Rindu pada Setelan Jas Putih dan Pantolan Putih Bung Hatta

Sebuah puisi oleh Taufik Ismail yang dibuat tahun 2001) Dibacakan kembali oleh beliau di sebuah seminar di balai sidang Bung Hatta, Bukittinggi, 1 Juni 2013.

***

1

Setiap kali di dalam majelis orang banyak,
ketika hadirin diminta berdiri menyanyikan lagu kebangsaan,
inilah pengalaman yang ingin kuceritakan,

Sampai kepada bait refrein yang harus diulang-ulang,
Indonesia Raya, merdeka, merdeka …“,
pita suaraku tak bisa menyebut “merdeka, merdeka” itu,

Mulutku terkatup bisu,
menyebut dua kata merdeka itu tidak mampu,
dan ada rasa pedih menyayat dalam kalbuku,

Seorang kemenakanku yang memperhatikan mulutku,
belakangan dia bertanya karena ingin tahu.
“Paktuo, paktuo, kenapa paktuo diam saja,
kenapa ketika sampai pada refrein “merdeka, merdeka
paktuo tidak ikut nyanyi bersama?”

Aku tersenyum mendengar pengamatannya itu,

“Betul.
Karena paktuo sekarang tidak merasa betul-betul merdeka.
Sebabnya?
Orang merdeka adalah orang yang tidak berhutang,
dan kalaupun berhutang, mampu membayar hutangnya.
Hutang paktuo sekarang lebih seribu trilyun,
dan paktuo tidak tahu pasti
apa tanganku, kakiku, alat-alat tubuhku bersih dan jujur,
mampu membayar hutangku.”

Kemenakanku itu,
sebelas tahun umurnya,
berdiri bingung, tak faham kata-kataku.

“Nak,” kataku,
“dapur kita, rumah kita, kebun kita,
fikiran kita, isi bumi kita, dijajah oleh banyak negara.
Kini kita masuk ke dalam masa kolonialisme baru,
dan kalau dulu penjajah kita satu,
kini penjajah kita banyak hitungannya.
Kalau dulu kita punya harga diri,
kini harga bangsa sudah digantung di Kantor Pegadaian Dunia.

Leher kita,
kita ulurkan untuk dibelit tali gantungan hutang,
pergelangan tangan kita,
kita serahkan untuk dijepit borgol pinjaman sampai akhir zaman.”

Kemenakanku itu,
sebelas tahun umurnya,
berdiri bingung,
tak faham kata-kataku.

2

Di awal abad 21,
pada suatu subuh pagi aku berjalan di Bukittinggi,

Hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Marapi,
yang belum dilangkahi matahari,

Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi,

Menurun aku di Janjang Gadang,
melangkah ke Mandiangin,
berhenti aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta,

Di rumah beratap seng nomor 37 itulah,
di awal abad 20,
lahir seorang bayi laki-laki
yang kelak akan menuliskan alfabet cita-cita bangsa
di langit pemikirannya dan merancang peta negara
di atas prahara sejarah manusianya,

Dia tidak suka berhutang,
Sahabat karibnya, Bung Karno,
kepada gergasi-gergasi duni itu bahkan berteriak,
“Masuklah kalian ke neraka
dengan uang yang kalian samarkan dengan nama bantuan,
yang pada hakekatnya hutang itu!”

Suara lantang 36 tahun yang silam itu
telah terapung di Ngarai Sianok,
hanyut di Kali Brantas,
menyelam di Laut Banda,
melintas di Selat Makasar,
hilang di arus Sungai Mahakam,
kemudian tersangkut di tenggorokan
200 juta manusia.

3

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi,
aku merenung di depan rumah beratap seng di Mandiangin nomor 37 itu,
yang di awal abad 20 lalu tempat lahir seorang bayi laki-laki,

Aku mengenang negarawan jenius ini dengan rasa penuh hormat
karena rangkaian panjang mutiara sifat:
tepat waktu, tunai janji, ringkas bicara,
lurus jujur, hemat serta bersahaja,

Angku Hatta,
adakah garam sifat-sifat ini masuk ke dalam sup kehidupanku?
Kucatat dalam puisiku,
Angku lebih suka garam dan tak gemar gincu.

Tujuh windu sudah berlalu,
aku menyusun sebuah surat senarai perasaan rindu,

Rindu pada sejumlah sifat dan nilai,
yang kin kita rasakan hancur bercerai berai,

Kesatuan sebagai bangsa,
rasa bersama sebagai manusia Indonesia,
ikatan sejarah dengan pengalaman derita dan suka,
inilah kerinduan yang luput dari sekitar kita,

Kita rindu pada penampakan dan isi jiwa bersahaja,
lurus yang tabung,
waktu yang tepat berdentang,
janji yang tunai,
kalimat yang ringkas padat,
tata hidup yang hemat,

Tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta,
pada setelan jas putih dan pantolan putihnya,
simbol perlawanan pada desain hedonisme dunia,
tidak sudi berhutang,
kesederhanaan yang berkilau gemilang,

Kesederhanaan.
Ternyata aku tidak bisa hidup bersahaja.
Terperangkap dalam krangkeng baja materialisme,
boros dan jauh dari hemat,
agenda serba-bendaku ditentukan oleh merek 1000 produk impor,
iklan televisi,
dan gaya hidup imitasi,

Bicara ringkas.
Susah benar aku melisankan fikiran secara padat.
Agaknya genetika Minang dalam rangkaian kromosomku
mendiktekan sifat bicaraku yang berpanjang-panjang.
Angku Hatta,
bagaimana Angku dapat bicara ringkas dan padat?
Tertib dan apik?
Aku mengintip Angku
pada suatu makan siang di Jalan Diponegoro
yang begitu tertib dan apik,

Tepat waktu.
Bung Hatta adalah teladan tepat waktu
untuk sebuah bangsa yang selalu terlambat.
Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat.
Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah
ketika berbuka puasa.

Kelurusan dan kejujuran.
Pertahanan apa yang mesti dibangun
di dalam sebuah pribadi supaya orang bisa selalu jujur?
Jujur dalam masalah rezeki,
jujur kepada istri,
jujur kepada suami,
jujur kepada diri sendiri,
jujur kepada orang banyak,
yang bernama rakyat?
Rakyat yang selalu diatas-namakan itu.

Ketika kita rindu bersangatan
kepada sepasang jas putih dan pantalon putih itu,
kita mohonkan kepada Tuhan,
semoga nilai-nilai dan sifat-sifat luhur bangsa
yang telah hancur berantakan,
kepada kita utuh dikembalikan.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: