Category Archives: Catatan Kampus

Officially Wisuda IM Telkom, LEAD 2008

Aslinya saya terharu.

Sabtu besok, 24 November 2012 adalah hari dimana sebagian besar teman-teman saya di Institut Manajemen Telkom (IM Telkom) angkatan 2008 akan resmi melepas status mahasiswanya.

Wisuda.

Hari yang akan sangat membahagiakan. Continue reading →

Menjadi Mahasiswa Berprestasi IM Telkom 2012

Bahagia atau sedih sebenarnya sama saja. Asalkan kita benar menyikapinya. Bahagia bila yang terjadi sesuai dengan yang kita inginkan, sedih saat yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Padahal kita tau, tidak semua yang kita inginkan itu baik, dan tidak semua yang membuat kita sedih itu buruk. Jadi harus ridho dengan semua yang Allah tetapkan untuk kita, harus berbaik sangka karena pasti itu yang terbaik.

Kadang bahagia kadang sedih. Hal itu berganti dan berulang dengan sendirinya.  Tapi walaupun sejatinya sama, tetap saja kita lebih suka untuk berada pada kondisi lebih banyak bahagianya daripada sedihnya. Kalau bisa, hidup ini ga ada sedih sedihnya malah ..

2 Juni 2012 adalah hari bahagia bagi saya. hari dimana saya resmi diwisuda dari perguruan tinggi, hari dimana amanah dari orang tua terselesaikan. Orang tua sendiri baru pertama kalinya datang ke bandung, tempat saya kuliah. senang sekali. Ditambah dengan ucapan selamat dan kedatangan teman-teman serta sahabat-sahabat saya. sungguh, serasa hari itu milik saya.

Namun ada cerita dibalik itu.

Saya punya target saat kuliah, yakni lulus 3.5 tahun dengan predikat cum laude. Dan dari awal saya sampaikan itu pada kedua orang tua saya. Singkat cerita target itu akhirnya tercapai, saat saya yudisium 2 April 2012, sesuai dengan target saya.

“Afdilla Gheivary, nilai skripsi kamu B+, IPK terakhir kamu 3.77 dan kamu dinyatakan lulus dengan predikat cum laude. Dengan status ini, harapan masyarakat pada kamu tinggi, maka cobalah untuk selalu melakukan sesuatu lebih dari yang orang lain harapkan darimu.”
Ucap dosen penguji saat itu.
Selesainya yudisium saya langsung menelpon orang tua untuk memberi tahu kabar baik itu.

Beberapa waktu setelah itu, saat saya bertemu kembali dengan dosen pembimbing untuk memberikan revisi skripsi, dan kabar itu akhirnya sampai pada saya.
“Afdil, kemarin ada kesalahan saat yudisium, form yang kami terima formatnya salah. Kriteria cum laude seharusnya IPK diatas 3.70 dan nilai skripsi A-, sedangkan nilai kamu B+.  Jadi status kelulusan kamu diganti menjadi sangat memuaskan.”

“tapi kan kemaren sudah ditetapkan cumlaude bu, kok bisa gitu?”

“iya, kemarin di form itu tertulis nilai skripsi minimal B+, makanya dibilang cum laude, padahal seharusnya di form yang benar itu nilai skripsi minimal A-.”

Saya mengehela napas panjang

“kenapa harus seperti ini. jadi antiklimaks begini. Perjuangan selama ini harus gagal karena nilai skripsi yang kurang. kalo memang ga cum laude ya dari awal, jangan udah dibilang cum laude trus ga jadi. Padahal saya sudah terlanjur bilang ke orang tua, bagaimana saya memberi tau mereka lagi?

Sempat terpikir seperti itu, namun saya katakan pada diri,
“tidak tahu ini rahmat atau musibah, saya hanya berbaik sangka kepada Allah”

Waktu terus berlalu. Saat wisuda semakin dekat. Di kampus saya ada yang namanya achievement night, malam penghargaan untuk mahasiswa, lebih tepatnya wisudawan berprestasi. Saat mengumpulkan persyaratannya, saya tidak berharap terlalu banyak. Karena biasanya yang menang adalah yang cumlaude dengan IPK tertinggi, sedangkan saya sudah ga cumlaude, IPK juga banyak yang lebih tinggi, banyak yang 3.8 bahkan ada yang 3.89. hopeless. Jadi saat itu niatnya ingin melihat teman-teman yang dapat penghargaan dan menikmati makanan yang dihidangkan tentunya. Tanpa beban sama sekali.

Di undangan tertulis acara dimulai jam 6.30 malam. namun saya sengaja berangkat jam setengah 8 karena mengejar sholat isya di daarut tauhiid. Saat itu kamis malam, sebenernya waktunya pengajian. Saat diperjalanan handphone bergetar tandanya ada yang nelpon, sampai beberapa kali. Ga saya angkat karena lagi nyetir. Saat saya sampai, liat handphone ternyata ada sms
” dil lo dimana? Pokoknya harus dateng achievement night, ditunggu sekarang.”

Saya curiga.

Saya datang terlambat, saat acara sudah dimulai. Selang beberapa waktu setelah itu, tiba di sesi pemberian penghargaan. Mahasiswa yang membawa nama harum kampus, mulai dari lomba cerpen, debat, sampai business plan diberi penghargaan.

Dan saat yang ditunggu-tunggu tiba, saatnya penghargaan wisudawan berprestasi. Dua orang yang saya jagokan dan yang punya kans besar, yakni gio dan christi maju sebagai juara 2 dan 3. saat itu cemas bukan main, apa rencanamu terhadapku ya Allah?? Dan benar saja, saya benar benar tidak menyangka saat MC mengumumkan bahwa juara 1 nya adalah saya.

“tidak tahu ini rahmat atau musibah, saya hanya berbaik sangka kepada Allah”

Dan penghargaan itu jadi hadiah yang manis di penghujung berakhirnya status mahasiswa saya, juga untuk orang tua saya.

Saya merencanakan lulus cum laude, namun Allah menggantinya dengan mahasiswa berprestasi dan tawaran beasiswa S2 di IM Telkom.

Seindah-indah rencana saya, jauh lebih indah rencana Allah..

Tentang Skripsi: Berjuang Berjibaku

Bandung, 1 Februari 2012

 

Huft..

Teringat kembali perjuangan penyusunan skripsi ini. Berjibaku selama tiga bulan sebelum akhirnya sampai pada saat ini. Tidak terhitung sudah berapa kali mata ini menahan kantuk semalaman karena mengejar target bimbingan. Cukup banyak juga rupiah yang keluar karena harus bolak-balik revisi dan print ulang. Dan banyak juga hak-hak keluarga, teman, binaan, organisasi, yang akhirnya harus ‘mengalah’ demi target selesainya skripsi ini. Bahkan, sempat juga mengalami stres dan jatuh sakit.

Namun disisi lain, tidak terhitung pula berapa kali saya jadi sering bolak-balik ke perpustakaan, membaca banyak buku, menambah banyak ilmu. Hampir setiap hari. Sering kali dari pagi sampai sore. Sampai ada istilah “ngantor” di perpustakaan. Tidak terhitung pula berapa kali saya belajar.Bukan sebatas belajar akademik, tapi juga pembelajaran sikap, pembelajaran hidup. Belajar untuk mengalahkan rasa malas yang seringkali datang. Belajar bekerja di bawah tekanan, tekanan yang timbul karena ketidakmengertian mengenai hal yang diteliti. Belajar untuk menunggu dan sabar ketika menentukan jadwal bimbingan. Belajar untuk bisa berargumen dan tetap tegar ketika bertemu dosen penguji. Belajar untuk berlari mengejar target progres waktu yang telah disusun. Juga belajar mempertanggungjawabkan apa yang telah ditulis di setiap halaman.

Dan akhirnya waktu yang dinanti itu telah tiba. Pagi itu pembimbing menandatangani lembar persetujuan dan kartu bimbingan skripsi menandakan berkas skripsi saya sudah bisa dimasukkan ke sekretariat dan mendaftar untuk sidang skripsi.

428704_2429384427109_942431294_n

Seperti yang dikatakan Imam Syafii,
“Manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang”

Manisnya,senangnya akan terasa setelah melewati lelahnya berjuang ..

Selangkah lagi menuju sidang skripsi, selangkah lagi untuk melepas status ajaib ini, ‘mahasiswa’

Bismillah..

Entrepreneurship Project – Walkabout

Hoorrrreeee … !!!

Hari ini rabu, jam 08.50 saya mengumpulkan berkas ujian akhir semester (UAS) dengan tersenyum. UAS di semester 7 ini ditutup dengan mata kuliah entrepreneurship II. Kenapa tersenyum, karena yakin sekali pas mengerjakan. Bisa semua. Dan memang ga banyak yang perlu disiapkan mengenai matkul yang satu ini. karena ga ada teori yang perlu dihapal, atau rumus yang harus dikuasai. Hanya menuliskan, menceritakan bagaimana keberjalanan tugas besar matkul ini, yaitu praktik bisnis yang dikenal dengan nama Entrepreneurship Project (E-Project) Walkabout.

Pada E-Project ini, tim kami bernama YUNO dengan anggota Bayu, Enggar, Kikyo, saya, terakhir Adi sebagai ketua tim. Awalnya memang kami teman sepermainan dan mencobanya seperti apa jika berbisnis bersama. Bisnis yang kami geluti yaitu kentang spiral, kentang yang diulir sedemikian rupa hingga berbentuk spiral, digoreng, ditusuk sate, dan diberi bumbu beraneka rasa serta  saos-mayonaise. Mimpi dari YUNO, menjadi franchisor produk olahan kentang terkemuka di Indonesia.

Perencanaan dan perhitungan matang sudah dilakukan, dengan modal yang cukup besar (untuk ukuran kami) untuk start up, kami memulai menjalankan bisnis ini dengan semangat 45. Optimis penuh!. Memang lelah ketika harus mencari kentang ke pasar, mengolahnya sampai malam, dan harus bangun pagi-pagi untuk menyiapkan stand. Namun ada kepuasan tersendiri ketika ada pembeli yang datang, mencoba kentangnya, dan tersenyum puas. Oh ya, nama kentangnya adalah “kentang cenat cenut”. Sedikit banyak terinspirasi dengan happeningnya boyband di tanah air. Hhe.

Cerita Walkabout pun berlanjut. Di tengah keberjalanannya, anggota tim mulai punya kesibukan masing-masing. Outsource, laporan magang, skripsi adalah hal-hal yang saat itu rentan sekali memicu konflik. Pernah sekali waktu menyiapkan stand seorang diri, padahal harusnya dikerjakan minimal dua orang. Di lain waktu ketua timnya membeli 20 kg kentang di pasar yang jaraknya satu jam, dan membawanya naek motor seorang diri. Dan masih banyak lagi perjuangan, pengorbanan yang dilakukan, yang tidak bisa disebutkan satu-satu. Dalam hati, oh jadi gini rasanya berbisnis.

Hingga akhirnya sampai pada batas waktu dari tugas Walkabout, yaitu bulan Desember. Sedangkan modal belum kembali seutuhnya. Ini menjadi ujian tersendiri bagi kami. Dan ketika presentasi dengan tim Walkabout lainnya, ternyata bisa dihitung tim yang arus kasnya minus, salah satunya kelompok kami. Dan sekarang, bisnis kami sedang break sementara sampai waktu yang sudah ditentukan bersama, dalam rangka menyelesaikan amanah sebagai mahasiswa (asik bahasanya), fokus menyelesaikan skripsi, hingga nantinya kami bertemu lagi untuk membicarakan kelanjutan dari bisnis ini.

Selama perjalanan Walkabout , dari konflik-konflik dan perdebatan yang  dilalui, membawa kami lebih mengenal karakter masing-masing. Dimana mau susah atau senang, sudah kami lalui bersama. Dan ketika mengerjakan UAS tadi, ada bagian soal dimana harus menceritakan kondisi tim selamaWalkabout ini. Senyum-senyum sendiri membayangkan apa kiranya yang ditulis teman lainnya.

Dan seandainya tadi ada soal pertanyaan tentang “bagaimana pendapat anda mengenai efektifitas matkul entrepreneurship II ?”

Dengan yakin akan saya jawab:
Matkul ini sangat baik untuk tetap dipertahankan. Karena lewat matkul ini, mahasiswa tidak hanya mengetahui mengenai teori entrepreneurship. Lebih dari itu, mahasiswa bisa mempraktekan teori itu secara real di kehidupan nyata. Bagaimana menerapkan fungsi manajemen (planning, organizing, actuating, controlling), bagaimana memberkani added value pada produk, bagaimana strategimarketing yang paling sesuai, bagaimana menciptakan system, bagaimana melakukan negoisasi dengan supplier, bagaimana mengatasi konflik dan merubahnya menjadi kekuatan, dan masih banyak lagi manfaat positif yang didapat. Lebih jauh lagi, boleh jadi lewat perantara mata kuliah ini, perlahan bisa merubah kecenderungan sarjana yang mencari kerja menjadi sarjana yang menciptakan pekerjaan, lewat kemampuan entrepreneurshipnya. Boleh jadi, perlahan masalah pengangguran terdidik bisa diselesaikan.

Dan mungkin banyak juga, orang-orang yang menemukan arti persahabatan lewat mata kuliah ini .. 😀

BRAVO ENTREPRENEURSHIP !!! \(^o^)/

foto di stand bazar

foto kentang cenat cenut

rekan tim YUNO:
Adi Susanto
Bayu Ariestya Ramadhan
Enggar Pratiwi
Rizky Oktavia Aftriandy

Gegerkalong, 18 Januari 2012
Afdilla Gheivary