Category Archives: Catatan Pribadi

Karir Profesional, Sebuah Awal

Your work is going to fill a large part of your life

And the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work

And the only way to do great work is to love what you do

If you havent found it yet, keep looking. Dont settle

-Steve Jobs

Untuk waktu yang cukup lama ternyata saya tidak menulis di blog ini. Ada saja excuse yang bisa dibuat, mulai dari ga punya waktu sampai dengan ga mood. Padahal salah satu resolusi saya di awal tahun 2013 kemarin salah satunya adalah aktif menulis dalam rangka membiasakan sebelum nantinya jadi penulis handal. Hehe.

Jadi mau sedikit bercerita. Beberapa bulan ini saya sedang berada pada sebuah masa dalam hidup yang sedang banyak pikiran hingga membuat galau dan cukup sensitif. Apa itu? Yaiitu masa peralihan dari  bangku kuliah di esdua ke bangku karir di real world. Meninggalkan zona nyaman saya sebagai mahasiswa dan mulai terjun ke growth zone di dunia profesional

Untungnya periode galau saya cukup singkat. Continue reading →

Cerita tentang Seorang Ayah

Aku tidak pernah meminta untuk diperlakukan istimewa sejak aku kecil. Aku juga tidak pernah meminta untuk dilahirkan di keluarga terpandang. Aku tidak pernah meminta agar banyak orang, bahkan mungkin setiap orang di sudut desa untuk mengenalku.

Mungkin, anak seumurku di luar sana, ada yang iri dengan semua kenikmatan yang diberikan padaku. Ya, sekali lagi semua itu diberikan padaku, tanpa aku memintanya. Aku tidak pernah meminta semua itu, namun Allah sepertinya punya rencana lain ..

Cerita di atas adalah bukan tentangku. Meskipun dalam ceritaku juga banyak mengalami kemiripan seperti yang aku sebutkan di atas. Cerita tersebut adalah tentang seseorang yang sangat penting buatku, yang Allah mempercayakan kasih sayangnya padaku melalui perantaraan beliau, dia adalah ayahku. Continue reading →

Perayaan Hubungan Manusia

Berbicara mengenai langit,

mau biru, jingga, ataupun hitam
cerah ataupun hujan
juga fajar dan senja

tiap-tiap momen itu memiliki keindahannya

namun dari keseluruhannya,
ada beberapa momen
yang lebih indah dari  momen lainnya

diantara momen itu,
adalah saat fajar juga senja, saat fase pergantian langit
dimana tercipta semburat warna
akibat terbit terbenamnya matahari

yang sulit melukiskan keindahannya disini

namun sayangnya,
momen itu terjadi hanya sesaat
sesaat sekali, Continue reading →

Langit

Dago Pakar, Bandung

Dago Pakar, Bandung

Langit,
selalu saja memiliki pesona yang tiada habisnya

apalagi
ketika momen pergantian siang dan malam,
ataupun malam ke siang

saat langit menampilkan semburat warna yang tidak biasa,
momen yang hanya sesaat, namun sangat berharga

dan aku,
selalu suka momen itu.

 

 

Ibrahim Imaduddin Islam

Bulan April 2009, saat itu adalah masa-masa awal saya berkenalan dengan dunia dakwah kampus. Entah ada angin apa, panitia event Bedah Karakter saat itu meminta saya untuk menjadi MC pada acara yang menghadirkan Habiburahman El-Shirazy atau yang lebih akrab disapa kang Abik. (lengkapnya dapat dilihat di Notes about Gamus: Be Master of Ceremony)

Assalamualaikum. Ini dengan afdil ya? Saya Eel gamus 2007, panitia bedah karakter. Apa bisa jadi MC untuk tanggal 9 April?

Iya teh, tapi saya ga punya pengalaman jadi MC. Gimana?

Tenang aja, nanti kamu ngeMCnya berdua bareng Baim Gamus 2007.

Oh gitu, oke teh. Kabari lagi aja nanti kalo ada kumpul panitia.

Singkat cerita, malam saat gladi resik acara saya datang untuk mempersiapkan event esok harinya. Saat itu pertama kalinya saya dipertemukan dengan Ibam (Baim). Sosok  yang akan saya ceritakan disini, Continue reading →

Parapat: Berjuang dan Dibuang

Tempat Pengasingan Bung Karno

Pada 25 Februari 2012 bersama Kak Trio Satria Putra, saat akan menuju pulau Samosir, secara tidak sengaja kami menjumpai sebuah rumah besar dengan gaya arsitektur Eropa di daerah Parapat yang merupakan salah satu kabupaten diantara tujuh kabupaten yang mengelilingi Danau Toba.

Isenglah bertanya pada petugas disana, ternyata Continue reading →

Di Penghujung Malam

Beberapa hari ini pembagian waktu saya lumayan padat. Dari pukul delapan pagi sampai dengan empat sore seperti biasa saya berjibaku di kelas, di penghujung kelas perkuliahan saya di esdua  yang tinggal beberapa hari lagi. Kemudian jam lima sore sampai dengan malam saya gunakan untuk mengurusi kegiatan di katering, kebetulan minggu ini sedang ada cukup banyak order sehingga banyak pula yang perlu diselesaikan.

Hingga akhirnya, sudah untuk kesekian kalinya saya pulang larut malam seperti saat ini. Jangan ditanya untuk soal capek? Continue reading →

Catatan Akhir Sekolah: Cerita Persahabatan, Cinta, dan Cita-Cita

Jember, Mei 2008.

Tiap dari kita pasti memiliki teman dekat atau sahabat, dimana waktu kita banyak  dihabiskan bersama. Biasanya ditiap episode kehidupan ada sahabat yang datang dan pergi. Namun yang namanya sahabat biasanya memiliki jangka waktu hubungan yang lebih lama, lebih awet dari jenis hubungan lain seperti teman biasa ataupun pacar.

Bicara tentang persahabatan yang masih awet, saya memiliki beberapa orang sahabat sejak duduk di bangku sekolah, saat masih memakai seragam putih abu-abu. Mereka itu,  Alvan, Bagus, dan Dito, dimana kami kemana-mana selalu bersama, sampai ke kamar mandi pun bareng. Hhe. menjalani waktu remaja yang buat kami begitu indah.

Persahabatan, cinta, dan cita-cita. Continue reading →

Merindu Ranu Kumbolo

Merindu Ranu Kumbolo

saat hendak pulang dari ranu kumbolo, dua orang anak kecil memakai sepatu boot yang sedang berlari-larian di pinggir danau menarik perhatian saya

isenglah saya berkenalan dengan mereka, namanya abdul dan revina. mereka masih satu sepupu.

ceritanya mereka sedang membantu orang tua mereka yang berprofesi sebagai porter di semeru,
dengan mengumpulkan barang-barang yang masih berguna yang ditinggalkan oleh pendaki.

“enak ya kalian, punya tempat maen yang bagus..” Continue reading →

For this reason, do the best is must.

Siapapun kita pasti memiliki orang-orang kita yang sayangi,
yang berkorban, berharap, dan bahkan menangis untuk kita ..

di saat motivasi kita melemah,
coba pejamkan mata, hadirkan sosok mereka dihadapan kita

karena ingatlah,
untuk membuat mereka tersenyum bahagia,
hanya dapat dicapai bila kita bersungguh-sungguh berusaha.

Berhenti Sejenak

tampaknya, memang harus berhenti sejenak

karena beberapa waktu ini kehilangan arah. kehilangan arah yang cukup serius. semangat, gairah dan gelora yang selama ini bersama seakan pergi entah kemana. tanpa pamit, tanpa pesan. tanpa bekas.

hidup jangan tergesa-gesa. ada kalanya harus menyediakan waktu untuk merenung. mencari tahu, apa yang sebenarnya dicari dalam hidup ini. menemukan panggilan jiwa.

sehingga langkah ini, bukan sekedar mengikuti langkah kebanyakan manusia. tapi langkah yang benar-benar diinginkan, langkah yang sesuai dengan tujuan penciptaan di dunia.

bismillah ..

ruang kelas,
09.56
3 November 2012

Bogor Trip : Saat Kota Hujan Bercerita

Ahad tanggal 14 Oktober,
Sudah saya tekadkan untuk pergi berkunjung ke bogor, kota tempat kuliah adik saya, Cherish Nurul Ainy. Bagaimana tidak, empat tahun yang lalu, 2008,  kami sama-sama masuk universitas. Saya di Institut Manajemen Telkom, sementara adik saya, di Institut Pertanian Bogor ,namun belum pernah sekalipun saya menjenguknya, pun sampai saya tamat kuliah. Sedangkan adik saya sudah berulang kali ke Bandung. Beruntungnya Continue reading →

Eid Mubarak (3): The Great History That Give Me a Big Lesson

Biasanya bila sudah lama tidak jumpa, hal pertama yang akan ditanya adalah bagaimana kabarnya. Salah satu momen untuk bertemu dengan sanak keluarga adalah saat lebaran, ketika semua orang sedang semangat-semangatnya untuk saling menyambung silaturahim. Seperti di postingan Eid Mubarak saya sebelumnya, bahwa ada waktu dimana masing-masing anggota keluarga menceritakan apa yang sudah dilakukan. Di keluarga saya tidak perlu sebenarnya menjadi seseorang yang ‘wah’ di dunia akademik, atau jalan-jalan keliling Indonesia maupun luar negeri, atau aktif di kegiatan berskala nasional maupun internasional, tidak perlu. Karena yang menjadi standar hanya satu hal, yakni bisa mandiri, punya penghasilan, dan bisa membantu anggota keluarga yang lain, itu saja. Tapi tidak demikian dengan saya, saya punya mimpi untuk lebih dari sekedar bisa hidup mandiri, lebih dari itu, saya punya mimpi untuk nilai kemanfaatan yang lebih besar. Hal ini bukanlah tanpa alasan, ada sejarah panjang, yang membuat saya harus seperti itu.

**

Continue reading →

Eid Mubarak (2): Birrul Walidain, Do It !

Kepinginan orang tua itu ga macem macem kok, cuma pengen liat anaknya berhasil.

Melanjutkan dari tulisan saya Eid Mubarak (1): The Happiness of Mass Exodus, yang bercerita mengenai mudik, rindu orang tua, dan kebahagiaannya. Berikut ini saya ingin membahas, satu fenomena yang menjadi dilema bagi sebagian orang.

Kita tau bahwa tujuan merantau adalah meninggalkan zona nyaman, menemukan hal-hal baru, memperluas wawasan, menambah relasi dan tentunya meraih sukses disana. Kita juga tau bahwa konsekuensi dari itu orang tua ditinggal di rumah. Walaupun ketika salah seorang anak sudah berkeluarga, akhirnya juga pisah rumah dengan orang tua. Padahal semakin hari kondisi mereka semakin lemah, seiring usia yang bertambah lanjut. Tidak sedikit orang tua yang menghabiskan masa senjanya dengan hanya berdua di rumah, di kampung halamannya, jauh dari baktinya anak, jauh dari suara keceriaan cucu-cucunya.

Seseorang yang baru saja ibunya tutup umur mengatakan pada saya,
pokoknya selama orang tua masih ada, manfaatkan waktu bersama mereka dengan sebaik-baiknya, bahagiakan, penuhi kebutuhannya, selalu ada di sisinya saat dibutuhkan. Karena ketika mereka sudah dipanggil, sudah terlalu terlambat untuk menyesali. Continue reading →

Eid Mubarak (1): The Happiness of Mass Exodus

Jika ramadhan adalah kepompong, maka kini saatnya terbang berkarya, menebar keindahan pada dunia.

Sebelumnya saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, hari raya bagi umat muslim di seluruh dunia. ternyata sudah 1433 tahun sejak Nabi Muhammad Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Sudah cukup lama sekali.

Selalu saja mengundang dilema, antara sedih meninggalkan bulan penuh keutamaan, Ramadhan, dan bahagia karena tiba hari kemenangan, 1 syawal, Hari Raya Idul Fitri atau yang oleh masyarakat kita juga disebut sebagai lebaran.

4 tahun belakangan ini saya juga baru merasakan apa yang namanya mudik. Ya, sejak saya merantau ke Bandung dalam rangka menuntut ilmu disana (hhe. asik bahasanya), sudah 4 kali juga saya bersama 11-12 juta orang lainnya mudik lebaran (angka ini saya dapat dari berita di TV) pulang ke kampung halaman, dengan biaya yang hampir 2x lipat dari tarif normal, berdesakan dijalan, demi bisa sholat ied di rumah, bersama keluarga tercinta. Continue reading →

gue mulai mikirin nikah dari sekarang

“Dil, kayaknya gue harus mulai mikirin nikah dari sekarang nih ..”

Kalimat itu keluar begitu saja dari seorang kawan yang tinggal satu kontrakan dengan saya.. Kaget. Saat itu saya baru saja bangun dari tidur siang, sembari mengumpulkan kesadaran, terdiam sejenak, memikirkan response yang akan diberikan.

“Hm. Semua orang juga harusnya punya planning soal itu bro, tapi kenapa nih ujug ujug lo bilang kayak gitu, bikin gue kaget aja .. hhe.

Akhir-akhir ini gue semakin ga bisa jaga pandangan dil. ada aja yang menarik hati .. dan itu cukup menggangu ..
gue pikir dengan menikah masalah itu akan selesai. Continue reading →

Ramadhan Berkualitas

Kamis malam kemarin, suasana di Masjid Daarut Tauhiid tidak seramai biasanya. Mungkin karena sebagian besar sedang menikmati masa-masa awal Ramadhan di rumah bersama keluarga. Atau, mungkin juga karena sebagian sudah tau bahwa pengajian kamis malam ini tidak dibawakan langsung oleh pimpinan pesantren Daarut Tauhiid, aa gym, karena beliau sedang berada di Madinah.

Kali ini yang menjadi pembicara adalah Prof. KH. Miftah Farid, beliau membawakan tema mengenai Ramadhan, bulan prestasi. Berikut saya rangkum beberapa hal yang beliau sampaikan:

Ramadhan adalah bulan yang amat spesial, karena banyak keutamaan dan peristiwa penting yang terjadi di bulan ini:

  1. Ramadhan adalah bulan dimana umat muslim berkewajiban menjalankan shaum sebulan penuh
  2. Muhammad diangkat menjadi nabi di bulan Ramadhan
  3. Al Quran diturunkan pertama kali juga di bulan Ramadhan
  4. Di bulan ini, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qadr
  5. Segala amal perbuatan dilipat gandakan pahalanya, ibadah sunnah mendapat ganjaran seperti ibadah wajib, sedangkan ibadah wajib menjadi 70x lipat lebih besar ganjarannya.
  6. Bulan di mana doa dan tobat banyak dikabulkan

Bulan ramadhan juga disebut bulan prestasi, karena banyak sekali prestasi-prestasi dari umat muslim di bulan ini:

  1. Terjadinya Perang Badar pada 17 Ramadhan, 313 pasukan muslim melawan seribu-an kaum  quraisy, dengan akhir yang dimenangkan oleh pasukan muslim
  2. Terjadinya Perang Uhud juga di bulan Ramadhan, dimana pasukan muslim mengalami kekalahan.
  3. Fathul Mekkah terjadi di bulan Ramadhan, dimana Mekkah jatuh ke tangan kaum muslim, dan orang orang berbondong-bondong masuk Islam
  4. Berdirinya dinasti Abbasiyah, yang nantinya selama 500 tahun menjadi pemimpin di dunia, juga di bulan Ramadhan
  5. Panglima Uthbah Bin Nafi berhasil membebaskan Afrika di bulan Ramadhan
  6. Tariq Bin Ziyad memimpin pembebasan andalusia di bulan Ramadhan
  7. Shalahuddin Al Ayyubi membebaskan konstatinopel di bulan Ramadhan
  8. Juga kemerdekaan republik ini, 17 Agustus 1945 juga terjadi di bulan ramadhan.
  9. Dan masih banyak lagi

Jadi salah besar jika Ramadhan diidentikkan dengan bulan malas dan tidak produktif, karena sejarah mengatakan sebaliknya, bahwa di bulan Ramadhan banyak sekali prestasi yang dicapai oleh umat muslim. Oleh karena itu jadikanlah ramadhan ini bulan prestasi..

Kemudian apa saja yang harus dilakukan?

Pastinya wajib shaum, yaitu menahan lapar dan haus serta berhubungan suami istri dan yang searti dengannya dari terbit fajar sampai tenggelamnya matahari dengan tujuan mengharap ridha Allah.

Namun yang paling berat dari semua itu adalah menjaga dari hal-hal yang dapat merusak keutamaan Ramadhan, yaitu menjaga mata dari hal yang haram, menjaga telinga dari hal-hal yang tidak bermanfaat, menjaga lisan dari perkataan yang sia sia, dan yang paling berat adalah menjaga hati dari hal hal yang dapat mengotori.

Indikator keberhasilan yang digunakan adalah takwa, apa itu takwa? Dalam arti yang lebih luas bukan hanya dalam hal ibadah ritual, tapi juga bagaimana agar tidak mudah marah, mampu mengendalikan emosi, membentuk karakter yang  berjiwa besar, mengulurkan tali persaudaraan pun itu kepada orang yang memutuskan tali silaturahim dengan kita, dan juga memaafkan orang lain, pun itu orang yang berbuat zalim terhadap kita, menjadi orang yang memenuhi janji, menjadi pribadi yang tangguh dan sabar ketika kesulitan datang, menjadi orang yang sportif, mengakui ketika berbuat salah dan tidak pernah bersilat lidah mencari alasan

Dan tidak mungkin karakter-karakter yang disebutkan diatas bisa terbentuk jika shaum yang dilakukan hanya sebatas menahan lapar dan haus atau sebatas hanya memindahkan waktu makan.

Berikut kebiasaan kebiasaan yang bisa ditumbuhkan di bulan ramadhan:

  • Bangun untuk makan sahur dengan yang pali ng baik adalah mengakhirkan waktu sahur dan mempercepat berbuka.
  • Tiada malam tanpa shalat malam, waktunya fleksibel, boleh diawal, dipertengahan malam, ataupun diakhir, bisa sendiri ataupun berjamaah.
  • Yang perlu diperhatikan adalah menjaga lisan karena banyak shaum yang akhirnya rusak diakibatkan oleh kejahatan lidah,  karena ucapan. Oleh karena itu berkatalah yang benar dan baik atau diam. Tipsnya adalah dengan memperbanyak amalan lidah seperti membaca quran dan berzikir sehingga memperkecil peluang untuk berkata yang sia sia.
  • Sebelum tidur, hantarkan dengan berzikir hingga ketika tertidur lidah dalam keadaan basah menyebut nama Allah.
  • Biasakan untuk shalat malam dan beristigfar menjelang waktu sahur
  • Biasakan shalat syukrul wudhu, seperti yang dilakukan Bilal hingga terompahnya terdengar sampa ke surga.
  • Tiada hari tanpa sedekah

Yang pasti ramadhan kali ini harus lebih baik dari Ramadhan sebelumnya. Dan semoga kita bisa menjadi manusia unggul, yang menjadi ragi untuk membentuk dan membangun karakter bangsa ini.

percakapan

trus sehabis SMA,  kuliahnya dimana kang? tanyaku.

kalo dulu saya kuliah, saya ga akan kerja serabutan seperti sekarang ini.
saya ga seberuntung itu untuk bisa kuliah, keuangan keluarga saya ga mendukung.
di sisi lain, saya harus membantu membiayai sekolah adik-adik saya.

saya pengen ..
ngeliat mereka menyelesaikan sekolahnya hingga perguruan tinggi,
walaupun untuk itu ada harga yang harus saya bayar mahal.

for the rest of my life

for the rest of my life

Sejatinya,
impian dari tiap insan adalah memiliki kisah indah dalam hidupnya,
salah satunya adalah sepanjang hidup bisa bahagia bersama pasangannya.
begitu pula denganku

Namun tidak semuanya memiliki takdir itu.

Apakah karena materi yang membuatku memilihnya?
karena mungkin saja sebab itu akhlaknya tidak ahsan, dan mudah bagi Allah untuk mengambil semua materi itu.
Aku rasa bukan.

Kemudian aku berpikir, apakah karena parasnya yang membuatku terpikat?
sebab kecantikan pastilah luntur seiring berjalannya waktu.
Aku rasa itu juga bukan.

Teringat kata nabi, nikahilah wanita karena agamanya ..
Karena rukuk dan sujudnya kepada Allah
sebab rukuk dan sujudnya yang seharusnya membuatku rindu
karena ketaatan kepada Rabbnya yang seharusnya membuatku cinta
Aku rasa itu jawabannya.

***

Ada kalanya syaithan membisikkan
“Di seluruh dunia, hanya dia wanitia paling ideal untukmu .. tak ada lagi yang lain ..”

Aku diam, sedikit mengiyakan

Kemudian dibisikkannya lagi,
“akhwat seperti itu banyak yang mencari .. jika kau tidak mulai ambil langkah, membangun hubungan rahasia dari sekarang, bisa jadi dia diambil oleh orang lain ..”

Kembali ku berpikir, kali ini sambil bergumam, benar juga.

namun aku tersadar
memang seperti itulah tipu daya syaithan,
sekilas tampak baik, terlihat benar.
sejatinya dia mengajak pada keburukan
karena sebenarnya dia ingin menjerumuskan.

Oleh karenanya dengan lantang ku katakan, TIDAK!

sebab memang belum saatnya,
bukan soal kesabaran, tapi memang aku tidak mau membuatnya menanti
karena penantian membuka pintu-pintu syaithan.

Sekarang yang bisa kulakukan adalah memantaskan diri.

Seperti janji Allah, wanita yang baik hanya untuk laki-laki yang baik.
karena jika sekarang aku melakukan maksiat, yakin, wanita yang jadi jodohku di sudut dunia sana juga akan melakukan hal yang sama.

Oleh karenanya yang bisa aku lakukan adalah memantaskan diri,
memantaskan diri dalam ketaatan kepadaNya ..

hingga tiba saatnya nanti.

di tengah kebun teh

Sekolah di Tengah Kebun Teh

di cianjur, tepatnya kecamatan sukanagara, saat berjalan-jalan di perkebunan teh,
saya menangkap suasana-suasana keceriaan,
ada anak-anak yang sedang bergegas menuju suatu tempat.
ternyata ada sekolah di sana ..
kalo nobita tempat bermainnya di bukit belakang sekolah,
anak-anak ini punya kebun teh belakang sekolah. ^^

Kedekatan: Fisik atau Hati

Kedekatan tercipta bukan dari fisik yang dekat, namun kedekatan tercipta karena hati yang dekat.

Kita dengan orang tua di rumah mungkin memiliki interaksi yang terbatas, namun sering kali ibu tahu apa yang sedang kita rasakan, terkadang sebelum kita memberitahu.

Dengan sahabat,  dari kedipan mata atau raut wajah saja dia sudah mengerti apa yang kita ingin katakan.

Sebaliknya coba lihat pada orang yang sedang bertengkar. Mereka dekat berhadap-hadapan, tapi berbicara dengan sangat keras. Mereka bertatap muka, tapi sedikit sekali ucapan yang didengar. Mungkin fisik mereka sedang dekat, namun sejatinya hati mereka jauh.

motivasiku

Aku disini, tidak untuk mengalahkan siapapun. Tapi aku disini, hanya ingin melakukan yang terbaik, demi orang-orang yang sayang padaku, demi mereka yang menaruh harapan padaku.
#semangat!

Message From Nick Vujicic

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I was born different
But that doesn’t stop me from living my live
And I’m happy

I love soccer so much and I dont play as well as others, of course
But you know in the world cup, there is so much anticipation and excitement
That ‘stirs up’ in all of us and everybody cheers for this success of their own team.
And you know in all games there is losing and winning,
People who moan over, you know, their team not winning and then people who get so excited when they win
Everybody loves to win but we shall not linger on the difference between winning and losing
At teh world cup, most of the fans around the world will experience the loss of their team.

But is losing failing?
At age 8, I wanted to end my life.
I told my mom I wanted to commit suicide and then, age 10, I actually tried
I felt like no hope to live.
I felt like I was so different to everybody else, and there was definitely no future or hope for me.
If I gave up, thinking that that was the end
I would have missed out on so much more.

Life is life.
There are a lots of successes but also lots of failures and it repeats itself again and again.
Should we really despair every time we go through, you know, a failure?
You are saying ‘oh, now I am a failure for the rest of my life
You see, the stairs right in front of me are a huge barrier and one step at a time is what I have to do
If I never try, I’ll never achieve anything.

If I fall down, what do I do?
I’m gonna try again and again because the moment I give up is the moment that I’ll fail.
It is so important that we don’t despair with the results
That we sometimes don’t anticipate whether it is in the soccer game or life.
So embrace the path your team has taken and believe that they will try again with resilience.
Then you will feel the happiness in life again to be able to enjoy the world cup as a true festival as it is, a celebration.

Failure is not important. How you overcome it is.
Feel the life
Feel the game

(Nick James Vujicic)

*ini teks dari dialog Nick di salah satu iklan worldcup 2010. inspiring banget. bagaimana tidak? ditengah keterbatasannya dia tidak minder, bisa bersyukur, dan bangkit, bahkan menginspirasi orang lain. senyumnya sepenuh hati.

Orang minder itu karena dia lebih sibuk melihat kekurangan versi dia daripada berjuta nikmat, kelebihan yang ada pada dirinya.

Yang Kadang Terlupa

 

 

 

 

 

 

 

ada kalanya,
orang asing seperti keluarga sendiri
sedangkan,
keluarga sendiri serasa orang asing.

janganlah sampai seperti itu.. 

ACEH, Allah mengundang lebih cepat.

Ingatan ini melayang kembali pada bulan November 2011 lalu ketika seorang teman yang sedang berkunjung ke Bandung, mengundang untuk “ganti” berkunjung ke daerah asalnya, Aceh. Jujur, saat itu tidak terpikirkan sama sekali kapan dan bagaimana cara untuk sampai ke sana. Yang saya lakukan saat itu hanya menulis note dengan judul “Ane tunggu di Aceh ya Dil ..”. Semacam doa mungkin. Tiga bulan setelah note itu ditulis, bersama seseorang yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri, Trio Satria Putra,tanpa disangka akhirnya saya benar-benar bisa terbang ke provinsi di ujung paling barat Indonesia itu.

Ternyata Allah mengundang lebih cepat.

Aceh. Sebuah daerah di ujung paling barat Indonesia yang mewarisi berbagai situs sejarah dan menyimpan banyak episode historis. Mulai dari berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia, Samudera Pasai, perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda, konflik Aceh, sampai dengan bencana tsunami terbesar yang tercatat dalam sejarah umat manusia. Banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi yang menunjukkan peristiwa bersejarah tersebut. Diantaranya adalah Masjid Baiturrahman, Museum Aceh Besar, dan Museum Tsunami Aceh. Selain dari momen-momen bersejarah tersebut, pesona lain dari Aceh adalah memiliki wisata pantai yang sangat indah, mulai dari pantai Ulee Lhue di Banda Aceh, pantai Lampuuk di Lhoknga Aceh besar dan juga pantai Sabang di Pulau Weh. Ada juga Tugu 0 kilometer di Sabang.

Hal menarik lainnya, seperti yang kita ketahui, bahwa Aceh merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang sejak dahulu menerapkan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Saat pertama menginjakkan kaki di tanah Aceh, tepatnya di Bandara Sultan Iskandar Muda, saya dikejutkan dengan bentuk bangunan bandara yang unik. Atapnya berbentuk kubah seperti masjid. Dan ternyata tidak hanya itu, banyak gedung di BandaAceh memiliki bentuk atap yang menyerupai kubah selain juga banyak yang berbentuk seperti rumah adat Aceh.  Di sepanjang jalan tampak beberapa baligho dari  dinas syariat Islam Aceh yang berisi hadist atapun ayat al quran. Papan reklame punhampir tidak ada yang menampilkan wanita dengan aurat yang terbuka.Ternyata usut punya usut peraturan pemerintah di Aceh melarang pemasangan iklan yang menampilkan aurat.  Pun ada yang harus wanita sebagai modelnya, maka dikondisikan dengan aturan yang ada yaitu memakai jilbab. Hampir seluruh masyarakatnya pun memakai jilbab sebagai busana muslimah bagi wanita.

Kata Assalamualaikum sering sekali terdengar sebagai ucapan salamdimana lebih populer dari ucapan selamat pagi/siang/sore. Dan yang paling terasa, masjid-masjid di tengah kota hampir selalu penuh oleh jamaah di setiap waktu shalat fardhu, khususnya di Masjid Baiturrahman yang juga menjadi  icon kota Banda Aceh. Bahkan saya sempat menemukan ada pengemis tua buta di halaman Masjid Baiturrahman yang selalu bershalawat, berdzikir hamdalah ketika ada yang memberi sedekah. Ya. Islam sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Aceh. Walaupun masih perlu banyak perbaikan untuk  penerapan syariat yang sempurna.

Sungguh pemandangan yang syahdu.

Kembali pada peristiwa besar di 2004 silam, jumlah korban jiwa saat itu mencapai kurang lebih250.000 jiwa, jumlah yang sangat besar. Tidak terhitung pula kerugian materi dan kerusakan fisik yang ditimbulkan. Dan peristiwa itu sangatlah baik dikenang oleh masyarakat Aceh dengan mendirikan monumen-monumen;Monumen PLTD Apung,  Monumen Aceh Thanks the World jugaMuseum Tsunami Aceh yangmenunjukkan bahwa di daerah ini pernah terjadi peristiwa besar. Ada juga beberapa tempatpemakaman massal korban tsunami, yang berupa satu lahan terbuka yang diberi pagardan beberapa diantaranya diberi nama “makam syuhada” yang artinya tempat orang-orang yang meninggal ‘syahid’ di jalan Allah.Tidak diketahui siapa dan berapa tepatnya jumlah orang yang dikubur disana.

Namun selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa.

Trauma itu pasti ada. Terlepas dari banyak kejanggalan yang terjadi pada tsunami Aceh;  mayat yang menghitam seperti terbakar, bunyi ledakan sebelum tsunami maupun ada negara yang cepat sekali mengirimkan bantuan, bahkan lebih cepat dari pemerintah Indonesia. Namun banyak pula hikmah yang dapat diambil dibalik peristiwa tersebut. Semenjak kejadian itu, masyarakat Aceh semakin terbuka ke dunia luar,  memposisikan sebagai daerah tujuan wisatayang menawarkan keindahan pesona budaya dan alamserta peristiwa sejarah yang pernah terjadi, dengan membuka kesempatan bagiorang luar untuk melihat lebih dekat seperti apa daerah yang berjuluk serambi mekkah itu. Bahkan, konflik yang sudah terjadi selama 30 tahun di Aceh pun akhirnya menyepakati kata damai.

Kita tidak tahu ini anugerah atau musibah, kita hanya bisa berbaik sangka kepada Allah.

Dan satu hal, orang aceh itu ramah-ramah dan baik sekali perlakuannya terhadap tamu. Setidaknya itu yang kami rasakan dari empat pemuda melayu Aceh yang selama tiga hari menemani kami berkeliling: Taufik Muhammad Isa, Tuanku Insan Munawar, Syahril Furqany dan Iskandar Muda. Mereka benar-benar menjadi tour guide yang baik. Mereka menemani kami mengerjakan penelitian proyek di dinas pariwisata provinsi, museum provinsi dan situs indra purwa. Sholat subuh di Masjid Baiturrahman yang menjadi simbol religi dan perjuangan rakyat Aceh. Shalat maghrib di Masjid Rahmatullah di daerah Lhoknga yang tetap berdiri tegak walaupun di terjang tsunami. Berkunjung ke Museum Tsunami Aceh, Monumen PLTD Apung, Aceh Thanks the World juga monumen pesawat RI 001 di lapangan Blang Padang. Makan jagung di pantai Ulee Lhue, belanja di Pante Perak, mengitari megahnya Universitas Syah Kuala, menikmati pemandangan di Gunung Geurutee, bermain di air terjun Lhoong dan menunggu sunset di pantai Lampuuk Lhoknga. Sepanjang perjalanan menggunakan motor (red: mobil) tak luput diceritakannya segala hal tentang Aceh. Kami pun dibawa berkunjung ke kedai kopi, untuk minum kopi Aceh yang terkenal itu dan berlama-lama disana, suatu hal yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh.

 

pemulia jamee adat geutanyoe, memuliakan tamu adat kita” kata mereka, para pemuda melayu itu.

Banda Aceh, 21 Februari 2012

Tak Terlukiskan

Bagi mahasiswa yang merantau jauh dari tanah kelahiran, saat-saat libur panjang merupakan saat yang sangat dinanti. H-7 sebelum libur pun biasanya sudah tercium itu bau rumah, apalagi bagi mahasiswa baru. Sering kali muncul istilah, “Udah ga konsen kuliah ini, pikiranku udah keburu di kampung halaman”.

Aku termasuk salah seorang yang merantau untuk menuntut ilmu. Bandung. Sebuah kota yang cukup jauh dari tempat asalku, Jember. Butuhkan waktu kurang lebih sehari semalam untuk menuju kesana melalui jalur darat, baik menggunakan bis ataupun kereta api.  Saat-saat pulang kampung benar-benar menjadi saat yang dinanti. Biasanya aku pulang tiga kali dalam setahun. Libur tahun ajaran baru, libur idul fitri dan libur semster-tahun baru. Ternyata orang-orang di rumah pun, ayah, mama, kakek, nenek, adik-adikku juga rindu kepulangan anak tercintanya ini (hhe). Namun seiring berjalannya waktu, intensitas pulang semakin berkurang, seperti di tingkat 4 ini, pulang hanya ketika Idul Fitri. Karena libur sisanya dipakai untuk magang dan menyelesaikan skripsi disamping juga karena cenderung mulai merasa betah di Bandung.

Kali ini adalah saat paling lama aku tidak pulang ke jember, kurang lebih  sudah tujuh bulan. Di keluargaku, yang tidak terbiasa dengan budaya merantau, tujuh bulan itu adalah saat yang cukup lama. Sudah beberapa kali mama menelepon menanyakan kapan pulang. Kangen. Kepulangan kali ini aku memilih naik bis. Sepanjang perjalanan memori-memori  selama 3,5 tahun di Bandung mengalir begitu saja. Ya. Kepulangan kali ini sedikit berbeda karena ini juga sebagai detik-detik melepas status mahasiswa.

Ketika pulang, aku paling suka saat-saat dimana ayah, mama, adik dan nenek sudah menunggu di depan rumah menyambut kedatanganku. Jadi merasa begitu spesial. Mungkin itu salah satu bentuk ekspresi kebahagiaan ketika bertemu anak yang sudah lama ga pulang. So sweet kalo kata anak muda jaman sekarang. Hhe.

Pertanyaan yang keluar pun hampir sama setiap waktu pulang:

Mama: “kok tambah kurus kamu dil, sering lupa makan tah disana?”

Nenek: “berangkat jam berapa dari bandung? Sudah makan belum??”

Ayah: “apa kabar?” Pernah juga “sudah jadi menteri Indonesia kamu” sembari tertawa.

Adek: “mana mas oleh-olehnya?”

Aku perhatikan, dalam setiap kepulanganku, perlahan tapi pasti aku melihat raut wajah yang mulai menua dari kakek dan nenek, begitu pula orang tuaku. Tubuh yang mulai termakan usia. Dan kali inilah yang paling terasa, setelah tujuh bulan tidak bertemu, perubahan itu tampak semakin jelas. Satu hal lagi yang kuperhatikan, bahwa selama aku kuliah mereka hidup dengan sederhana. Ngirit disana-sini, tampaknya sebagai imbas dari harus membiayai pendidikan anaknya yang tidak sedikit. Rasa bersalah juga muncul ketika ingat, di rantau gampang sekali menghamburkan uang untuk hal-hal yang kurang penting padahal rupiah itu didapatkan dengan susah payah bahkan mungkin harus berhutang dan menjual barang-barang di rumah. Rasa penyesalan itupun timbul, kenapa selama ini hanya perhatian sisa yang diberikan pada keluarga, setelah waktu kuliah dan organisasi. Sering kali mama menelpon, menanyakan “Kok lama ga ada kabar. Sibuk apa sekarang?”

Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan ketika tiba di rumah, selepas mandi dan makan, adalah kami berkumpul di ruang tamu. Semacam sesi presentasi hal-hal apa saja yang sudah aku lakukan selama di Bandung. Orang tuaku menyiapkan telinga selebar-lebarnya untuk mendengar ceritaku. Campuran antara ekpresi bangga dan tidak mengerti ketika aku bercerita tentang organisasi yang kuikuti semasa kuliah: GAMUS, KARISMA, FIM. Tertawa ketika mengetahui bisnis yang kurintis belum menjanjikan keuntungan, karena masih pailit. Namun ekspresi kebahagiaan yang paling nampak adalah cerita mengenai skripsiku yang sudah selesai, menunggu sidang, wisuda bulan mei yang menjadi kesempatan untuk berkunjung pertama kalinya ke Bandung, dan rencana menjadi tenaga outsource di RnDC Telkom sembari menunggu wisuda.

Ketika aku minder dengan kawan yang sudah punya bisnis dan penghasilan sendiri. Ketika aku iri melihat prestasi teman teman yang sudah berkiprah di kancah nasional dan internasional. Ketika aku ingin seperti orang lain yang sudah berbuat banyak untuk bangsa dan umat ini. Ketika aku merasa belum berbuat apa-apa, ternyata mereka tidak peduli dengan itu. Yang mereka pedulikan adalah apa saja yang sudah aku lakukan, prestasi yang masih sedikit itu, tapi orang tuaku sangat mengapresiasi hal itu. Sungguh. Perhatian itu, apresiasi itu menjadi sangat berarti. Berarti untuk kembali membesarkan jiwa ini.

Ternyata orang tuaku hanya ingin melihat anaknya menjadi orang yang baik, sholeh dan bisa hidup mandiri. Membuat bangga keluarga. Mengembalikan kejayaan keluarga besar. Hanya itu. Tapi untuk hal itu, aku masih harus berjuang keras mewujudkannya. Belum lagi tentang mimpiku untuk membuat bangsa dan umat ini lebih baik. Hm. Tampaknya masih banyak sekali yang harus dikerjakan. Bahwa semua yang kulakukan masih belum apa-apa. Aku menjadi semakin percaya dengan kalimat itu, “Kewajiban yang harus kita lakukan lebih banyak dari waktu yang tersedia”.

Sekarang ketika baru lima hari di rumah, ada panggilan untuk membantu proyek di luar pulau. Aku tahu, rasa kangen orang tua belum semuanya tersalurkan. Aku juga masih ingin berada lebih lama lagi di rumah. Apalagi pagi ini juga sepupuku baru lahir, pasti keluarga pada ngumpul. Namun orang tuaku, yang dikatakan orang tuaku sangat menenangkan hati “ Udah kamu ambil aja tawarannya. Buat nambah pengalamanmu. Mumpung masih muda juga.. yang di rumah gapapa kok”

“Ya Allah .. Aku sangat bersyukur karena kau telah memberikan orang tua yang luar biasa.. yang tulus mencintai dan berkorban demi anak-anaknya Bagaimana cara untuk aku bisa membalas semua kebaikan mereka ya Rabb? Sesungguhnya Hanya Engkaulah Yang Maha Sempurna dalam memberi balasan ..

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku.. dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sewaktu kecil

Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaarobbayaani saghiira ..”

Juanda Airport, 18 Februari 2012

Hikmah di sudut jalan

Di pagi hari yang cerah itu  aku sedang berjalan- berjalan untuk mencari sedikit udara segar. Ketika sampai di suatu sudut jalan, terlihat ada pemandangan yang menarik, yang mengusik rasa penasaran di hati ini. Tampak dua orang yang sudah sepuh,  sedang sibuk menyiapkan sesuatu.  Mungkin usianya sudah kepala enam atau bahkan lebih.

Perlahan aku dekati mereka. Oh, bapak itu ternyata sedang sibuk menaruh adonan di tungku kayu, dan mengangkat adonan yang sudah matang menjadi serabi. Sedangkan ibu yang disampingnya, tampak merapikan layout dari lapak mereka. Ya. Ternyata mereka suami istri penjual serabi.

Lalu aku hampiri mereka. Sembari kucoba serabi buatan bapak itu, serabi oncom, aku pun memulai percakapan:

“Bapak sama ibu’, sudah lama jualan di sini?”

Sambil tersenyum bapak itu menjawab, “Sudah lama sep,”

Kemudian bapak itu menengadahkan pandangan ke langit, tampak sedang mengingat sesuatu, kemudian berkata“Bapak jualan serabi ini dari tahun ’ 80an.”

“Wah, sudah lama banget ya Pak.. berarti kurang lebih sudah 30 tahun.” jawabku terheran-heran.

Muhun sep, sejak lapangan ini dulunya masih ditanami enceng  gondok  (sambil menunjuk ke arah lapangan basket di seberang jalan), perumahan KPAD ini dulunya juga masih sawah sep ..” ujar ibu’ sambil tersenyum.

Kumaha enak serabinya? Itu ibu’ juga buat peyek udang di toples kaleng, mangga di coba sep..” lanjut ibu’ sembari menunjuk ke arah toples.

muhun bu’ “

Kemudian aku ambil peyek yang ibu’ tawarkan tadi, peyek udang. Rasanya enak, udangnya banyak.

Batinku, bapak-ibu ini sudah puluhan tahun berjualan, tapi kondisi usahanya dan ekonomi mereka masih saja kayak gini. Sederhana.

Aku tatap kembali mereka, bapak yang kembali menuangkan adonan dan ibu menata serabi yang telah matang. Tampak mereka menikmati sekali pekerjaannya. Kembali aku bertanya,

“ Punteun Pak, dari jualan serabi ini apa cukup buat beli kebutuhan bapak-ibu sehari-hari, sama kebutuhan anak-anak juga?” tanyaku.

“Cukup ko sep. Kalo bapak mah, berapapun dapetnya bapak syukuri.  Alhamdulillah juga bapak sama ibu masih sehat, masih bisa jualan sampe sekarang. Anak-anak juga bisa sekolah dan nurut sama orang tua. Itu udah lebih dari cukup.” jawab bapak sambil tersenyum.

Ibu’ juga tersenyum dan mengangguk-angguk mengiyakan jawaban bapak.

“Oh gitu ya pak” aku pun ikut tersenyum.

Aku terenyuh dengan jawaban bapak tadi. Kembali tersadarkan, bahwa kebahagiaan itu tidak selalu diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Mungkin bukan juga jabatan, atau status sosial .. Tapi kebahagiaan itu ada di hati, hati yang selalu bersyukur. Seperti yang dilakukan oleh bapak ini. Yang dengan rasa syukurnya, hal apapun jadi indah, akan menjadi bahagia.

“Jadi berapa bu’? tadi serabinya dua sama peyeknya dua.”

“Jadi tilu rebu sep.”

Lalu setelah selesai membayar aku pamitan

“Hatur nuhun Pak hatur nuhun Bu’ .. saya pulang dulu ”

Sami-sami, mangga sep..” jawab bapak-ibu’ bersamaan.

“Terima kasih bapak dan ibu penjual serabi. Yang sudah jadi jalan hikmah. Yang kembali mengingatkan bahwa bahagia itu ada di hati, hati yang selalu bersyukur”. Gumamku dalam hati. 🙂

 Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian.
(Nabi Muhammad SAW)

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.”
(
 QS. Ibrahim : 7)

Point of View

Ketika membuka buku catatan lama, kalimat singkat ini yang paling menarik perhatian saya:

“Setiap orang, tua muda, kaya tua, pasti memiliki masalah
Cara pandang yang benar, membuat kita berbeda dalam menyikapi masalah

Senang > syukur = kebaikan
Susah > sabar = kebaikan

Dan hidup itu indah, jika segalanya karena Allah. :)) “

daun berserakan

 

 

Pandanglah dirimu sendiri
Kau sesungguhnya luhur
Renungkanlah, coba pikirkan dari mana datangmu
Dan mengapa engkau dalam penjara ini sekarang
Jadilah penentang berhala bagai Ibrahim yang berani
Ada maksud engkau dicipta berupa itu
Sungguh malu andai kau telantarkan maksud penciptaannmu …

(Nashir I-Khusran)