Category Archives: Catatan Pemikiran

Mengatasi Ego

Pagi ini dimulai dengan keisengan membaca catatan-catatan lama yang saya tulis di ms. one note. Beberapa waktu lalu saya pindahkan data one note dari laptop ke sky drive sehingga saya bisa akses datanya dari mobile device.

Catatan yang menarik perhatian saya, adalah  catatan yang saya tulis di akhir tahun 2013, yang tema besarnya tentang suka duka pertama kali bekerja. Tentang seorang freshgraduate yang merasa sudah menjadi jagoan dari kampus, namun babak belur ketika pertama kali bekerja. Hehe.

Saya masih ingat betul ‘shock terapi’ yang dirasakan saat itu ketika ternyata standar perusahaan (kinerja, disiplin, endurance, under pressure, dll) berada jauh di atas standar saya. Maka tidak heran jika saat itu saya stressfull, sampai turun 3 kg di sebulan pertama. 3 kg yang sangat berarti, yang membuat badan saya menjadi terlihat semakin kurus.

Tidak terasa, sudah hampir 1.5 tahun saya bekerja. Saya sendiri merasa mengalami banyak perubahan, mulai mengerti bagaimana mindset profesional, saya juga sudah bisa mengatasi beberapa kekurangan yang yang dimiliki saat menjadi freshgraduate. Berat badan saya juga naek 15 kg. hehe.

Namun setelah saya renungkan, hal terpenting yang berhasil saya capai, adalah mengalahkan rasa ego. Ya, ego. Sejujurnya itulah yang paling sulit. Ketika diberikan suatu tugas, suatu pekerjaan, yang menurut saya terkadang levelnya jauh dibawah standar saya. Seringkali ada rasa enggan, yang berujung pada pengerjaan  seadanya, dan hasil yang tidak memuaskan. Hal ini beberapa kali terjadi. Apalagi secara bawah sadar masih membawa atribut yang saya bawa dari semasa kuliah dulu, mahasiswa berprestasi juga gelar post graduated yang cukup memupuk  ego dan ‘harga diri’ saya.

Kemudian pelan-pelan mulai saya mengerti, bahwa saat itu saya melihat kemampuan saya dari apa yang saya pikir saya mampu lakukan, sedangkan orang lain melihat dari apa yang sudah saya berhasil kerjakan. Ada gap disitu.

Ketika saya membayangkan sebuah pekerjaan yang besar, yang keren, inspiring, tapi di sisi lain saya tidak berhasil mengerjakan pekerjaan-pekerjaaan kecil  yang menjadi jalan menuju pekerjaan besar tsb. Bukankah itu sebuah kelucuan?

Maka pelajaran yang bisa diambil, kerjakan yang menjadi tugas kita dengan sebaik-baiknya, apapun itu, pun itu hanya bagian kecil dari sebuah pekerjaan besar. Karena keberhasilan kita atas tugas-tugas kecil itu, menjadi modal untuk kita mengerjakan hal yang nantinya lebih besar.

Dan satu lagi yang tidak kalah penting, bersabar menjalani prosesnya.

Pematang Siantar, 11 April 2015.

Ada Beda antara Ingin dan Komitmen

Ada beda antara ‘ingin’ dan ‘komitmen’.
Banyak orang ‘ingin’ menjadi lebih berwawasan, ‘ingin’ hidupnya lebih sejahtera, ‘ingin’ kebermanfaatannya lebih luas, ‘ingin’ mendapat jodoh yang terbaik, ataupun ‘ingin-ingin’ lainnya

Padahal ‘ingin’, tidak memberikan kamu cukup kekuatan ataupun kepercayaan untuk mewujudkannya

Sedangkan ‘komitmen’, kaitannya dengan standar hasil dan keteguhan untuk mewujudkannya

Tidak peduli apakah hujan menghalangi langkahmu, situasi berjalan di luar rencanamu, ataupun kamu tidak mendapatkan dukungan yang dibutuhkan

Kamu tetap terus melangkah dan memantaskan diri untuk meraihnya, karena kamu percaya bahwa komitmen ini akan membawamu meraih yang kamu inginkan.

. . .

Bandung, 9 November 2014

Living, Loving, Learning and Leaving a Legacy.

catatan afdilKalo kamu memperhatikan, ada yang berbeda di tampilan blog ini. Yang pertama adalah tema yang dipakai, yang sebelumnya notepad diganti menjadi retro-fifted. Bukan tanpa alasan, karena memang di tahun 2014 ini judulnya adalah brand new me. Mulai dari ganti status dari mahasiswa menjadi profesional. Juga pindah tempat tinggal yang sebelumnya hampir lima tahun di Bandung, sekarang mencoba merasakan hidup di ibukota negeri ini yang kata beberapa orang menyebutnya dengan kota yang kehidupannya keras. Untuk hal ini saya tidak sepenuhnya sepakat dengan pernyataan tersebut.

Dan yang pasti poin penting di setiap perubahan, bukan hanya status atau tempat tinggal saja yang berubah, tapi juga mulai dari hal yang paling mendasar dari diri ini. Hal itu adalah mindset. Karena kurang pas jika kita memakai mindset kemarin untuk kehidupan hari ini. Kondisinya sudah berubah, tantangan pun berubah, maka bagaimana cara kita berpikir juga harus diubah.

Oleh karena alasan itu tema dari blog ini, sebagai jurnal pribadi, tempat saya menuangkan apa yang ada di benak saya, juga harus berubah. hehe. (ada aja alasan). Tema yang menurut saya tetap simple, tapi lebih elegan.

Perubahannya bukan cuma pada tema. Kalimat singkat yang menjelaskan judul blog juga berubah. Sebelumnya “Learning is Life Itself”. Saya lupa tepatnya itu quote siapa. Ceritanya quote itu saya dapat dari seorang dosen yang mengajar tentang manajemen perubahan ketika saya duduk di bangku esdua beberapa waktu yang lalu. Intinya bahwa manusia seharusnya tidak akan pernah berhenti belajar, karena sejatinya belajar adalah hidup itu sendiri. Learning dan Life tidak bisa dipisahkan. Namun sayangnya banyak orang yang melewatkan poin penting ini, dengan tidak belajar dan bertambah baik seiring dengan berjalannya waktu. Quote yang punya makna mendalam ini begitu menginspirasi saya, yang kemudian saya tulis sebagai kalimat pelengkap di judul blog.

Pada fase kehidupan saya berikutnya, quote itu sebenarnya masih sesuai. Namun rasanya ada yang kurang. Learning penting. Tapi saya merasa ada aspek-aspek lain yang juga penting untuk melengkapinya. Kemudian keterusikan saya untuk mencari sesuatuyang hilang itu menemukan muaranya ketika saya membaca buku The 8th Habit karya Steven Covey. Dalam buku itu dia menjelaskan tentang the whole person paradigm, idenya tentang konsep utuh seorang manusia. Berikutnya dijelaskan bahwa manusia terdiri dari empat dimensi berdasarkan fitrah dan kebutuhannya; Body, Mind, Heart, dan SpiritContinue reading →

renungan tentang path to success.

belakangan saya banyak berinteraksi dengan klien yang sudah berpuluh tahun menekuni bidangnya masing-masing.
profesionalisme jangan ditanya, yang sejalan dengan limpahan materi yang mereka dapat.

dan rata-rata, mereka bekerja tidak eight to five. tapi lebih.
bahkan sampai larut malam sekalipun, demi menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
seakan keseluruhan waktunya didedikasikan untuk bekerja.

terusik saya untuk bertanya, apa yang membuat mereka bisa bertahan seperti itu? apa yang dicari??

dari diskusi-diskusi yang terjadi, saya mendapat suatu pola, ada benang merahnya,
bahwa mereka memiliki keyakinan,
sukses yang mereka kejar bukan umtuk mencari kebahagiaan
tapi terbalik,
bahagia yang mereka rasa saat bekerja,
yang mereka percaya menjadi kunci dari sukses yang mereka raih.

senada dengan apa yang dikatakan Albert Schweitzer
“Success is not the key to happiness. Happiness is the key to success. If you love what you are doing, you will be successful”

FIM KECE Berbagi Kearifan: Teman Hidup

Apa kabar wordpress saya ya? hhe. Lama dah ga nulis. Saya kehilangan momentumnya sepertinya. Daripada ga ada post baru sama sekali, ini saya post kan hasil berbagi kearifan atau bahasa sekarangnya ngobrol santai bareng temen-temen saya di Forum Indonesia Muda regional Bandung atau yang juga dikenal  dengan nama FIM KECE,  yang dirangkum oleh Lika Lulu, check it out..

FIM KECE Berbagi Kearifan

Sabtu, 7 September 2013 @Ngopdoel Imam Bonjol Bandung

Alhamdulilah setelah sekian lama tidak berjumpa, akhirnya dipertemukan dengan orang-orang unik inspiratif, dengan berbagai latar belakang yang berbeda, aktifitas yang berbeda, angkatan yang berbeda, tetapi sama-sama pernah melewati pelatihan Forum Indonesia Muda. Sore ini ceritanya kami berkumpul bersama, bersilaturahim, ngobrol santai dengan agenda fim kece “Berbagi Kearifan” yang diprogramkan setiap bulan (seharusnya), tetapi beberapa bulan kemarin belum sempat dilaksanakan, karena berbagai alasan yang panjang ceritanya ( xp )

Tema berbagi kearifan kali ini adalah “Teman Hidup”.

Tema yang cukup unik kan? Meskipun alasan pemilihannya random karena mendengar lagu “Teman Hidup” dari Tulus.hehe. Tapi jangan salah.. ternyata tema ini cukup “ngena” dan menambah perspektif dan pandangan yang baru mengenai “teman hidup” masing-masing Kece’ers yang hadir saat itu : kang Aye+ sang pendamping (Nisa), Lika, Nofa, teh Fany, kang Faris, Alif, kang Afdil, teh Ajeng, dede Shielda, Uni Yola, kang Ryan, Rofi, Ka Aufar, dan terakhir kang Tanri.

Rule “berbagi kearifan” kali ini adalah setiap orang akan mendapat kesempatan untuk berbicara, tetapi saat ada yg berbicara dilarang membuat forum di dalam forum. Setiap orang memperkenalkan nama, angkatan, aktivitas, dan cerita “Teman Hidup”nya. Sang moderator selain mengarahkan juga menjadi notulensi, tapi ada beberapa bagian yg tidak sempat tertulis, mohon dimaafkan. Continue reading →

Dunia Anak-Anak

Dulu sempat timbul tanya ketika melihat rekan-rekan yang mendedikasikan waktunya untuk berkecimpung di dunia anak-anak?

‘bagaimana sudut pandang mereka sehingga rela menghabiskan waktu untuk bermain bersama anak-anak?
mungkin lebih elit jika terjun di kegiatan kepemudaan, berdiskusi soal kebangsaan, yang lebih terlihat hasilnya,
secara para pemuda itu yang nanti akan memimpin bangsa ini ..
sedangkan anak-anak,
masih lama untuk mereka menjadi orang dewasa’, Continue reading →

Rindu pada Setelan Jas Putih dan Pantolan Putih Bung Hatta

Sebuah puisi oleh Taufik Ismail yang dibuat tahun 2001) Dibacakan kembali oleh beliau di sebuah seminar di balai sidang Bung Hatta, Bukittinggi, 1 Juni 2013.

***

1

Setiap kali di dalam majelis orang banyak,
ketika hadirin diminta berdiri menyanyikan lagu kebangsaan,
inilah pengalaman yang ingin kuceritakan,

Sampai kepada bait refrein yang harus diulang-ulang,
Indonesia Raya, merdeka, merdeka …“,
pita suaraku tak bisa menyebut “merdeka, merdeka” itu,

Mulutku terkatup bisu,
menyebut dua kata merdeka itu tidak mampu,
dan ada rasa pedih menyayat dalam kalbuku,

Seorang kemenakanku yang memperhatikan mulutku,
belakangan dia bertanya karena ingin tahu.
“Paktuo, paktuo, kenapa paktuo diam saja,
kenapa ketika sampai pada refrein “merdeka, merdeka
paktuo tidak ikut nyanyi bersama?” Continue reading →

Tengah Malam di Bukittinggi

Aku terbangun di tengah malam, diam sejenak untuk mengumpulkan kesadaran.  Pukul 01.30. Tampakn
ya dinginnya malam Bukittinggi lah yang membangunkanku.

Ku dapati diriku masih memakai jeans dan kaos putih bergambarkan Bung Hatta.
Oh, tampaknya aku tertidur. Belum sempat ganti untuk baju tidur. Perasaan menyesal kemudian mulai hinggap padaku, sesaat sebelum tidur aku akan pergi ke ruang panitia, untuk sharing session yang aku tau itu akan sangat seru, mungkin juga haru dengan banyak hal yang sudah kami lalui bersama.

Ketika melihat handphone, ada message masuk yang menanyakan kenapa aku tidak ikut kumpul sharing. Ah, ini semakin menambah sesak dadaku saja. Hiks. Tapi tak apalah, mungkin tidur itu adalah gift, karena beberapa hari belakang hanya sedikit memiliki waktu tidur, mungkin hanya sekitar 2-3 jam. Yang sedikit menenangkanku adalah bahwa besok Rabu, 5 Juni, Insyaallah masih bisa bertemu mereka lagi, sebelum kami semua pulang ke daerah masing-masing.

Kurang lebih seminggu ini aku berada di Ranah Minang, bersama mereka, kunang-kunang, istilah untuk keluarga Forum Indonesia Muda. Continue reading →

Bersama Kunang-Kunang

Malam sudah cukup larut, namun tak seperti biasanya kedua mata ini belum mau terpejam. Mungkin karena sudah tak sabar menunggu hari esok.

Ya hari esok ku, sepertinya akan berbeda, yang biasanya berkutat di kampus, dengan satu hal yang aku benci tapi cinta (ini bahasanya aja ya), tesis. Nah selama kurang lebih satu minggu ke depan aku akan keluar sejenak dari aktivitas di Bandung.

Tujuanku kali ini adalah suatu daerah yang setauku cukup banyak melahirkan tokoh besar, mulai dari Buya Hamka, Bung Hatta, bahkan sampai sosok yang diceritakan dalam sebuah novel trilogi yang mendunia itu, Alif, juga berasal dari daerah ini, tanah Minang.

Tanah Minang yang akan aku datangi, adalah Padang dan Bukittinggi, yang nantinya adalah tempat ketiga di tanah Sumatera yang pernah aku datangi, setelah Banda Aceh dan Medan.

Yang menarik, aku tidak akan ke sana sendiri, tapi bersama teman-teman dari Forum Indonesia Muda, Continue reading →

Perayaan Hubungan Manusia

Berbicara mengenai langit,

mau biru, jingga, ataupun hitam
cerah ataupun hujan
juga fajar dan senja

tiap-tiap momen itu memiliki keindahannya

namun dari keseluruhannya,
ada beberapa momen
yang lebih indah dari  momen lainnya

diantara momen itu,
adalah saat fajar juga senja, saat fase pergantian langit
dimana tercipta semburat warna
akibat terbit terbenamnya matahari

yang sulit melukiskan keindahannya disini

namun sayangnya,
momen itu terjadi hanya sesaat
sesaat sekali, Continue reading →

Sosok itu, adalah Bung Hatta

Akhirnya setelah tiga minggu berjibaku dengan buku otobiografi Mohammad Hatta (Bung Hatta), saya menyelesaikannya sampai jilid terakhir. Semakin saya baca lembar demi lembar, semakin menambah kekaguman saya terhadap beliau. Di buku itu, beliau mendeskripsikan perjalanan hidupnya secara detil sedari masih kecil di Bukittinggi, masa studinya di Belanda, sampai pada detik-detik ke gerbang kemerdekaan.

Uniknya, beliau hanya mendeskripsikan peristiwa demi peristiwa  tanpa disertai komentar ataupun pendapat beliau terhadap hikmah yang diambil dari peristiwa tersebut sehingga pada beberapa bagian, saya harus berhenti sejenak dari membaca untuk memikirkan pelajaran apa yang bisa diambil. Dan tidak ada yang tau pasti kenapa beliau hanya menulis sampai pada Desember 1949. Continue reading →

Mohammad Hatta: Untuk Negeriku, Sebuah Biografi

Bung Hatta

Beberapa hari ini saya sedang membaca buku otobiografi Muhammad Hatta. Ceritanya buku dengan judul Untuk Negeriku Sebuah Otobiografi dan terdiri dari tiga jilid ini adalah edisi terbit ulang dari edisi awalnya yang diterbitkan 12 Agustus 1979  atau tepat pada ulang tahun beliau yang ke 77.

Buku aslinya berjudul Muhammad Hatta: Memoir, menceritakan tentang Continue reading →

Ketika harus Melawan

sebenarnya lebih nyaman bagi kita untuk mengasumsikan bahwa di dunia ini hanya ada orang baik saja,
sejatinya lebih damai bagi kita untuk beranggapan bahwa tidak akan ada orang yang berlaku jahat terhadap kita,
apalagi ketika kita punya prinsip, tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan orang lain.

namun ketika itu terjadi,
ada orang-orang yang melakukan kezaliman kepada kita, terhadap orang-orang dekat kita atau bahkan saudara kita.

apakah kita hanya akan berdiam diri dan memaafkan?
TIDAK
ada saatnya kita harus meLAWAN !

karena mendiamkan kejahatan, sama saja dengan ambil bagian dalam kejahatan itu.

Refleksi 84 Tahun Sumpah Pemuda

Malam itu langit bumi wiladatika lebih terang dari biasanya. Rembulan nampak kuning bersinar dengan anggunnya, namun bukan itu yang membuat terang, cahaya dari kunang-kunang yang sedang berkumpul di sanalah penyebabnya.

Malam itu, adalah malam  terakhir kebersamaan mereka sebelum esoknya kembali ke tempat masing masing: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Malam itu, 28 Oktober 2012, memang suasananya tampak lebih sendu. Kesenduan tersebut semakin terasa saat mereka memasuki ruangan yang hanya diterangi lilin-lilin kecil, diiringi suara lirih beberapa pemuda yang sudah menunggu di dalam

Kami putra dan putri Indonesia mengaku, bertanah air satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia mengaku, berbangsa  satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan puri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Hening.

Continue reading →

Orkestra Langit Ramadhan: sebuah perenungan

Mungkin termasuk salah satu berkah di Ramadhan ini, setiap dini hari langit selalu cerah, tampil memamerkan orkestra langit nan indah,  hangatnya sinar rembulan dan cerianya kerlap kerlip bintang-bintang. Hal yang selalu saya nanti, saat setelah shalat shubuh, menyusuri jalan antara masjid dan kontrakan sembari perlahan menengadahkan kepala ke atas, menikmati persembahan orkestra langit.

sebenarnya ingin sekali, seandainya bisa menahan fase bulan sehingga tetap purnama atau paling tidak, jangan menjadi bulan mati kembali.

Bukan seperti pagi ini, Continue reading →

Bagaimana Orang Hebat Dibentuk?

Tiga tahun belakangan ini saya banyak bertemu orang-orang hebat. Masing-masing dari kita punya definisi orang hebat itu seperti apa. Biasanya kita menganggapnya hebat jika dia bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Menurut saya, orang hebat itu adalah orang yang mengenal siapa dirinya, memiliki life plan yang baik, dan keberadaannya dapat memberi manfaat bagi sekitarnya.

Ada seorang yang saya kenal dia sebagai pemimpin dari suatu organisasi, memiliki visi organisasi tersebut mau dibawa kemana, dan besar kecintaannya terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Saya kagum. Ada lagi seorang yang dia memiliki life plan yang baik atau bisa dibilang hidupnya penuh dengan perencanaan dan dia bisa mencapai target demi targetnya tidak hanya untuk dunia, tapi juga akhirat. Saya takjub. Ada pula orang yang memiliki public speaking yang baik dan bisa membangun hubungan yang dalam dengan orang lain. Itu juga hebat. Juga beberapa orang yang sudah memiliki karya di usia mudanya, lebih tepatnya semasa kuliahnya, seperti memiliki bisnis, menulis buku, menggagas dan menjadi volunteer di kegiatan sosial, ataupun menikah. Hhe. Ada saja orang-orang seperti itu.

Di tulisan ini, saya tidak ingin berbicara mengenai kehebatan mereka. Bukan mengenai bagaimana cara menjadi seperti mereka. Bukan itu. Tapi yang ingin saya bahas di sini adalah dari mana mereka berasal dan seperti apa mereka dibesarkan. Ya. Awalnya saya berpikir bahwa orang-orang seperti itu dibesarkan dalam lingkungan yang ideal dan kondusif. Memiliki orang tua yang mendidik mereka dengan baik, berkecukupan dari sisi materi dan terfasilitasi dengan baik, ataupun hidup di perkotaan dimana fasilitas dan informasi terpenuhi.

Namun persepsi saya salah.

Ya. Persepsi saya mengenai orang-orang hebat itu dibesarkan di lingkungan yang ideal ternyata salah. Banyak sekali, ketika saya mulai mengenal mereka lebih dalam, ternyata masa lalu mereka tidak seideal dan seindah yang saya persepsikan. Diantara orang-orang hebat yang saya sebutkan di atas, ada yang mereka dibesarkan di keluarga yang memiliki keterbatasan materi, dimana hal itu memotivasi dia untuk berbisnis semasa kuliahnya, untuk menghidupi dirinya. Ada pula yang memiliki permasalahan keluarga, ayah dan ibunya tidak melaksanakan kewajiban sebagai orang tua dengan baik atau bahkan (maaf) broken home, dan hal itu pastinya menimbulkan luka, luka yang bisa mereka jadikan alasan untuk tidak menjadi apa-apa, untuk menjadi seseorang yang biasa-biasa saja. Tapi ternyata tidak seperti itu. Bahkan mereka malah menyeruak dan tampil sebagai seseorang yang diatas rata-rata, menjadi orang-orang yang hebat. Mengungguli orang-orang yang dibesarkan dalam kondisi nyaman.

Dari situ saya belajar, bahwa cerita hidup kita mungkin tidak diawali dengan indah, namun itu tidak menentukan siapa diri kita, bukan alasan untuk kita tidak tumbuh dan berkembang menjadi sosok yang kita inginkan. Karena kita masih memiliki hari ini, dimana kita bisa tentukan mau menjadi sosok yang seperti apa.

Dari situ saya belajar, bahwa masa lalu yang buruk bisa menjadi hari esok yang baik, bila kita menyikapinya dengan benar. Karena itu adalah pembelajaran, karena itu adalah tempaan, dimana pribadi dan karakter kita dibentuk. Dan kita semua tahu, karakter menentukan masa depan ..

Memar sebelum mekar ..

Garut, 25 Mei 2012

karena kau adalah pembangun peradaban: wanita

dengan bertambahnya kesempatan memperoleh pendidikan, termasuk wanita, maka semakin ke sini semakin banyak wanita yang memasuki lapangan perkerjaan, untuk ikut berkarir.
namun tampaknya konsekuensi dari hal ini cukup besar, karena harus membagi peran antara karir dan menjadi ibu rumah tangga.

saya sepakat dengan bunda elly risman, bahwa wanita berpendidikan itu seharusnya kembali ke rumah, karena kontribusinya akan berjuta lipat lebih besar daripada ketika dia bekerja.

ya. karena kontribusi wanita bukan sekedar memperoleh penghasilan tambahan bagi keluarga, ataupun dengan dalih memajukan perusahaan.
karena kontribusi sesungguhnya, adalah membangun peradaban .. yang itu dimulai dari rumah.

Obsesi Tujuh Abad: Muhammad Al Fatih

Obsesi tujuh abad itu begitu bergemuruh di dada seorang sultan muda, baru berusia 23 tahun usianya. Tak sebagaimana lazimnya, obsesi itu bukan mengeruhkan, melainkan semakin membeningkan hati dan jiwanya. Ia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya. Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya.

Maka di sepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu ia berdiri di atas mimbar, dan meminta semua pasukan berdiri. “Saudara-saudaraku di jalan Allah, amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya.

Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak baligh, silakan duduk!”

Begitu sunyi. Tak seorangpun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silakan duduk!”

Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. hening sekali, tak satupun bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan Al Quran lebih dari sebulan, silakan duduk!”

Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinang air mata.

“Yang pernah kehilangan hafalan Al Quran nya, silakan duduk!”

Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tak terikut menjadi ujung tombak pasukan. Mereka pun duduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak baligh, silakan duduk!”

Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegub kencang, dan tubuh menggetarkan.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul bidh, silakan duduk!”

kali ini semua terduduk lemas.

Hanya satu orang yang masih berdiri. Dia, sang sultan sendiri. Namanya MUHAMMAD AL FATIH. Dan obsesi tujuh abad itu adalah KONSTANTINOPEL

Sejak kecil, ia berada dalam bimbingan Syaikh Aaq Syamsuddin. Mufti di istana Sultan Murad itu sering membacakan untuk Al Fatih sebuah hadist dari Rasulullah saw dari ‘Abdullah ibn ‘Amru ibn Al ‘Ash. Suatu ketika, shahabat Rasulullah yang zuhud, putra penakluk Mesir itu pernah ditanya, “Mana yang lebih dulu dibebaskan, Konstantinopel ataukah Roma?” Syukurlah ‘Abdullah pernah mencatat, bahwa Rasulullah ketika ditanyai pertanyaan yang sama menjawab, Kota Heraclius lebih dahulu. Yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pasukan. Dan pemimpinnya adalah sebaik-baik panglima.”

Hadist ini begitu menggelorakan Al Fatih kecil, mengusainya, dan membeningkan dirinya untuk menjadi ’sebaik-baik panglima’, atau setidak-tidaknya menjadi anggota ’sebaik-baik pasukan’. Ia menjauhi kehidupan mewah istana, berguru kepada para ulama, beribadah dengan khusyu’-nya.

Ya Allah, jadikan aku sebaik-baik pemimpin, atau sebaik-baik prajurit!”, pintanya dalam doa. Tiap pagi, dari puncak perbukitan di Bursa, dia memandang ke seberang utara Laut Marmara, ke arah Konstantinopel.

Konstantinopel. Visi besar yang bening itu menguasai Al Fatih. Membuatnya mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya. Membuatnya mampu melakukan hal-hal yang tak dinyana manusia. Seperti ketika dengan kayu gelondongan yang dilumuri lemak sapi, diseberangkannya kapal-kapal perang memasuki perairan Konstantinopel lewat darat karena sebelumnya sulit ditembus dari perairan.

Di jalan cinta para pejuang inilah kita membutuhkan visi yang bening untuk mengokohkan jiwa dan merambatkan cita.

Sumber: ‘Jalan Cinta Para Pejuang’ karya Salim A. Fillah halaman 142-144

Semakin Mengenal Negeri Ini

Semakin aku mengenal negeri ini

semakin banyak persoalan, banyak ketidakidealan yang aku temukan

mulai dari yang dilakukan oleh golongan elit sampai dengan masyarakat kelas bawah

Rumit, kompleks.

Namun tetap saja

aku tidak menemukan alasan untuk acuh terhadap negeri ini

ataupun malah bergabung dalam barisan orang-orang yang berbuat kerusakan

Ada kalanya harus meninggalkan semua kemudahan dan kesenangan yang ada

dan berjibaku di jalan yang aku tahu tidak akan mudah

walaupun tidak tahu secara pasti bagaimana dan harus dari mana memulainya

Pun tahu bahwa persoalannya tidak bisa diselesaikan

tetap saja aku harus melakukan sesuatu ..

Karena sungguh merugi

manusia yang dalam hidupnya  tidak membuat dunia ini menjadi lebih baik ..

Dan katakanlah “Bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu dan kamu akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Quran Surah At Taubah (9) ayat 105 

Medan, 26 Februari 2012

ACEH, Allah mengundang lebih cepat.

Ingatan ini melayang kembali pada bulan November 2011 lalu ketika seorang teman yang sedang berkunjung ke Bandung, mengundang untuk “ganti” berkunjung ke daerah asalnya, Aceh. Jujur, saat itu tidak terpikirkan sama sekali kapan dan bagaimana cara untuk sampai ke sana. Yang saya lakukan saat itu hanya menulis note dengan judul “Ane tunggu di Aceh ya Dil ..”. Semacam doa mungkin. Tiga bulan setelah note itu ditulis, bersama seseorang yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri, Trio Satria Putra,tanpa disangka akhirnya saya benar-benar bisa terbang ke provinsi di ujung paling barat Indonesia itu.

Ternyata Allah mengundang lebih cepat.

Aceh. Sebuah daerah di ujung paling barat Indonesia yang mewarisi berbagai situs sejarah dan menyimpan banyak episode historis. Mulai dari berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, Samudera Pasai, perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda, konflik Aceh, sampai dengan bencana tsunami terbesar yang tercatat dalam sejarah umat manusia. Banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi yang menunjukkan peristiwa bersejarah tersebut. Diantaranya adalah Masjid Baiturrahman, Museum Aceh Besar, dan Museum Tsunami Aceh. Selain dari momen-momen bersejarah tersebut, pesona lain dari Aceh adalah memiliki wisata pantai yang sangat indah, mulai dari pantai Ulee Lhue di Banda Aceh, pantai Lampuuk di Lhoknga Aceh besar dan juga pantai Sabang di Pulau Weh. Ada juga Tugu 0 kilometer di Sabang.

Hal menarik lainnya, seperti yang kita ketahui, bahwa Aceh merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang sejak dahulu menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Saat pertama menginjakkan kaki di tanah Aceh, tepatnya di Bandara Sultan Iskandar Muda, saya dikejutkan dengan bentuk bangunan bandara yang unik. Atapnya berbentuk kubah seperti masjid. Dan ternyata tidak hanya itu, banyak gedung di BandaAceh memiliki bentuk atap yang menyerupai kubah selain juga banyak yang berbentuk seperti rumah adat Aceh.  Di sepanjang jalan tampak beberapa baligho dari  dinas syariat Islam Aceh yang berisi hadist atapun ayat al quran. Papan reklame punhampir tidak ada yang menampilkan wanita dengan aurat yang terbuka.Ternyata usut punya usut peraturan pemerintah di Aceh melarang pemasangan iklan yang menampilkan aurat.  Pun ada yang harus wanita sebagai modelnya, maka dikondisikan dengan aturan yang ada yaitu memakai jilbab. Hampir seluruh masyarakatnya pun memakai jilbab sebagai busana muslimah bagi wanita.

Kata Assalamualaikum sering sekali terdengar sebagai ucapan salamdimana lebih populer dari ucapan selamat pagi/siang/sore. Dan yang paling terasa, masjid-masjid di tengah kota hampir selalu penuh oleh jamaah di setiap waktu shalat fardhu, khususnya di Masjid Baiturrahman yang juga menjadi  icon kota Banda Aceh. Bahkan saya sempat menemukan ada pengemis tua buta di halaman Masjid Baiturrahman yang selalu bershalawat, berdzikir hamdalah ketika ada yang memberi sedekah. Ya. Islam sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Aceh. Walaupun masih perlu banyak perbaikan untuk  penerapan syariat yang sempurna.

Sungguh pemandangan yang syahdu.

Kembali pada peristiwa besar di 2004 silam, jumlah korban jiwa saat itu mencapai kurang lebih250.000 jiwa, jumlah yang sangat besar. Tidak terhitung pula kerugian materi dan kerusakan fisik yang ditimbulkan. Dan peristiwa itu sangatlah baik dikenang oleh masyarakat Aceh dengan mendirikan monumen-monumen;Monumen PLTD Apung,  Monumen Aceh Thanks the World jugaMuseum Tsunami Aceh yangmenunjukkan bahwa di daerah ini pernah terjadi peristiwa besar. Ada juga beberapa tempatpemakaman massal korban tsunami, yang berupa satu lahan terbuka yang diberi pagardan beberapa diantaranya diberi nama “makam syuhada” yang artinya tempat orang-orang yang meninggal ‘syahid’ di jalan Allah.Tidak diketahui siapa dan berapa tepatnya jumlah orang yang dikubur disana.

Namun selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa.

Trauma itu pasti ada. Terlepas dari banyak kejanggalan yang terjadi pada tsunami Aceh;  mayat yang menghitam seperti terbakar, bunyi ledakan sebelum tsunami maupun ada negara yang cepat sekali mengirimkan bantuan, bahkan lebih cepat dari pemerintah Indonesia. Namun banyak pula hikmah yang dapat diambil dibalik peristiwa tersebut. Semenjak kejadian itu, masyarakat Aceh semakin terbuka ke dunia luar,  memposisikan sebagai daerah tujuan wisatayang menawarkan keindahan pesona budaya dan alamserta peristiwa sejarah yang pernah terjadi, dengan membuka kesempatan bagiorang luar untuk melihat lebih dekat seperti apa daerah yang berjuluk serambi mekkah itu. Bahkan, konflik yang sudah terjadi selama 30 tahun di Aceh pun akhirnya menyepakati kata damai.

Kita tidak tahu ini anugerah atau musibah, kita hanya bisa berbaik sangka kepada Allah.

Dan satu hal, orang aceh itu ramah-ramah dan baik sekali perlakuannya terhadap tamu. Setidaknya itu yang kami rasakan dari empat pemuda melayu Aceh yang selama tiga hari menemani kami berkeliling: Taufik Muhammad Isa, Tuanku Insan Munawar, Syahril Furqany dan Iskandar Muda. Mereka benar-benar menjadi tour guide yang baik. Mereka menemani kami mengerjakan penelitian proyek di dinas pariwisata provinsi, museum provinsi dan situs indra purwa. Sholat subuh di Masjid Baiturrahman yang menjadi simbol religi dan perjuangan rakyat Aceh. Shalat maghrib di Masjid Rahmatullah di daerah Lhoknga yang tetap berdiri tegak walaupun di terjang tsunami. Berkunjung ke Museum Tsunami Aceh, Monumen PLTD Apung, Aceh Thanks the World juga monumen pesawat RI 001 di lapangan Blang Padang. Makan jagung di pantai Ulee Lhue, belanja di Pante Perak, mengitari megahnya Universitas Syah Kuala, menikmati pemandangan di Gunung Geurutee, bermain di air terjun Lhoong dan menunggu sunset di pantai Lampuuk Lhoknga. Sepanjang perjalanan menggunakan motor (red: mobil) tak luput diceritakannya segala hal tentang Aceh. Kami pun dibawa berkunjung ke kedai kopi, untuk minum kopi Aceh yang terkenal itu dan berlama-lama disana, suatu hal yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh.

 

pemulia jamee adat geutanyoe, memuliakan tamu adat kita” kata mereka, para pemuda melayu itu.

Banda Aceh, 21 Februari 2012

Di sini di tempat ini ..

Di sini di tempat ini,
Lima waktu dalam sehari selalu saja orang-orang dengan syahdunya bergegas menunaikan sholat

Di sini di tempat ini,
Orang-orang mengambil langkah kecli untuk menghadap Rabb di waktu dhuhanya

Disini di tempat ini,
Pemuda-pemuda belajar dan mengajarkan Al-Quran di waktu asharnya

Disini di tempat ini,
Puluhan pemuda berbondong-bondong di tiap tengah dan akhir semester, belajar bersama, menapak cita-cita

Disini di tempat ini,
Pemuda-pemuda duduk melingkar berbagi ilmu, berbagi cerita

Disini di tempat ini,
Pemuda-pemuda membaca Al-Quran di awal berkumpulnya, berbicara mengenai dakwah yang dicintainya, dan doa kifaratul majelis menjadi akhirnya

Di sini di tempat ini
Pemuda-pemuda jauh berangkat dari tempat tinggalnya, sengaja datang untuk mengumandangkan adzan, bertilawah di antara waktu sholatnya

Di sini di tempat ini,
Hati mereka terlanjur terpaut, diliputi kerinduan setiap waktunya, untuk selalu berada di sini di tempat ini ..

“Allahu Rabbi, masukanlah kami dalam golongan pemuda-pemuda yang hatinya terpaut pada rumahMu yang Engkau janjikan pada mereka, untuk mendapat naungan pada hari tiada naungan selain naunganMu. Jadikanlah langkah ini ringan menuju rumahMu, dan resahkan hati kami, jika melihat rumahMu mulai sunyi dari orang-orang yang bertasbih kepadaMu, serta ingatkanlah kami jika hati ini mulai berpaling dari rumahMu.”

Masjid Al-Murosalah, Telkom Learning Center
1 Januari 2012

Pahlawan Tidak Menungggu

teruntuk anak-anak yang beranjak dewasa

N: Doraemon, bagaimana ini? jika kita tidak cepat bertindak maka robot-robot itu akan tiba di bumi dan menguasai bumi     kita ..

D: Baik. Rencananya adalah, kita arahkan mereka ke dunia cermin yang merupakan tiruan bumi. Kita kalahkan mereka di sana. Tidak akan ada yang terluka, karena memang tidak ada orang di sana.

Cuplikan dialog diatas diambil dari film kartun petualangan nobita dan pasukan robot. Dikisahkan doraemon, nobita dan kawan kawan harus berjuang untuk menyelamatkan bumi dari serangan pasukan robot. Itu adalah salah satu contoh dari sekian banyak tontonan kita semasa kecil, yang sebagian besar mengisahkan bagaimana tokoh utamanya, biasanya anak kecil, berjuang, menjadi pahlawan, melawan orang-orang jahat, menyelamatkan bumi, dan membawa dunia ke kehidupan yang lebih baik.Bahkan kerap dijumpai, anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi tokoh utama dalam film atau kartun yang ditontonnya.

Sungguh indah, masa kecil yang dipenuhi mimpi-mimpi besar dan jiwa kepahlawanan.

Kemudian di tahap kehidupan selanjutnya, ketika kita beranjak dewasa. Sebagian besar memilih untuk hidup biasa-biasa saja. Sesuai dengan alur yang ada di masyarakat. Setelah SMA, lanjut kuliah, cari kerja, menikah, memenuhi kebutuhan hidup dan membahagiakan keluarga. Tampak tidak ada yang salah sepertinya.

Tapi jika mau dipertanyakan kembali, kemana mimpi mimpi besar itu pergi?

Kemana jiwa kepahlawanan itu pergi?

Kenapa yang sekarang ada hanya kepentingan pribadi saja?

Mendapat pekerjaan yang bagus, tunjangan tinggi, membeli mobil mewah, rumah mewah, dan liburan ke luar negeri. Bahkan terkadang, demi tercapainya semua itu ada hak-hak orang lain yang dirampas.

Sedikit sekali, waktu dalam kehidupan kita yang didedikasikan untuk kepentingan orang banyak. Mungkin usia boleh bertambah, tapi tanpa disadari mimpi dan jiwa kepahlawanan masa kecil itu semakin berkurang.

Mungkin kita lupa bahwa di suatu periode kehidupan bangsa ini, ada orang-orang yang bersedia bekerja, berjuang tanpa pamrih bahkan merelakan jiwa dan raganya demi rakyat yang dicintainya. Demi tegaknya ideologi mereka. Demi tegaknya keyakinan mereka. Tidak rela mereka melihat penderitaan rakyat yang ditindas oleh penjajah.  Hati mereka diliputi kerinduan yang mendalam terhadap sebuah bangsa yang merdeka. Mereka adalah pahlawan bangsa. Para pahlawan bangsa, seperti yang selalu di kenalkan kepada setiap anak yang duduk di bangku sekolah dasar.

Tampaknya kita sedikit beruntung. Pahlawan di masa kini tidak perlu mengorbankan raganya. Setidaknya seperti itu kondisi di negara kita, dimana keadaannya aman dan tidak dalam kondisi perang. Tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa kemiskinan, eksploitasi alam bahkan penjarahan sumber daya alam sedang terjadi di negeri kita.

Apakah kita akan berdiam diri saja? Tidak.

Kita harus berbuat, harus bekerja keras, meningkatkan kapasitas diri kita supaya suatu saat nanti mampu berhadapan dan mengalahkan musuh besar tersebut. Mungkin sebuah korporasi raksasa atau bahkan negara adikuasa.

Lalu apakah kita akan menunggu “suatu saat nanti” untuk menjadi pahlawan?? Tidak.

Ingatkah kawan, dalam film dan kartun masa kecil kita, tokoh utamanya tidak menunggu sampai dewasa  ataupun menyerahkan urusan menyelamatkan dunia pada orang dewasa. Tapi mereka, melakukannya saat itu juga, pun masih anak-anak. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Mereka tetap berjuang dengan apa yang bisa mereka lakukan.

Tidak setiap orang bisa mendapat gelar pahlawan. Tapi semua orang bisa menjadi pahlawan. Tentunya kita tidak membicarakan pahlawan dalam definisi kamus besar bahasa Indonesia;orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Pahlawan yang dimaksud adalah orang-orang yang melakukan hal-hal yang membawa manfaat bagi orang lain, bagi bangsa, bagi ummat dalam skala yang berbeda-beda tentunya sesuai dengan kemampuan. Dan semua orang bisa menjadi pahlawan.

Seorang pelajar, bisa menjadi pahlawan dengan membina anak-anak kurang mampu untuk belajar baca tulis, seorang mahasiswa bisa menjadi pahlawan dengan bermanfaat bagi masyarakat sekitar atau bahkan memenangkan lomba esai internasional, seorang presiden bisa menjadi pahlawan dengan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dan menjaga kedaulatan bangsa.

Bayangkan kawan, jika setiap orang melakukan demikian, jika 241 juta orang Indonesia melakukan kebaikan-kebaikan yang membawa manfaat bagi orang lain, maka bangsa ini akan cepat menjadi bangsa besar.

Mari kawan ..

Kita bangun lagi mimpi-mimpi dan jiwa kepahlawanan yang dulu pernah hadir dalam diri kita. Karena semua bisa menjadi pahlawan. Tidak perlu menunggu menjad pengusaha ternama ataupun seseorang yang berkuasa. Tapi jadilah pahlawan dari sekarang juga dan dari hal yang kecil yang bisa dilakukan ..

Karena pahlawan tidak menunggu ..

Bandung, 10 November 2011

Afdilla Gheivary

Sebuah Cerita dari Forum Indonesia Muda 11

“Ane tunggu di Aceh ya Dil ..”

Kata itu diucapkannya ketika kami berpelukan sebelum berpisah. Sore itu, Iskandar dan bang Taufik, dua kunang-kunang asal serambi mekah  itu sedang mampir di Bandung. Bagi mereka, ini kali pertama mereka menginjakkan kaki di tanah Jawa, di kota Bandung. Sebelum berpisah, kami bersalaman dan berpelukan dengan penuh haru seperti orang yang akan lama tidak bertemu, dan memang demikian keadaannya.

Teringat kembali memori beberapa waktu yang lalu, ketika saya tiba di Jakarta sekitar pukul sebelas malam, setelah menempuh perjalanan tiga jam dari Bandung. Di asrama tempat kami menginap, tampak sudah ada puluhan pemuda lainnya yang sedang menyiapkan tempat tidur untuk beristirahat. Keadaan kami sama. Lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari daerah masing-masing, canggung untuk berkenalan dengan yang lain. Lalu satu persatu kami mulai berkenalan. Menanyakan nama dan asal daerah.

Takjub.

Itu yang saya rasakan ketika mengetahui asal daerah mereka. Secara fisik kami tidak jauh berbeda, tapi secara geografis kami berbeda jauh. Pemuda-pemuda ini, berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari Universitas Iskandariah sampai Universitas Cendrawasih, dari Aceh sampai Papua. Saat itulah awal dari perkenalan saya dengan bang Taufik, Iskandar dan pemuda-pemuda  lainnya. Dan selama tujuh hari dari malam itu, tanpa disadari kami akan bersama-sama mengukir sejarah, membangun ukhuwah di bumi Wiladatika.

Hari pertama pelatihan bertempat di Bumi Wiladatika, Cibubur. Jam tujuh pagi kami sudah tampil rapi dan mulai memasuki ruangan acara. Saya merasakan hal yang tidak biasa ketika memasuki ruangan itu. Di dalam  ternyata sudah ada puluhan, bahkan ratusan pemuda lainnya yang sudah duduk rapi dan memakai almamater yang berwarna-warni, menunjukkan bahwa kami berasal dari berbagai kampus yang berbeda.

Aneh.

Mereka tidak tampak sebagai orang asing, mereka tampak sebagai orang yang sudah saya kenal lama sekali. Padahal, kami belum pernah bertemu sebelumnya.

Kebersamaan itu berlanjut. Kami bersama-sama bertukar pikiran dengan tokoh seperti Amien Rais, Taufik Ismail, Arief Munandar dan Houtman Zainal Arifin. Membicarakan banyak hal, dari kondisi bangsa ini sampai dengan karakter pribadi, dari idealisme sampai dengan aksi nyata yang bisa dilakukan. Tidak hanya itu, kami juga bersama-sama melakukan observasi ke masyarakat yang ditindaklanjuti dengan membuat social project. Bersama-sama berbagi dengan masyarakat, sebagai wujud aksi nyata kepedulian terhadap masyarakat.

Tujuh hari. Waktu yang cukup singkat untuk saling mengenal satu sama lain. Sekilas tidak ada yang luar biasa dari mereka. Tapi semakin mengetahui profil pemuda lainnya, semakin takjub karena mereka pemuda-pemuda luar biasa. Aktivis BEM, LDK, LSM, pebisnis, pertukaran pelajar dan masih banyak lagi. Mereka adalah pejuang-pejuang muda, juga pejuang di jalan sunyi.

Dan tersadarkan, setelah pelatihan ini saya memiliki keluarga besar baru, keluarga besar Forum Indonesia Muda. Seperti Iskandar dari Aceh, Hairul dari Banjarmasin, Munzir dari Makasar,Riski dari Jogja,  dan Elias dari Papua. Orang asing yang seperti keluarga sendiri. Berbeda latar belakang, suku, bahasa, dan budaya namun dipersatukan oleh satu kata

“Indonesia”. Kami berbeda dalam banyak hal, kecuali cita-cita untuk menjadikan Indonesia lebih baik dan bermartabat.

Kawan-kawanku, pertemuan yang singkat bersama kalian, akan berarti panjang dalam hidup ini. Tetap jaga idealisme kita, tetaplah bertahan dalam perjuangan, tetaplah memberi manfaat untuk sekeliling kita. Walaupun raga kita tidak bersama, tidak perlu risau karena kita tetap memperjuangkan hal yang sama,  berjuang untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Dan semoga, ada takdirnya dimana kita dipertemukan kembali. Akan indah rasanya, jika saat pertemuan nanti, kita sudah berbuat banyak untuk bangsa ini.

Seperti yang selalu kita teriakkan bersama

AKU UNTUK BANGSAKU !

Bandung, 2 November 2011

Afdilla Gheivary

Pemuda dan Anugerah Sejarah

Setiap manusia pasti akan atau pernah mengalami masa muda. Masa muda merupakan suatu fase terbaik dalam kehidupan manusia di mana kekuatan terkumpul, keberdayan terlaksana dan pemikiran yang tajam hadir. Oleh karena itulah masa muda harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Jika semua pemuda di negeri ini bisa memanfaatkan masa mudanya dengan baik, bisa jadi tinggal menunggu waktu untuk Indonesia menjadi sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

Pemuda identik dengan idealisme, cita-cita tinggi dan semangat yang menggelora. Tapi image terkait egoisme , mau menang sendiri, tidak berpikir panjang juga lekat dengan pemuda. Hal tersebut merupakan fitrah yang ada pada diri pemuda. Kembali pada kita, apakah akan memanfaatkan segala kelebihan itu menjadi kegiatan yang produktif atau sebaliknya, masa muda hanya diisi untuk senang-senang dan foya-foya belaka.

Sejarah dunia membuktikan bahwa pemuda memiliki kekuatan yang luar biasa untuk membawa dunia ini kepada kondisi yang lebih baik. Kita bisa tengok perjuangan bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan dimana pemudalah yang mengambil peran vital dalam mewujudkan kemerdekan tersebut. Bung karno, Bung Hatta merupakan beberapa contoh pemuda yang berhasil membawa perubahan bagi bangsa ini. Begitu juga di tempat-tempat lain di dunia ini, dimana pemuda memilki peran dan kekuatan dalam membawa perubahan.

Tidak heran jika Bung Karno mengatakan
“Berilah aku 1000 orang tua, maka akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikanlah aku seorang pemuda, maka akan kugoncangkan dunia.”

Luar biasa. Perubahan yang bisa dilakukan oleh pemuda.

Sekarang coba kita lihat bagaimana kondisi pemuda Indonesia sekarang. Bukannya membawa semangat perubahan ke arah yang lebih baik, pemuda sekarang malah menjadi sumber masalah yang tidak ada habis-habisnya bagi bangsa ini. Pengangguran, tawuran, narkoba, hiburan yang berlebihan, pergaulan bebas dan masih banyak lagi masalah yang ditimbulkan oleh kaum muda. Ya. Kondisi pemuda Indonesia sekarang cukup memprihatinkan. Padahal, seperti kata pepatah, pemuda hari ini adalah pemimpin di hari esok. Jika hal ini tidak segera diselesaikan, maka bisa jadi bangsa kita akan semakin terpuruk seiring berjalannya waktu.

Lalu apa yang harus dilakukan agar pemuda Indonesia bisa keluar dari jurang keterpurukan dan menggantinya dengan gunung-gunung prestasi?
Sejarah mengajarkan, bahwa pemuda Indonesia pernah mencapai puncak prestasinya dan mengambil peran dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Ya. Peristiwa sumpah pemuda merupakan salah satu bukti, betapa luar biasanya kekuatan dan semangat pemuda Indonesia dimana pemuda dari berbagai daerah dengan beraneka ragam latar belakang, berkumpul bersama untuk menyatukan tekad, merangkai asa untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Tampaknya kita perlu merefresh kembali momen itu, menghujamkannya dalam hati dan menjadikannya pelajaran. Keringat bahkan darah dari para pemuda pahlawan bangsa, harus kita bayar dengan segudang prestasi. Seperti itulah bentuk perjuangan pemuda di masa ini. Karena untuk membangun bangsa ini, adalah dengan berprestasi di masing-masing bidang yang kita geluti dan menjadi contoh bagi generasi muda lainnya.

sebagai penutup, saya kutip syair dari Saini KM, yang tertulis di monumen Pancasila Bandung

Nonoman, kiwari nya giliran aranjeun
Nu kasinugrahan wawangi sajarah
Bral tandang bari peheuyeuk-heuyeuk lengueun;
Kalawan rido mantenna di unggal lengkah
Impian demi impian bakal ngajirim
Beberkeun bandera pikeun sagala topan.
Sababnya taktak aranjeun pisan
Nu bakal nyangga gelaring pajar
Pikeun langit anyar, pikeun jaman nu akbar.

Orang muda, gini giliranmu telah tiba
Untuk menerima anugerah sejarah.
Rapatkan brisan, langkah tegap ke depan;
Dengan karuniaNya sepanjang jalur jejakmu
Impian demi impian akan terwujud.
Julang panji, kibarkan bagi segala taufan
Karena di bahumu akan diletakkan fajar
Bagi cakrawala baru, bagi zaman yang besar.

oleh Afdilla Gheivary, sebagai essay untuk mengikuti kegiatan Forum Indonesia Muda 11