Cerita tentang Seorang Ayah

Aku tidak pernah meminta untuk diperlakukan istimewa sejak aku kecil. Aku juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan di keluarga terpandang. Aku tidak pernah meminta agar banyak orang, bahkan mungkin setiap orang di sudut desa untuk mengenalku.

Mungkin, anak seumurku di luar sana, ada yang iri dengan semua kenikmatan yang diberikan padaku. Ya, sekali lagi semua itu diberikan padaku, tanpa aku memintanya. Aku tidak pernah meminta semua itu, namun Allah sepertinya punya rencana lain ..

Cerita di atas adalah bukan tentangku. Meskipun dalam ceritaku juga banyak mengalami kemiripan seperti yang aku sebutkan di atas. Cerita tersebut adalah tentang seseorang yang sangat penting buatku, yang Allah mempercayakan kasih sayangnya padaku melalui perantaraan beliau, dia adalah ayahku.

Aku sendiri dibesarkan oleh seorang ayah yang berdarah Madura asli, suatu suku yang memang dikenal dengan karakternya yang cukup keras. Namun itu diimbangi oleh ibu, yang aku memanggilnya dengan sebutan mama, yang berdarah Jawa, pas sekali dengan karakternya yang begitu lembut.

Walaupun masa kecilku tidak se ‘wah’ masa kecil ayahku, pun aku juga tidak banyak ingat, tapi orang-orang bercerita bahwa orang tuaku, juga keluarga besarku begitu memanjakanku. Anak pertama, juga cucu pertama dari kedua keluarga. Kalung dan gelang emas tidak lepas dari tubuhku, begitu kata mereka. Mungkin itu yang membuatku tumbuh menjadi anak yang manja, bila aku menginginkan sesuatu harus terpenuhi.

Kemudian ketika aku mulai beranjak memasuki dunia sekolah, aku tumbuh menjadi seorang yang penakut terhadap dunia luar. Apalagi ketika bertemu orang asing. Entah, apakah karena terbiasa dimanja, atau memang karakterku dari lahirku yang seperti itu. Padahal hampir setiap orang mengenalku, meski aku tidak mengenal mereka. Lebih tepatnya karena aku adalah anak dari ayahku, yang begitu populer bagi mereka.

Memasuki dunia sekolah, aku merasa ada perubahan perlakuan dari kedua orang tuaku. Mama masih baik, dan akan selalu baik. Namun ayah, mulai berubah menjadi keras terhadapku saat aku berbuat salah. Bila saja aku berbuat nakal, lupa waktu saat bermain, tidak mau belajar, juga  ketika membuat adekku menangis, pasti aku dimarahi. Dan bila memang sudah parah sekali kesalahanku, aku akan dimasukkan ke kamar gelap. Sebuah kamar kosong yang tidak ditempati, tidak ada lampu, dan aku takut sekali bila sudah dikunci di kamar itu.

Oia, yang aku ingat sekitar saat aku baru berumur enam tahun, ayah sering kali berkaraoke di rumah menyanyikan lagu Rinto Harahap, dengan judul ‘Ayah’. Belakangan aku baru tau, bahwa kakek suka lagu itu, ayah juga suka lagu itu, tidak tau apakah ini turunan, tapi aku juga suka sekali lagu itu.

Kemudian mulai memasuki kelas tiga SD, aku sudah jarang sekali masuk kamar gelap, aku tumbuh menjadi anak penurut, bahkan berprestasi di sekolah. Selalu masuk tiga besar sampai kelas enam, juga sampai mewakili Jember dalam mengikuti lomba tingkat provinsi.

Orang tua yang menyekolahkanku jauh ke kota, antar jemput tiap hari, bahkan seringkali tertidur di mobil saat menungguku kursus untuk lomba, seakan semua pengorbanan terbayar dengan prestasiku itu.

Mulai saat itu, seakan ada autopilot bagiku untuk maksimal di akademik, masuk SMP dan SMA favorit di Jember, bahkan sampai bisa kuliah di Bandung tanpa tes, hanya dengan bermodalkan nilai raport yang baik. Ketika orang tua lain harus begitu represif dan intens memperhatikan akademik anaknya, ayah mama hanya sesekali mengingatkanku dengan pertanyaan ‘sudah belajar belum?’, cukup itu saja.

Yang menarik, orang tuaku disini, khususnya ayah, seiring aku tumbuh menjadi seorang remaja, kemudian memberi kebebasan padaku untuk melakukan hal apapun yang aku sukai, seolah mendorongku untuk mengexplore, belajar dari dunia. Aku pun tidak pernah dimarahi ketika sering kali maen ke luar rumah, ditambah sejak kelas dua SMP aku dibelikan motor built up  Nova Sonic, yang bagi orang tua lain mungkin itu cukup berlebihan, baik dari sisi waktu yang terlalu dini, juga dari harga.

SMP, aku seringkali bermain game online sampai sore, bahkan sampai hari gelap. Aku juga beberapa kali main bola di tengah teriknya matahari, yang ketika pulang rumah kulitku sudah belang. Bila sudah seperti itu paling mama yang ngomel, tapi ayah tidak marah.

Ketika duduk di bangku SMA, adalah masa-masa mulai terjangkit virus merah jambu. Saat itu masih tidak banyak yang berani pacaran, dari satu sekolah mungkin bisa dihitung dengan jari. Hambatan yang paling besar saat itu, selain diwanti-wanti oleh guru, juga sebagian besar orang tua teman-temanku melarang anaknya, dengan alasan untuk fokus belajar dulu. Termasuk aku juga sering kena imbasnya, bila bermain ke rumah teman kena wanti-wanti, kena nasehat juga.

Namun kebijakan dari ayah berbeda, malah ayah seringkali bertanya menantang , ‘siapa pacarmu sekarang? sini kenalkan ke ayah..’ ujarnya
dan pastinya, kesempatan itu tidak aku sia-sia kan.. hhe.

Menariknya, kebijakan ayah terhadap adek perempuanku berbeda 180 derajat. Dia sama sekali tidak boleh pacaran. Tidak mendapat ijin. Dia seringkali mempertanyakan kenapa perlakuannya berbeda, tidak adil. Aku suka tertawa bila mengingatnya, membayangkan muka sebel adek. Namun belakangan aku tau kenapa ayah demikian melarang, adekku juga tau itu. Karena sejatinya ayah menyayangi kami, dengan cara yang berbeda.

Saat SMA juga, aku belajar nyetir mobil, ayah sendiri yang mengajariku. Aku tau ayah bukan seorang yang telaten untuk mengajari, dan memang sempat dapet marah ketika aku membuat goresan yang cukup panjang di body mobil samping. Tapi akhirnya aku diijinkan untuk membawa sendiri ke sekolah. Di saat anak seusiaku belum dapet ijin. Senang sekali rasanya saat itu ..

Namun dari semua kebebasan itu aku menjadi seringkali berpikir, bahwa aku harus bisa mempertanggung jawabkan kebebasan yang diberikan, diantaranya dengan menjaga nilai akademik, rutin sholat, dll. Mungkinyang agak miss adalah aku tidak lancar baca quran, meskipun saat itu aku sudah hampir lulus SMA.

Termasuk yang aku syukuri, untuk soal cita-cita, ayah mama tidak pernah memaksakan aku harus jadi apa. Aku pengennya jadi apa, ridho ayah mama selalu menyertai.

Dampaknya cukup aku rasakan ketika aku kuliah di Bandung. Biasa dibesarkan dengan diberi kebebasan memilih tindakan dan mempertanggung jawabkan konsekuensinya, membuatku cukup siap hidup benar-benar ‘bebas’, dengan jauh dari pengawasan orang tua.

Ketika teman-temanku yang lain mulai ‘nakal’, aku justru mulai memperbaiki diri untuk menjadi aku yang seperti seharusnya. Ketika teman-temanku baru boleh berpacaran, aku sudah berhenti dari hal itu, sudah tau rasanya, dan banyak mudharatnya (believe me!). Ketika yang lain baru merayakan euforia kebebasan dari pengawasan orang tua, aku sudah bertindak bertanggung jawab terhadap kebebasan itu. One step ahead bahasa kerennya.

Kemudian aku mulai mendalami Islam, sebagai pondasi dan arahku dalam menjalani kehidupan. Aku tergabung dengan LDK. Akademik aku maksimalkan, cum laude aku kejar. Organisasi aku juga all out, belajar banyak juga di luar kelas. Dan bila ditanya tentang pacaran, aku sudah tidak terlalu memikirkannya, hingga tidak terasa sudah lima tahun memilih untuk single, and I’m happy :D.

Karena rasa cinta itu adalah suatu anugerah yang besar, dan jodoh akan indah, bila dijemput dengan cara yang benar dan waktu yang tepat. Hal itu yang aku pegang.

Saat berstatus mahasiswa, bukan berarti tanpa salah dan konflik dengan ayah, pada tahun kedua aku kuliah, kondisi ekonomi keluarga berada pada titik terbawah, tidak ada biaya untuk aku registrasi di semester berikutnya. Sementara adik-adikku juga butuh biaya yang tidak sedikit. Saat itu aku berpikir untuk cuti dulu, biarlah sementara itu aku coba cari pengalaman di luar. Setelah dipertimbangkan dengan matang, aku siapkan argumen dan sekaligus plan ku ke depan, aku beranikan untuk mengutarakannya pada ayah.

Dengan agak  sok tau tentang kehidupan, yang notabene aku masih minim ilmu, aku jelaskan rencanaku pada ayah. Semula ayah terdiam menyimak penjelasanku, kemudian berikutnya yang aku dapati bahwa ayahku marah, mungkin ini kemarahan terbesarnya terhadapku. Saat itu suasana rumah cukup tegang, dua orang lelaki yang paling dituakan di rumah berdebat hebat.

Ayah tidak setuju dengan rencanaku. ‘Janganlah ragu dengan rezeki, itu sudah diatur, pasti ada jalannya ..’ seperti itu penjelasan ayah.  ‘Ayah akan penuhi kewajiban nyekolahin kamu sampai selesai. Sedangkan kamu, penuhi kewajibanmu sebagai anak dengan sungguh-sungguh di pendidikan kamu ..’

Akhirnya aku menangis minta maaf kepada ayah, dan aku juga melihat wajah mata ayah yang berkaca-kaca saat itu. Aku baru menyadari, bahwa ketika itu aku telah menyinggung harga diri seorang ayah.

Sejak saat itu semangatku menjadi berlipat, untuk memenuhi kewajibanku sebagai anak. Menunjukkan pada ayah bahwa aku memenuhi kewajiban sebagai anak, menjadi anak yang membanggakan. Aku lulus 3.5 tahun, IPK ku 3.77, menjadi wisudawan berprestasi, aku juga sampai pada posisi tertinggi di organisasi yang aku ikuti di kampus, juga ikut di event skala nasional, menjadi peserta terbaik, dan sekarang aku sedang mengejar gelar master. 

Aku juga sudah bisa menjadi imam sholat bila di rumah, hapalan dan bacaanku mulai cukup baik, juga nyetirin mobil ketika bepergian sekeluarga, sering menjadi sharing partner ayah sebelum mengambil keputusan, bantuin nasehatin adek yang lebih kecil, mungkin berikutnya aku juga harus bisa jago masak seperti ayah. Hhe. Dan pastinya, sebentar lagi aku harus mulai mengambil tanggung jawab lebih terhadap finansial keluarga, juga mulai mengembalikan dan mengangkat kembali sejarah keluarga besar.

Sebagai tambahan, ada suatu motivasi tersendiri, untuk aku melakukan yang lebih dari apa yang sudah dilakukan ayah semasa usiaku. Dan aku sering membahasnya dengan ayah, walaupun ayah selalu punya alasan untuk akhirnya tidak kalah. Hhe.

Ya, aku hanyalah anak tertua yang belajar mendewasa, yang nantinya juga akan menjadi seorang ayah, yang tidak kalah hebat dengan ayahku sekarang. Dan doakan agar aku bisa dapat pendamping cantik seperti mama.

Tapi di atas semua itu, cita-cita terbesarku adalah membuat orang tuaku bangga tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat nanti. Ingin sekali rasanya menghadiahkan mahkota dari cahaya untuk kedua orang tuaku, walaupun aku tau, perjuangan untuk mewujudkannya sangatlah berat, tapi bisa. InsyaAllah..

Dan sekarang, ketika kembali memanggil memori masa kecil ku sampai sekarang, mengenang semua yang terjadi di keluarga, mengumpulkan potongan puzzle kehidupan, aku bersyukur sekali karena Allah mentakdirkan aku lahir di keluarga ini, yang memang suatu anugerah yang given, tanpa kita minta, dimana fokusnya bukanlah meminta berada di keluarga yang sempurna, tapi fokusnya adalah bagaimana menerima keluarga kita dengan sempurna.

jadi teringat lagu semasa kecil
harta yang paling berharga adalah keluarga. mutiara tiada tara adalah keluarga..’

***

Selamat ulang tahun yang ke 49 untuk ayah..
terimakasih sudah membesarkan aku, juga adek-adek yang lain sampai sebesar ini
semoga Allah makin sayang sama ayah,
semoga umurnya semakin berkah, dan terus memberi inspirasi untuk keluarga.

Bandung, 14 Mei 2013

With love,

ayah anak
Anakmu tercinta 😀
Afdilla Gheivary

Advertisements

One response

  1. hiks… saya terharu baca ini.. 😥

    Walopun hanya 6 tahun merasakan cinta ayah, tapi efeknya bisa dirasakan sampai sekarang..

    sepertinya setiap ayah punya treatment masing2 untuk berlaku adil terhadap anak-anaknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: