang disana juga bisa kayak kamu.

Mendengar itu saya hanya tersenyum, seandainya eyang tahu pencapaian yang seharusnya saya capai , dibandingkan dengan pencapaian kakek, pasti tidak akan keluar komentar seperti itu. Karena saya masih belum ada apa-apanya. Karena masih sangat banyak yang harus saya lakukan, banyak sekali.. yang harusnya itu membuat saya bekerja keras, kerja keras sekali lebih dari yang lain .. kerja keras sampe cek nemene .. Bukan semata-mata untuk mengejar dunia, terlalu kecil tujuan itu. Namun diniatkan untuk nilai kemanfaatan yang lebih besar .. insyaAllah ..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: