Refleksi 84 Tahun Sumpah Pemuda

Malam itu langit bumi wiladatika lebih terang dari biasanya. Rembulan nampak kuning bersinar dengan anggunnya, namun bukan itu yang membuat terang, cahaya dari kunang-kunang yang sedang berkumpul di sanalah penyebabnya.

Malam itu, adalah malam  terakhir kebersamaan mereka sebelum esoknya kembali ke tempat masing masing: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Malam itu, 28 Oktober 2012, memang suasananya tampak lebih sendu. Kesenduan tersebut semakin terasa saat mereka memasuki ruangan yang hanya diterangi lilin-lilin kecil, diiringi suara lirih beberapa pemuda yang sudah menunggu di dalam

Kami putra dan putri Indonesia mengaku, bertanah air satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku, berbangsa  satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan puri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Hening.

Kemudian senandung berirama Jawa terdengar menjadi satu-satunya suara yang ada di sana. Diikuti oleh empat orang pemuda yang beranjak dari tempat duduknya, sambil membawa lilin. Perlahan, bersama, menuju ke tengah ruangan untuk menyalakan lilin yang lebih besar. Ruanganpun menjadi lebih terang.

Refleksi 84 tahun sumpah pemuda

84 tahun  yang lalu para pemuda dari berbagai daerah, berbagai latar belakang, berikrar untuk melakukan perubahan bagi bangsa Indonesia, membuat bangsa ini merdeka.

Saat ini, setelah 84 tahun berlalu, generasi pemuda setelahnya juga berkumpul, untuk merenungi kembali masa itu. mengembalikan semangat sumpah pemuda yang dulu pernah ada, semangat yang membuat negri ini meraih kemerdekaan.

Karena kemerdekaan yang dirasakan sekarang ternyata semu
Karena bangsa ini masih dijajah: kedaulatan, ekonomi, budaya, juga pemikiran
Karena perjuangan masih harus terus berlanjut ..

Nak, sampaikanlah  kebenaran, walaupun itu akan melukaimu ..

Bunda Tatty dengan diiringi petikan gitarnya, menyampaikan bagaimana kondisi bangsa ini, dan harapan besarnya untuk para pemuda. Pemuda dalam ruangan itu tampak terenyuh, merenungi tiap-tiap kata yang diucapkan. Tidak terkecuali juga panitia yang menyimak dengan hikmat, yang merancang  konsep renungan ini.

Bahwa hidup ini bukan sekedar untuk hidup enak sendiri, karena bangsa ini menunggu karya kalian nak ..

Ujar bunda melanjutkan puisinya ..

Lawanlah kezaliman ..
Bergeraklah dalam barisan yang teratur ..

Saat itu, aku yang duduk sambil menyandar pada dinding, bersama panitia lainnya juga tak kuasa menahan haru. Ya. Kami merasakan hal yang sama, perasaan bersalah karena selama ini hanya mementingkan urusan diri sendiri, .. Perasaan marah pada diri sendiri, karena tidak mau tahu terhadap kondisi bangsa ini, perasaan menyesal karena belum berbuat apa-apa untuk bangsa ini . Semua rasa itu campur aduk di hati kami.

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh

Tak akan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Bunda menutup puisinya dengan senandung tanah air, dan kami pun tak kuasa menahan haru. Terlihat beberapa orang mengusap wajahnya, menangis.

Aku pun tidak kuasa menahan air mata.

Tersadar, sering kali kita lupa, bahwa tujuan penciptaan kita adalah untuk memakmurkan bumi. Ya, membuat bumi ini menjadi makmur. Padahal bangsa ini menaruh harapan besar kepada para pemuda. Namun yang kita lakukan, yang kita perjuangkan  hanyalah hal-hal  yang menjadi kepentingan kita, yang bermanfaat hanya untuk diri sendiri. sedikit sekali kita melakukan sesuatu demi kepentingan orang banyak. Juga diam saja ketika terjadi kezaliman, acuh terhadap ketidakdilan.

Di penghujung renungan, dengan mata yang masih sembab, kami bergandengan tangan, berangkulan, sambil semua pandangan tertuju pada cahaya lilin di tengah ruangan. Semacam simbol, bahwa kami akan bergerak bersama menuju satu tujuan, mewujudkan Indonesia merdeka, sebenar-benarnya merdeka.

Aku untuk Bangsaku!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: