Sosok itu, adalah Bung Hatta

Akhirnya setelah tiga minggu berjibaku dengan buku otobiografi Mohammad Hatta (Bung Hatta), saya menyelesaikannya sampai jilid terakhir. Semakin saya baca lembar demi lembar, semakin menambah kekaguman saya terhadap beliau. Di buku itu, beliau mendeskripsikan perjalanan hidupnya secara detil sedari masih kecil di Bukittinggi, masa studinya di Belanda, sampai pada detik-detik ke gerbang kemerdekaan.

Uniknya, beliau hanya mendeskripsikan peristiwa demi peristiwa  tanpa disertai komentar ataupun pendapat beliau terhadap hikmah yang diambil dari peristiwa tersebut sehingga pada beberapa bagian, saya harus berhenti sejenak dari membaca untuk memikirkan pelajaran apa yang bisa diambil. Dan tidak ada yang tau pasti kenapa beliau hanya menulis sampai pada Desember 1949.

Namun mungkin ada hubungannya dengan beberapa penyataan bahwa bagi beliau, ada dua peristiwa besar yang paling menggembirakan dalam hidupnya. Pertama adalah ketika beliau bersama Sukarno, atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Peristiwa kedua adalah ketika penyerahan kedaulatan dari Belanda oleh Ratu Juliana kepada Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949 yang diwakili oleh beliau sebagai perdana menteri.

Bung Hatta adalah orang yang sangat teliti dan mempunyai kemampuan yang menakjubkan, tidak saja untuk meramalkan masa depan Indonesia, Asia Pasifik dan Eropa, melainkan juga dalam mengingat hal-hal kecil hingga jam dan menit. Hal itu tidak selalu hanya didukung catatan, namun karena beliau selalu konsisten dalam berpikir. Begitu komentar Meutia Hatta, putri beliau

hattaa

Beliau adalah seseorang yang tidak bisa lepas dari buku, bahkan ketika dibuang ke Banda Neira beliau membawa koleksi buku-bukunya yang berjumlah 16 peti besi.

Beliau juga dikenal konsisten dalam berjuang dengan tulisan yang ditujukan untuk mendidik rakyat, diantaranya Tujuan dan Politik Pergerakan Nasional Indonesia, Indonesia Vrij (Merdeka), Jalan Sempit, di atas segala lapangan tanah air aku hidup aku gembira, Krisis Ekonomi dan Kapitalisme.

Dari sosok beliau, saya mulai punya pandangan lain mengenai dunia politik. Beliau tahu betul fungsi dari politik sebagai sarana untuk melakukan revolusi, untuk melakukan perubahan besar, merubah bangsa yang terjajah menjadi merdeka.

Dan perjalanan beliau di dunia politik penuh dengan konflik, seperti ketika beliau ditahan di Denhaag oleh pemerintah Belanda selama lima setengah bulan karena aktivitasnya di Perhimpunan Indonesia dan majalah Indonesia Merdeka, kemudian ketika terlibat konflik dengan Sukarno dan Partindo nya sedang Hatta dengan PNI nya, karena perbedaan Ideologi, begitu juga ketika diasingkan ke Boven Digul selama sepuluh bulan dari Januari sampai November1935 dan di hampir tujuh tahun di Banda Neira dari November 1935 sampai Januari 1942. Namun beliau tetap konsisten dengan mimpinya, Indonesia merdeka.

Dari peristiwa-peristiwa yang beliau ceritakan, bagian yang paling menarik buat saya adalah saat beliau membuat surat pembelaan terhadap penahanannya ketika berada di Den Haag, suatu tulisan yang terasa sekali ideologinya dan kecintaannya terhadap rakyat yang dibelanya, berikut saya kutipkan bagian akhir dari surat pembelaannya:

Tetapi, pemuda Perhimpunan Indonesia tahu menderita, sebagaimana tiap-tiap pemuda bangsa yang terjajah harus menderita. Masa mudanya bukan bulan terang seperti masa mudanya putra bangsa yang merdeka. Pada masa mudanya mereka menderita dan memberikan berbagai pengorbanan.

Tetapi, semuanya ini membina pikirannya dan karakternya dalam perjuangan untuk cita-cita yang mengubik dan memanggil. Panggilan suara rakyat Indonesia yang banyak serasa terdengar dan menggembirakan merekam, dan bersama dengan rakyat banyak itu mereka mau berjuang.

“Kami percaya masa datang bangsa kami dan kami percaya atas kekuatan yang ada dalam jiwanya. Kami tahu bahwa neraca kekuatan di Indonesia senanitasa berkisar ke arah keuntungan kami. “orang katakan-kata Indonesia Merdeka- bahwa bangas kami, yang besar di masa lampau tidak lagi mampu untuk mendukung kebesaran di masa datang bahwa tidak mungkin lagi mengatasi garis yang menurun. Kami tidak akan mengadili bangsa kami, sejarah akan menentukannya.

“Sinar merah masa datang sudah mulai menyingsing sekarang. Kami menghormati itu sebagai datangnya hari baru. Pemuda Indonesia harus menolong kami mengemudi ke jurusan yang benar. Tugasnya ialah mempercepat datangnya hari baru itu. Ia harus mengajar rakyat kami kegembiraan, bukan sengsara saja yang harus menjadi bagiannya. Mudah-mudahan rakyat Indonesia merasa merdeka di bawah langitnya dan muda-mudahan mereka merasa menjadi Tuan sendiri dalam negara yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka.

“Yang Mulia Tuan-tuan Hakim!”

“Sekarang aku sedang siap menunggu keputusan Tuan-tuan tentang pergerakan kami. Kata-kata Rene de Clerq, yang dipilih pemuda Indonesia sebagai petunjuk, hinggap di bibirku:

“Hanya ada satu tanah yang dapat disebut Tanah Airku,

Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku”.

Kita yang dilahirkan sebagai pemuda dari bangsa yang merdeka, harusnya malu, bila tidak memiliki tekad yang minimal sama besar, seperti tekad yang dimiliki pemuda dari bangsa terjajah, seperti yang disebutkan Bung Hatta.

Takdir mereka adalah merebut kemerdekaan dan mempercepat datangnya hari baru itu, Indonesia merdeka. Takdir kita, adalah mengisi kemerdekaan dan mempercepat datangnya masa baru itu, Indonesia adil dan sejahtera.

Dan terakhir, bagi Bung Hatta, negara Republik Indonesia harus menjadi negara pengurus yang melayani rakyat, negara hukum yang memberi keadilan bagi bangsa, bukan negara kekuasaan. Negara harus mampu mendesain arah pembangunannya sendiri dan melihat bangsa lain setara dengan dirinya.

Bandung, 14 Maret 2013

*Bung Hatta lahir 12 Agustus 1902 dan wafat pada 14 Maret 1980. Tulisan ini dibuat untuk mengenang wafatnya beliau, 33 tahun yang lalu.
Semoga perjuangan dan pengorbanan beliau dibalas dengan tempat terindah disisiNya. aamiin. 

Advertisements

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: