Ibrahim Imaduddin Islam

Bulan April 2009, saat itu adalah masa-masa awal saya berkenalan dengan dunia dakwah kampus. Entah ada angin apa, panitia event Bedah Karakter saat itu meminta saya untuk menjadi MC pada acara yang menghadirkan Habiburahman El-Shirazy atau yang lebih akrab disapa kang Abik. (lengkapnya dapat dilihat di Notes about Gamus: Be Master of Ceremony)

Assalamualaikum. Ini dengan afdil ya? Saya Eel gamus 2007, panitia bedah karakter. Apa bisa jadi MC untuk tanggal 9 April?

Iya teh, tapi saya ga punya pengalaman jadi MC. Gimana?

Tenang aja, nanti kamu ngeMCnya berdua bareng Baim Gamus 2007.

Oh gitu, oke teh. Kabari lagi aja nanti kalo ada kumpul panitia.

Singkat cerita, malam saat gladi resik acara saya datang untuk mempersiapkan event esok harinya. Saat itu pertama kalinya saya dipertemukan dengan Ibam (Baim). Sosok  yang akan saya ceritakan disini,

Kang Baim ya? Saya Afdil 2008, yang bakal jadi partner MC.

saya masih ingat pertanyaan pertamanya,
kamu sudah pernah nge-MC

 Belum kang.

Hm. Ya udah, nanti biar saya yang mulai dialognya kamu tinggal jawab dan nambahin aja.

“Siap!” jawabku.

Sebelumnya saya belum pernah melihatnya, yang ternyata dia juga aktif di Gamus. Satu tingkat di atas saya. Alasan dia tidak pernah terlihat karena memang dia mengambil cuti satu semester, karena harus membagi waktu dengan kuliah lainnya di Unpad.

Itulah awal perkenalan saya dengannya. Saya sama sekali tidak tahu, bahwa nantinya akan banyak inspirasi yang saya dapatkan darinya.

Tugas menjadi MC itu akhirnya bisa diselesaikan dengan baik. Pun cukup terlihat perbedaan antara saya yang baru pertama kali ngeMC dengan dia yang sudah punya banyak pengalaman. Dan dari event itu pula, perlahan tapi pasti saya mulai menjadi MC tetap di organisasi tersebut, karena tidak ada yang lain.

Sejak saat itu interaksi saya dengan Ibam mulai sering. Kepengurusan berikutnya kami berada di satu departemen. Dia beberapa kali meminta saya untuk jadi MC di acara yang dia menjadi ketua panitianya, diantaranya adalah acara sekolah mentor.

Saya juga sempat menjadi adik mentornya, saat itu bersama dua orang lainnya kami mentoring perdana di masjid Salman ITB. Dia memberikan materi tentang surat As-Shaff. Tentang pentingnya berada di barisan yang teratur dan membentuk tim untuk melakukan perubahan.

Ibam yang saya kenal adalah seorang yang idealis dalam arti yang positif, memiliki ide dan pandangan yang jauh ke depan. Cukup berbeda dengan karakter mayoritas orang-orang di organisasi kami yang masih kaku, juga di kampus yang memiliki resistance tinggi terhadap perubahan. Bahkan dari obrolan saya bersama presiden BEM saat itu, ketika saya masih aktif menjabat, bahwa Ibam itu hadir terlalu cepat beberapa tahun di kampus, sehingga lingkungan yang ada saat itu belum mendukung.

Kami sering bertukar pikiran tentang hal itu, kebetulan saya memiliki idealisme yang sama mengenai bagaimana organisasi dan kampus ini harus dijalankan, khususnya organisasi yang kami ikuti saat itu.

Statusnya sebagai senior, satu tingkat di atas saya membuat kami memiliki waktu lebih untuk memperbaiki dan merubah banyak hal, yang tidak bisa dilakukan di periodenya, akan saya wujudkan di periode kepengurusan saya. Proses seperti itu sudah terjadi beberapa kali.

***

Pada awal tahun 2010, saya bersama dua orang sahabat saya di kampus, memutuskan untuk mengikuti organisasi di luar kampus, saat itu kami bertiga mengikuti seleksi untuk bergabung pada KARISMA ITB. Dan di sana kembali saya bertemu dengan Ibam.

Dari sini saya mulai menemukan jawaban, bahwa diantara mobilitasnya yang tinggi saat itu KARISMA menjadi prioritasnya. Saya melihat totalitasnya disana. Hal ini juga didukung dengan budaya organisasi di sana yang lebih dinamis, cocok sekali dengan karakternya.

Satu momen yang saya cukup ingat adalah, ketika laporan pertanggung jawabannnya sebagai salah seorang dari lembaga tinggi di Karisma, saya tahu betul totalitas dan pengorbanannya selama kepengurusannya. Namun majelis memutuskan untuk menolak pertanggung jawabannya. Dan pada momen itu, pertama kalinya saya melihat dia menangis. Yang juga diikuti oleh tangis seluruh peserta sidang yang ada di ruangan itu. ( lebih lengkapnya bisa dilihat di Suka Duka di Sidang Umum Karisma ITB)

Kemudian cerita berlanjut pada pertengahan 2011. Saat itu kami berdua magang di tempat yang sama, di kantor Telkomsel pusat Jakarta. Kami tinggal di rumah uwa’nya di Jatiwaringin, sedangkan kantor berada di Gatot Subroto.

Banyak cerita  pada saat itu, mulai dari berjibaku naek busway, langganan makan soto betawi di warung dekat kantor, menorobos jalur busway ketika naek motor sampai dengan ditilang bareng.

Selama hampir dua bulan dari bangun tidur sampai mau tidur lagi kami selalu bersama. Dari sana saya semakin mengenalnya, pun dia angkatan 2007 ternyata kelahiran 1990, sama dengan saya. Bahkan saya mau dijodohkan oleh uwa’nya dengan sepupunya. Haha. Ga kebayang kalo jadi iparnya. 😀

Pada saat kami magang itu juga saya diajak, lebih tepatnya dijebak (ke jalan yang benar) untuk menghadiri sebuah acara yang dilaksanakan di Bogor. Saya baru mengetahui bahwa itu adalah acara internal organisasi, ketika sudah sampai di sana. Bingung karena orang-orang disana sudah saling kenal, dan kekeluargaannya terasa kuat sekali. Nama organisasi itu Forum Indonesia Muda (FIM).

Jadi selama saya mengenal Ibam, kami beririsan di tiga organisasi, Gamus, Karisma, dan FIM. Dari ketiga organisasi itu, saya mempelajari bagaimana pola organisasinya. Dan sepengetahuan saya, dia selalu totalitas di tiap organisasi yang diikuti. Hampir selalu memiliki peran penting.

Di sini saya melihat, bahwa hal ini tidak lepas dari idealisme yang selalu dibawanya. Mungkin bagi beberapa orang, idealismenya itu cukup merepotkan, terlalu tinggi, terlalu jauh. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya di tiap organisasi harus selalu ada orang yang memiliki idealisme seperti itu, demi perkembangan organisasi, dan dia mengambil peran itu dengan baik.

Pun kalo dilihat lebih dalam semua itu sebenarnya berasal dari keinginannya untuk melihat organisasi yang diikutinya menjadi lebih baik. Itu semua bersumber dari kecintaannya pada organisasi yang diikutinya, pada orang-orang disekelilingnya.

Berikutnya, saya cukup terkagum dengan networkingnya yang luas. Selain karena sering tampil menjadi MC di banyak acara, dia memang mudah akrab dengan orang lain. Juga cepat sekali dia mendapat info mengenai kondisi terbaru dari orang-orang disekitarnya.

Terakhir, ini juga yang saya salut padanya, dia orang yang pandai untuk membuat orang disekitarnya merasa spesial. Baik dengan perhatian yang dia beri juga dengan kejutan-kejutan yang dilakukannya. Pandai sekali dia berkonspirasi untuk membuat surprise. Sudah banyak ini korbannya.

***

Seperti bintang,

ada kalanya kehadiran sahabat itu tak terlihat

namun yakinlah,

bahwa dia selalu ada untuk kita.

Hari ini 16 Maret 2013,

jadi ceritanya tulisan ini spesial buat miladnya ibaammm yang ke 23,

Semoga makin sholeh, tercapai inginmu, terus berkarya dan terus menginspirasi bro .. 😀

407668_4457545968351_977908719_n

Bandung,
16 Maret 2013





Advertisements

6 responses

  1. ryanalfiannoor | Reply

    selamat ulang tahun buat ibam.. semoga pertautan silaturahimnya tetap terjaga ya afdil..

  2. Afdil so sweet bangeet..
    Tulisannya persembahan buat calon ipar ya, dil? :p

    1. nah itu dia, who knows .. hhaa 😀

  3. uhuk…Afdil ini perhatian banget yaaa… (bukan perhatian karena dijodohin kan? :p)

  4. baru baca tapi cool! 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: