Living, Loving, Learning and Leaving a Legacy.

catatan afdilKalo kamu memperhatikan, ada yang berbeda di tampilan blog ini. Yang pertama adalah tema yang dipakai, yang sebelumnya notepad diganti menjadi retro-fifted. Bukan tanpa alasan, karena memang di tahun 2014 ini judulnya adalah brand new me. Mulai dari ganti status dari mahasiswa menjadi profesional. Juga pindah tempat tinggal yang sebelumnya hampir lima tahun di Bandung, sekarang mencoba merasakan hidup di ibukota negeri ini yang kata beberapa orang menyebutnya dengan kota yang kehidupannya keras. Untuk hal ini saya tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan tersebut.

Dan yang pasti poin penting di setiap perubahan, bukan hanya status atau tempat tinggal saja yang berubah, tapi juga mulai dari hal yang paling mendasar dari diri ini. Hal itu adalah mindset. Karena kurang pas jika kita memakai mindset kemarin untuk kehidupan hari ini. Kondisinya sudah berubah, tantangan pun berubah, maka bagaimana cara kita berpikir juga harus diubah.

Oleh karena alasan itu tema dari blog ini, sebagai jurnal pribadi, tempat saya menuangkan apa yang ada di benak saya, juga harus berubah. hehe. (ada aja alasan). Tema yang menurut saya tetap simple, tapi lebih elegan.

Perubahannya bukan cuma pada tema. Kalimat singkat yang menjelaskan judul blog juga berubah. Sebelumnya “Learning is Life Itself”. Saya lupa tepatnya itu quote siapa. Ceritanya quote itu saya dapat dari seorang dosen yang mengajar tentang manajemen perubahan ketika saya duduk di bangku esdua beberapa waktu yang lalu. Intinya bahwa manusia seharusnya tidak akan pernah berhenti belajar, karena sejatinya belajar adalah hidup itu sendiri. Learning dan Life tidak bisa dipisahkan. Namun sayangnya banyak orang yang melewatkan poin penting ini, dengan tidak belajar dan bertambah baik seiring dengan berjalannya waktu. Quote yang punya makna mendalam ini begitu menginspirasi saya, yang kemudian saya tulis sebagai kalimat pelengkap di judul blog.

Pada fase kehidupan saya berikutnya, quote itu sebenarnya masih sesuai. Namun rasanya ada yang kurang. Learning penting. Tapi saya merasa ada aspek-aspek lain yang juga penting untuk melengkapinya. Kemudian keterusikan saya untuk mencari sesuatuyang hilang itu menemukan muaranya ketika saya membaca buku The 8th Habit karya Steven Covey. Dalam buku itu dia menjelaskan tentang the whole person paradigm, idenya tentang konsep utuh seorang manusia. Berikutnya dijelaskan bahwa manusia terdiri dari empat dimensi berdasarkan fitrah dan kebutuhannya; Body, Mind, Heart, dan Spirit

Body:
Tidak bisa dipungkiri bahwa aspek fisik adalah aspek yang pertama kali terlihat dari manusia. Yang menurut Maslow ini adalah aspek dasar yang kebutuhannya harus dipenuhi terlebih dahulu di teori piramida kebutuhannya. Aspek body (fisik) ini juga yang oleh banyak orang menjadi motivasi utama untuk dia mencari pekerjaan, yaitu dengan mencari pekerjaan dengan gaji yang besar. Rekan-rekan saya yang freshgraduate bisa jadi contoh untuk hal ini. Mereka yang berlomba-lomba apply ke perusahaan besar dan ternama dengan asumsi gaji dan karir mereka akan terjamin disana. to live.

Mind:
Aspek berikutnya adalah Mind, yang dalam konteks ini erat kaitannya dengan motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan diri. to learn. Banyak diantara kita yang ketika sudah diterima bekerja, dengan rate gaji yang sesuai dengan harapan. Akhirnya tidak bertahan lama di pekerjaan itu. Dengan alasan, bosan, kerjanya itu-itu aja. Hal ini biasa terjadi pada jenis pekerjaan rutin dan statis serta tidak ada variasi pada pekerjaannya. Kenapa akhirnya bisa muncul kata bosan? dan kita beberapa dari kita terusik untuk keluar dari kondisi itu? -Walaupun pada kenyataannya juga banyak yang bisa bertahan – Jawabnya adalah karena kita punya hasrat untuk tumbuh dan berkembang. Itu adalah hal yang manusiawi. Hal ini juga yang menjelaskan misalnya kenapa orang seperti pak Tarnedi yang seorang supir taksi, tapi punya keinginan yang kuat untuk menjadi pintar, yang menurutnya caranya adalah dengan bisa berbahasa inggris. Hasrat untuk belajar.

Heart:
Aspek berikutnya adalah tentang hal yang lebih halus lagi. Yaitu tentang hati. to love. Bahwa tidak cukup dengan aspek body dan mind saja yang terpenuhi. Tapi bila kita tidak diperlakukan dengan baik di lingkungan yang sekarang, maka itu akan membuat kita terusik. Karena fitrah dari setiap manusia adalah ingin diperlakukan baik dan memperlakukan orang lain dengan baik pula.

Spirit:
Ini adalah aspek terakhir. Tentang motivasi untuk memberi manfaat bagi orang lain. Hasrat untuk menjadi berguna bagi lingkungan. Keinginan untuk meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia. to leaving a legacy. Minimal, peninggalan yang baik untuk anak-anak dan keluarganya.

Saya cukup sepakat dengan keempat aspek ini, sebagai cara pandang yang lebih bijak dan komprehensif terhadap kebutuhan manusia. Dimana keempat aspek ini bisa diterapkan secara luas. Mulai dari lingkungan kerja, sampai juga kehidupan pribadi.

Dan oleh karena itu, saya memutuskan untuk menggunakan konsep ini sebagai awal yang baru, untuk kalimat di bawah judul dari blog ini. Juga untuk kehidupan saya. 🙂

Living, Loving, Learning and Leaving a Legacy

 

Jakarta, 24 Februari 2014
22.00

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: