Sekolah 5 cm atau 50 cm ?

Kehidupan itu ibarat roda yang berputar, kadang di atas kadang juga di bawah

Entah sudah berapa kali saya mendengar kalimat seperti itu. Sampai lupa kapan dan dari siapa pertama kali saya mendengarnya. Memang, hidup tidak selamanya mengenai keberhasilan dan hal-hal yang menyenangkan bagi kita, tapi ada kalanya mengalami episode kegagalan dan hal-hal yang tidak menyenangkan.

Seperti yang saya alami sekarang, dulu ketika masih S1 saya termasuk yang the best di kelas untuk urusan nilai, pun disibukkan dengan aktivitas di organisasi nilai saya tidak terganggu, rasanya saat itu cukup mudah bagi saya.

Singkat cerita di S2 saya sudah melepaskan hampir semua kegiatan di organisasi, waktu diprioritaskan untuk dua hal utama yang saya lakukan yaitu kuliah dan bisnis. Sempat terpikir bahwa saya sudah merasa cukup untuk ilmu teori, dan lebih asyik ketika melakukan aktivitas di luar kelas seperti menangani permasalahan di bisnis juga permasalahan-permasalahan lainnya di kehidupan sesungguhnya.

Meminjam istilah Prof. Rhenald Kasali, saya menjadi lebih asyik untuk belajar di sekolah 50 cm (praktek) daripada sekolah 5 cm (teori, otak saja). Karena alasan itu saya tidak sepenuh hati ketika ada ujian atau tugas, mungkin bersemangatnya hanya ketika diskusi di kelas. Target IPK yang saya pasang pun tidak terlalu muluk-muluk, pokoknya lewat standar minimal yaitu 3.

Dan yang terjadi sesuai dengan effort yang saya lakukan, nilai dari modul-modul yang telah dijalani didominasi oleh angka B. IPK pun tidak beranjak jauh dari angka 3.

Nah dari sinilah kegelisahan itu timbul. Mulai muncul pertanyaan, apa sudah benar dengan cara yang saya lakukan seperti ini? Apa cukup puas dengan nilai itu sementara kawan yang lain bisa dapat yang lebih baik dari yang saya dapat?

Ketika hal ini saya ceritakan ke mama, beliau menasehati

“Emang ga bisa kamu tingkatkan lagi nilainya ya nak?”

“Bisa sih ma, tapi kan aku emang niatnya ga cuma cari nilai aja tapi juga cari pengalaman diluar, waktu dan fokusnya ke bagi, jadi ya gitu hasilnya”

“Iya mama ngerti, tapi bukan alasan untuk kamu ga maksimal di akademik, coba ditingkatin lagi ya..”

Saya hanya terdiam.

Di lain kesempatan, ceritanya salah liat jadwal sehingga saya datang ke kelas satu jam lebih awal dari jadwal seharusnya. Tidak heran kalo kelas masih kosong, tapi saat itu dosennya sudah datang. Beliau seorang praktisi dari PT. Dirgantara Indonesia (dulu IPTN) yang untuk  pertama kalinya mengajar di kelas saya untuk menjelaskan modul mengenai Entrepreneurial Process. Kemudian mengobrollah kami yang memang hanya berdua di kelas.

Beliau menanyakan aktivitas dan interest saya, juga bagaimana akhirnya saya mendapatkan beasiswa, dan banyak hal lain yang kami bahas. Sekalian saja saya curhat mengenai prinsip saya mengenai kuliah sambil mencari pengalaman diluar, meminta pendapat beliau. Saat itu saya melihat raut wajahnya berubah.

Kemudian beliau menanggapi,

“Saya setuju kalo berbekal teori saja tidak cukup untuk kamu ketika bekerja di industri, harus ada softskill dan pengalaman yang menyertainya. Tapi menjadi kurang bijak ketika kamu tidak sungguh-sungguh untuk memperdalam ilmu kamu, karena tetap, industri itu butuh orang yang berwawasan luas dan pintar.

Dan ketika kamu mendapat beasiswa, itu artinya kamu mendapatkan kepercayaan, jangan sia-siakan kepercayaan itu, lakukanlah yang terbaik. Buktikan bahwa mereka tidak salah saat memberikan beasiswa itu ke kamu.

Pak Habibie selalu bilang ke anak buahnya, quality depends on detail, beri kualitas terbaik dari setiap yang kamu lakukan!”

HIngga akhirnya saya kembali menyadari, bahwa kedua-duanya penting, baik sekolah 5 cm dan sekolah 50 cm. Tidak boleh mengorbankan salah satu. Kabar baiknya, masih ada waktu untuk memperbaiki di beberapa modul yang tersisa.

Semoga penyesalan yang belum terlambat ini berakhir indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: